Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Selasa, 22 Mei 2012/1 Rajab 1433 H : Imsak 4:26:52 - Shubuh 4:33:16 - Terbit 5:55:13 - Dzuhur 11:49:37 - Ashar 15:11:37 - Maghrib 17:44:03 - Isya' 18:57:30 WIB

Penulis Topik: RT/RWnet (Hardware)  (Dibaca 5589 kali)


Offline ibnu arifin al bakasiy

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2008
  • Tulisan: 1.264
  • Lokasi: BI&JB|Aqidah|DDI|Bekacung|AVG
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • Abu Musa Al Bakasiy
« Jawab #90 pada: 24 Juli 2009, 14:18:24 »
MyQuran mau ngadain workshopnya ndak di jakarta atau bekasi?
Ditunggu nih!
Allahummaghfirlaha warhamha wa 'afihi wa fu'anha

Offline Revolusioner

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.694
  • Lokasi: JAKARTA-BEKASI
  • Jenis kelamin: Pria
  • Just My Two Dinham <(^_^)>
    • Lihat Profil
    • RADIO DAKTA 107 FM
« Jawab #91 pada: 24 Juli 2009, 21:09:07 »
Skema Simulasi Memperluas Jangkauan RT/RW-Net


gambar di atas adalah skema model simulasi terakhir

Dari skema simulasi terakhir bisa kita lihat dan rangkum dari cara untuk memperluas jangkauan Rt/Rw-net;
1. Untuk P2MP bisa dengan AP WiFi dengan antena high gain (sectoral), jangkauan idealnya hingga 3km maksimal sekitar 5km
2. Untuk jarak klien lebih dari 5km maka lebih baik dengan model P2P, dengan AP dengan antena high gain (sectoral) seperti grid/parabolic atau radio WLAN outdoor antena built-in high gain. Umumnya sudut pancaran antena untuk P2P jarak jauh < 45°.
3. Untuk mengkoneksi klien dengan jarak lebih dari 5km umumnya diperlukan sebuah tower atau kalau perlu membangun BTS Repeater baru agar sinyal radio WLAN bisa diterima dengan baik (LOS) dan bandwidth internet bisa disebar lagi ke wilayah sekitarnya.
3. BTS yang berfungsi sebagai Repeater hanya sekedar memperpanjang AP dari server BTS utama. Seluruh radio AP di BTS repeater termasuk juga radio WLAN klien yang terhubung ke BTS Repeater ini umumnya bisa diremote dari PC admin/Operator di BTS Server.
4. Manajemen bandwidth internet dan pemberian IP address klien yang terhubung ke BTS repeater tetap berada sepenuhnya di BTS server utama.
5. 4 buah line koneksi internet dari BTS utama ke ISP dengan media yang berbeda-beda bisa digunakan bersamaan sekaligus untuk mensharing bandwidth internet ke semua klien lewat PC router.
6. Idealnya sebuah RT/RW-Net cukuplah untuk sekedar melingkupi wilayah untuk radius 1km-5km, disamping agar biaya perawatan BTS dan di klien tidak besar dan mudah aksesnya, dibalik itu semua juga ada semangat untuk berbagi dengan masyarakat untuk mendirikan BTS rt/rw-net di lingkungannya sendiri dan menyalurkan di wilayahnya masing-masing untuk mempercepat akses internet broadband dari wilayah urban ke suburban hingga ke wilayah rural.

Sementara itu dulu klo ada tambahan bisa ditambahkan. O0

untuk kelebihan dan kekurangan model skema ini, belum terlalu saya pikirkan %peace%

Lanjut...
Kisah ini berakhir dengan bahagia. Akhirnya setelah beberapa minggu proyek disetujui dan tidak sampai sepekan seluruh proyek ini berhasil dengan cukup memuaskan. Untuk beberapa bulan ke depan upah saya beserta 2 rekan teknisi saya direkomendasikan untuk naik lagi, cukuplah untuk menambah tabungan modal saya untuk menikah... alhamdulillah. :topOK:

catatan:
Kisah fiksi ini terinspirasi oleh perjuangan si TS dalam mengarungi samudra kehidupan :hihi: %peace%

boleh bersambung... boleh juga tamat :D
« Edit Terakhir: 24 Juli 2009, 21:13:26 oleh Revolusioner »
"Perjuangan itu penuh peluh dan darah namun terasa penuh hikmah dan nikmat jika dihadapi dengan syukur dan sabar."

Offline HaDeN

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2009
  • Tulisan: 511
  • A Mysterious Guy
    • Lihat Profil
« Jawab #92 pada: 24 Juli 2009, 21:11:50 »
MyQuran mau ngadain workshopnya ndak di jakarta atau bekasi?
Ditunggu nih!
bung ibnu arifin, dulu pernah ada rencana myqers buat nyulik TS alias scorpie buat workshop...
cuma ga tau dah berhasil lom tuh :D
TAK GEMBYANG KEMANA-MANA...

Offline Revolusioner

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.694
  • Lokasi: JAKARTA-BEKASI
  • Jenis kelamin: Pria
  • Just My Two Dinham <(^_^)>
    • Lihat Profil
    • RADIO DAKTA 107 FM
« Jawab #93 pada: 27 Juli 2009, 11:27:57 »
Alhamdulillah akhirnya kita masih diberi kesempatan bertemu lagi...  :ehm:
Kali ini saya mo melanjutkan sedikit kisah tentang RT/RW-net ini.

Jaringan Super RT/RW-Net

Apa sih sih jaringan Super RT/RW-net itu? Yang pasti bukan RT/RW-net yang dikendalikan oleh admin Superman atau superhero lainnya :hihi:
Sebenarnya ini hanya istilah saya untuk menggambarkan kemampuan sebuah RT/RW-Net dalam hal jangkauan  operasional dan pusat dari sebuah jaringan yang besar atau bisalah kita sebut WAN (Wide Area Network) didorong dengan semangat gotong-royong. :topOK:

Jadi begini, kita langsung bermain dengan contoh simulasi saja biar mudah. Misalkan saya mendapatkan proyek untuk membangun sebuah BTS RT/RW-net di kecamatan Bekasi Selatan termasuk dalam wilayah kota Bekasi. Rencananya apabila BTS RT/Rw-Net berhasil dengan baik, maka kemungkinan BTS RT/RW-net ini akan menjadi pusat bandwidth internet broadband yang akan disalurkan melalui beberapa titik ke luar kota, dari kota bekasi menuju Karawang. Hal ini dikarena titik-titik yang akan disebar ini merupakan wilayah sub-urban dan rural yang koneksi akses internet broadband masih belum memadai infrastruktunya. Ada 3 buah titik yang akan disalurkan bandwidth internet rencana akan dibangun server untuk masing2 titik. Jarak titik pertama 12km dari BTS RT/RW-Net di kota Bekasi. Titik 2 berjarak 10km dari titik 1, sedangkan titik terakhir berjarak hingga 15km dari titik 2 di wilayah Karawang.

Maka saya merancang sebuah model topografi sederhana dari BTS RT/RW-Net dan BTS-BTS di ketiga titik sebaran tersebut.


contoh model topografi BTS RT/RW-Net.

Dari model topografi di atas, skenarionya adalah BTS-RT/RW-Net di kota Bekasi adalah sebagai pusat server bandwidth internet broadband, karena di wilayah ini mudah saja menemukan provider yang menawarkan akses internet broadband dengan media yang beraneka ragam seprti via ADSL, WiFi, TV Kabel, 3G/3.5G/HSDPA, dan yang lainnya. Namun tidak dengan wilayah yang akan dibangun BTS-BTS repeater. Bandwidth internet ini akan disebar ke 3 titik BTS yang menuju wilayah Karawang.
Sedangkan untuk model 3 titik BTS yang akan disalurkan bandwith memiliki model sebagai berikut:


contoh model topografi 3 titik BTS yang akan disebar.

Dari model topografi di atas, skenarionya BTS-BTS ini akan saling bersambung sebagai Repeater untuk menyalurkan bandwidth internet dari dari wilayah perkotaan hingga ke wilayah daerah kabupaten yang tidak terlalu padat penduduknya. Setiap BTS diberikan kemandirian untuk memilik server masing-masing untuk mensharing kebutuhan bandwidth internet di wilayahnya masing-masing. Sebagai tambahan akan lebih baik jika tiap-tiap BTS memiliki koneksi internet cadangan yang apabila sumber dari BTS di Bekasi bermasalah.

Untuk pembahasan biaya masing perangkat untuk tiap-tiap BTS, rekan-rekan bisa melihat simulasi-simulasi sebelumnya sebagai refernsi. Untuk sekarang kita akan melihat bagaimana kita bisa memanajemen sumber bandwidth internet yang besar dari berbagai media yang disalurkan dari ISP (sisi hardware tentunya).

Router Load Balancer

Apa itu Router Load Balancer? Adalah router yang mempunyai fitur "load balancing". Prinsip sederhanya yaitu menggabungkan bandwidth dari beberapa gateway WAN (internet) untuk bisa disalurkan ke gateway keluaran LAN. Fitur ini biasanya sekaligus melakukan fungsi "fail over", arti sederhana fitur ini yaitu apabila ada gateway dari jalur WAN yang terputus, maka gateway dari jalur WAN yang lain akan tetap berfungsi menyalurkan bandwidth internet ke LAN (tetap routing ke gateway WAN yang aktif).
 
Mengapa kita perlu Router Load Balancer ini?
KLo kita lihat model topografi simulasi RT/RW-net dalam kasus ini, terlihat bahwa BTS di bekasi sebagai sentral bandwidth internet dari banyak gateway... tentu saja perlu penanganan khusus untuk mengatur bandwidth-bandwidth ini agar lebih mudah untuk menyalurkannya ke BTS-BTS lain, dan tentu saja juga berpengaruh pada kecepatan akses internet. Apalagi jika sewaktu-waktu ada 1 atau beberapa gateway internet tiba-tiba putus, tentu sebagai admin akan agak kerepotan, jika harus mengganti secara manual gateway-gateway internet ke klien kita.

Umumnya ada dua jenis model Router Load Balancer yang bisa kita gunakan.

1. Router Load Balancer Built-in
Router jenis ini adalah router buatan pabrikan yang di mana hardwarenya sudah terisi dengan firmware (software) yang siap untuk digunakan, dan tersedia dengan berbagai merk.



contoh model-model Router Load Balancer built-in

Harga router built-in ini sekitar mulai dari di atas 1 juta rupiah hingga ada yang mencapai 6 juta bahkan bisa jadi ada yang lebih dari itu. :toe:
Umumnya slot untuk ethernet (LAN Card) untuk WAN 2-4 slot, ada juga yang ditambah dengan slot USB dan lain-lain.


2. PC Router Load Balancer

Ya, terlihat dari istilah namanya model router ini, untuk menunjukkan bahwa Router Load Balancer ini adalah sebuah PC yang di install dengan OS yang memiliki fungsi khusus dan fitur-fitur yang lengkap untuk berfungsi sebagai Router Load Balancer. Contoh OS yang sering digunakan belakangan ini adalah Mikrotik RouterOS, Vyatta (termasuk distro turunan linux) maupun distro-distro linux yang lain.

Harga PC Router ini tentu bisa lebih murah dari jenis Router Load Balancer yang pertama, dengan menggunakan PC model lama sekelas PIII yang diinstall dengan OS khusus router seperti Mikrotik RouterOS, Vyatta atau yang lain, tentu relatif lebih murah namun kemampuannya tidak murahan karena bisa setara dengan model Router Load Balancer Built-in.


dengan MOBO PC+OS khusus Router kemampuannya bisa setara bahkan bisa lebih baik dari Router Built-in.

Dengan PC Router Load Balancing kita juga mampu menggabungkan bandwidth internet dengan berbagai macam media, seperti ADSL, 3G/3.5G/HSDPA, Cable TV, WiFi dan lain-lain.
Itulah sekilas tentang Router Load Balancer, sedangkan apabila rekan-rekan ingin melihat contoh bagaimana distro-disro OS untuk menghasilkan fungsi load balancer bisa coba mampir2 kesini :D

Load Balancing dengan Mikrotik
Load Balancing dengan Vyatta
Load Balancing dengan Ubuntu Linux    
Loadbalance multiple gateway dengan mikrotik!!!  by Scorpie (TS)



contoh besar bandwidth dari ISP dengan teknologi 3.5G (normal tanpa load balancing)


contoh hasil load balancing dari beberapa gateway internet dari ISP dengan media ADSL

Dari besar bandwdith di atas, coba anda bayangkan berapa besar bandwdith maksimum yang bisa dihasilkan dengan load balancing dari banyak gateway internet dari simulasi ini untuk disebar kepelosok. O0

bersambung... insya Allah


Posting Digabung: 27 Juli 2009, 11:18:44


Sekedar sedikit tambahan...

masih ada satu cara lagi dari sekian banyak cara untuk menyalurkan bandwidth ke wilayah-wilayah yang sulit untuk mendapat kucuran akses internet broadband, yaitu dengan memanfaatkan fitur tunnel VPN.

sedikit penjelasan mengenai VPN

Kutip
VPN

Virtual Private Network  atau VPN adalah suatu jaringan pribadi yang dibuat dengan menggunakan jaringan publik, atau dengan kata lain menciptakan suatu WAN yang sebenarnya terpisah baik secara fisikal maupun geografis sehingga secara logikal membentuk satu netwok tunggal, paket data yang mengalir antar site maupun dari user yang melakukan remote akses akan mengalami enkripsi dan authentikasi sehingga menjamin keamanan, integritas dan validitas data.  VPN terbagi pada tipe Site to Site dan Remote Access. Tipe-tipe protokol yang digunakan antara lain IPSec, PPTP dan L2TP.

Untuk lebih jelas memahami dan melakukan konfigurasi dalam membuat VPN, mari kita ikuti studi kasus dibawah ini.



lebih lengkapnya silakan mampir ke sumber:
VPN Remote Access dan Site to Site dengan Vyatta

atau bisa juga baca ini:
Virtual Private Network (VPN) sebagai alternatif Komunikasi Data
Pada Jaringan Skala Luas (WAN)


Intinya begini, ini sekedar contoh dari sedikit penjelasan TS tentang fitur tunnel VPN yang bisa sedikit saya jabarkan dengan contoh skenario:
Saya ingin mengalirkan bandwidth internet dari Bekasi sebesar 1 Mbps ke sebuah titik jaringan SOHO katakanlah sebuah kantor di wilayah Bandung. Saya tidak perlu membuat infrastruktur seperti simulasi-simulasi sebelumnya yang membangun BTS-BTS yang berfungsi sebagai repeater yang saling bersambung ke arah Bandung dari Bekasi, karena tidak ekonomis alias relatif sangat mahal dan tidak efisien. :D

Tapi saya menggunakan fasilitas tunnel VPN dari router yang saya miliki di jaringan BTS RT/RW-net di Bekasi via internet, untuk mengalirkan bandwidth internet. Karena hal ini maka klien SOHO di Bandung tetep harus memiliki jalur bandwidth internet paling tidak jalur internet lokal IIX minimal sebesar bandwidth yang akan disalurkan. Bisa dibilang sekilas sepertinya sama saja, karena sudah memiliki bandwidth internet kenapa harus dikirm lagi dari tempat lain karena tidak menambah bandwidth yg ada di titik klien? Memang terlihat tidak berguna tapi biasanya hal ini dimanfaatkan oleh para pelanggan yang hanya memiliki jalur internet lokal/IIX (Indonesia Internet eXchange) yang dedicated, karena bandwidth IIX harga jualnya umumnya jauh lebih murah dengan bandwidth internasional yang dedicated (simpelnya bandwidth dedicated itu kecepatan bandwidth internet upstream maupun downstream sama besar alias simetris). Jadi bandwidth untuk jalur internasional yang dikirim dari server VPN besarnya simetris untuk upstream dan downstream. Kurang lebih sekilas infonya seperti itu. :D

Menyalurkan Bandwidth internet ke seluruh Nusantara
Jadi intinya dengan fitur ini pada sebuah Router jaringan internet, mempunyai keuntungan untuk memiliki peluang menyalurkan bandwidth internet simetris dedicated ke tempat-tempat yang jauh. Walaupun server RT/RW-Net berada di Bekasi dan anda berada di pinggiran sungai Barito, Banjarmasin, atau berada di hutan Irian ataupun berada dekat pembuangan lumpur Lapindo di Sidoarjo, asalkan anda memiliki jaringan internet IIX, tinggal panggil nama ane 7 kali, dijamin insya Allah kagak bakal ada apa-apa ;D


contoh konsep atau skenario komunikasi WLAN dari wilayah perkotaan ke pedesaan.

Itulah sedikit tambahan tentang membangun jaringan RT/RW-net super, ya mungkin istilah ini berlebihan, tapi gpplah hanya sekedar istilah yang gampang diingat saja.  :)
Dan kalaupun ingin mengetahui lebih jauh tentang RT/RW-Net Super, TS adalah salah satu praktisi yang pernah mempunyai konsep seperti ini, hanya sedikit permasalahannya beliau yang ane ketahui, di wilayah Bandung untuk saat ini masih kurang banyak pilihan untuk mendapatkan bandwidth yang murmer (murah meriah). %peace%

sekian terima kasih dari saya dan selamat bereksperimen. :topOK:
« Edit Terakhir: 27 Juli 2009, 11:57:51 oleh Revolusioner »
"Perjuangan itu penuh peluh dan darah namun terasa penuh hikmah dan nikmat jika dihadapi dengan syukur dan sabar."

Offline Revolusioner

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.694
  • Lokasi: JAKARTA-BEKASI
  • Jenis kelamin: Pria
  • Just My Two Dinham <(^_^)>
    • Lihat Profil
    • RADIO DAKTA 107 FM
« Jawab #94 pada: 20 Agustus 2009, 08:49:47 »
Anggapan Salah Tentang WiFi

1. Power Besar akan menghasilkan jarak yang lebih jauh.
Anggapan ini keliru besar, karena Wireless bersifat dua arah, pemancar dan penerima. Selain Daya pancar (Tx Power) yang besar, dibutuhkan juga Penerima yang sensitif (Receiver Sensitivy). Oleh sebab itu, dalam memilih sebuah Radio wireless, selain Daya pancar (dalam satuan mWatt atau dBm -> 200 mWatt = 23 dBm), di perhatikan juga Sensitifitas Penerima (Contoh: Senao 2611: -89dBm @ 11Mbps, Orinoco Gold 802.11b "Classic" -82 dBm @ 11Mbps, Linksys WRT-54 -89 dBm @ 11 Mbps, Belkin F5D6020 -76dBm @ 11Mbps). Ini yang menyebabkan walaupun Linksys WRT-54 dengan Firmware DD-WRT bisa di set hingga TX Power 251 mWatt tetapi daya jangkau tidak akan sejauh Senao 2611-CB3+ (Sensitifitas Penerimaan Senao unggul 9dB! artinya sama dengan perbedaan 100mWatt dengan 800mWatt, sedangkan pada power 251mWatt Linksys WRT-54 membawa Noise level yang cukup tinggi)

2. Booster (penguat daya) akan selalu menambah jarak jangkau
Sama dengan butir 1, tidak selamanya besar. Menambah daya pancar dengan booster, juga akan memperkuat Noise. Seringkali dengan penambahan Booster sebaliknya akan memperpendek jarak jangkau. Yang perlu diperhatikan adalah Rasio Sinyal terhadap noise (S/N/ ratio), yang harus dipertinggi adalah Rasio Sinyal terhadap Noise. Oleh karenanya, lebih baik meningkatkan Penguatan (Gain) antenna (karena bersifat resiprokal: Pancar dan Terima)dan relatif tidak memperbesar Noise.

3. Antena Omni 15 dB akan memiliki jarak jangkau yang sama dengan Antena Directional 15 dB
Dalam hal di udara tidak ada pengguna lain (frekuensi benar-benar kosong), hal ini berlaku. Tapi dalam kondisi umum, di mana penggunaan frekuensi sudah sangat padat, Antena Directional akan jauh lebih baik, karena beamwidth yang lebih sempit.

4. Radio wireless dengan merk yang sama akan memberikan kinerja yang lebih baik
Yang menentukan kinerja sepasang Radio Wireless adalah spesifikasi Chipset yang digunakan (Misalnya: Atheros, Prism/Conexant, Broadcom, Ralink dll)dan algoritma Firmware yang digunakan (Firmware adalah Software yang ditanam dalam Chipset). Sering terjadi dalam Merk dan Tipe yang sama, sebuah Radio menggunakan Chipset yang berbeda (Contoh: dLink DWL-G510 versi B1 menggunakan Atheros, sedangkan versi C1 yang sekarang beredar di pasaran menggunakan Ralink). Radio yang memiliki Chipset yang sama DAN Firmware yang sama akan memberikan kinerja terbaik.

5. Semakin tinggi antenna dari tanah akan semakin baik
Tidak selamanya benar. Antena Pemancar dan Penerima akan maksimal jika berada pada fokus beamwidth. Pada setiap rancangan Antena terdapat spesifikasi Beamwidth Vertical dan Horizontal, selebar mana (dalam derajad) penguatan akan berkurang 3dB dari titik Focus. Utamanya pada Antena Omni berpenguatan besar diatas 15dBi Beamwidth Vertical hanya setipis 5 derajad, artinya pada 5 derajad dari arah tegak lurus, penguatan akan berkurang menjadi 12 dB dstnya. Hal ini menyebabkan areal di bawah Antenna tersebut nyaris Blankspot pada saat Antena diletakkan 15-25 meter di atas tanah.

6. Semakin tinggi dBi antenna akan semakin baik
Tidak selamanya benar. Mengacu pada point 5 Antena Pemancar dan Penerima akan maksimal jika berada pada fokus beamwidth. Pada setiap rancangan Antena terdapat spesifikasi Beamwidth Vertical dan Horizontal, selebar mana (dalam derajad) penguatan akan berkurang 3dB dari titik Focus. Biasanya semakin tinggi gain antena maka semakin kecil vertikal beamwidth. Hal ini menyebabkan antena grid yg 24dBi akan lebih jelek hasilnya dibanding dengan omni 10dbi jika di akses langsung di bawah antenanya. begitupula dengan antena omni 20dBi akan lebih kecil signalnya jika diakses dengan laptop langsung di bawah tower.  sehingga pemilihan gain antena di sesuaikan dengan kebutuhanya, jika untuk hotspot dan diakses dengan laptop maka pilih antena dengan gain yg kecil. dan jika untuk RT RW Net jarak yg lumayan jauh pilih gain antena yg tinggi.

sumber



contoh beamwidth antena omnidirectional 15 dBi 360° (atas) dan omnidirectional 11 dBi 360° (bawah)

Dilihat dari karakteristik di atas, kita bisa lihat bahwa antena yang gain lebih besar maka sudut pancar vertikalnya makin sempit. Ini berarti jika kita memasang antena omni 15 dbi di atas tower setinggi 15 m maka dipastikan jika anda menggunakan laptop kurang dari < 20 meter atau pas di bawah tower, maka tidak akan konek ke radio AP walaupun sinyalnya cukup bagus terdeteksi di WiFi laptop. Tapi jika anda menggunakan omni 11 dbi yang lebih kecil maka untuk ketinggian di atas masih dalam jangkuan sudut pancar, hingga laptop bisa terhubung dengan AP.


contoh beamwidth antena sectoral 17 dBi 90°

Berbeda dengan antena omni, antena sectoral sudut pancar vertikalnya bisa tegak lurus, jadi jika antena dipasang seperti kasus di atas, klien dengan menggunakan laptop di atas tanah atau lantai bawah masih bisa konek dengan AP walau jarak kurang dari 20m hingga pas di bawah tower.
"Perjuangan itu penuh peluh dan darah namun terasa penuh hikmah dan nikmat jika dihadapi dengan syukur dan sabar."

Offline end user

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2009
  • Tulisan: 172
    • Lihat Profil
« Jawab #95 pada: 14 November 2009, 03:49:04 »
mantau brooo
innamal a'malu binniyat