Inilah persembahan cinta pasangan suami-istri dari pelosok negeri; mulai dari kawasan jambrut khatulistiwa, Hongkong, Singapura hingga daratan Eropa, Perancis. Mulai dari lakon cinta yang putus sambung saat pe-de-ka-te, tapi selalu mesra, selalu cinta, dan selalu kasih setelah menikah, hingga romansa antar benua yang begitu banyak perbedaan, dan justru itulah yang terindah.“Tidak ada di kamusku berpoligami. Sulit untuk berlaku adil di zaman sekarang, Sayang. Engkaulah perempuan satu-satunya dalam hidupku.” (Patrick Monlouis-Perancis)“Istriku sangat suka memberi orang-orang terdekat dengan kado-kado cantik. Sinar bahagia memancar dengan tulus dari wajahnya. Itu sungguh keindahan tersendiri bagiku.” (Alfi Rahman-Aceh)”Aku teringat awal pertemuan kami dalam sebuah produksi film dakwah. Ada debar di hati, kutepis perasaan ini. Enam tahun selisish usia kami... Jika boleh memilih, betapa aku ingin yang menshalatkan, mengkafani dan mengantarku ke tempat peristirahatan terakhir adalah suamiku.” (Anneke Puteri-Cibubur)”Hanya tiga hari setelah pertemuan jarak jauh kita, aku mendengar lagi suaramu lewat telepon. Dengan nada gemetar kau berkata; aku ingin menikah denganmu...” (Yudith Fabiola - Singapura)