intinya kita semua harus kembali pada dakwah salafiyyah ahlussunnah wal jama'ah...insya Allah kita akan kuat dan semoga rahmat selalu tercurah pada seluruh kaum muslimin.
Sdr. fei shin muslim dan teman-teman,
Sangat tepat sekali kita kembali pada da'wah salafush sholeh sunnah wal jama'ah. Kita memang perlu serukan hal itu dengan baik, tetapi juga dengan arif sekali. Para shahabat RA telah menunjukkan dengan baik sekali. Saat ini kita semua baru menjelaskan sebuah "gambaran" dari generasi tersebut, kita belum masuk lagi kedalam "hakekat" generasi tersebut, karena karakteristik-karakteristik yang dimiliki kita masih sangat jauh dibandingkan dengan generasi itu.
Generasi tersebut telah mewujudkan ke dalam kehidupan mereka, sedangkana kita masih ke dalam tulisan-tulisan. Meskipun yang dijelaskan sama dengan generasi itu, tetapi karena merupakan "gambaran" dan belum menjadi "hakekat", maka musuh-musuh Islam masih sangat mudah mengalahkan kita. Apakah hakekat itu dapat diperoleh dengan duduk-duduk atau mendengarkan penjelasan-penjelasan di masjid atau kaset? Meskipun kitab para ulama yang ditulis sekarang sudah demikian banyak, bahkan boleh dikatakan bahwa hal itu tidak pernah di jaman Rasulullah SAW dan para Shahabat RA.
Ada yang sangat berbeda dalam belajar kita dengan para Shahabat RA. Kita duduk dan mendengarkan ceramah. Hal itu sudah bagus, bahkan ada contohnya di jaman Rasulullah SAW, tetapi pola itu sangat sedikit jika dibandingkan dengan pengajaran Rasulullah SAW ketika dialog di pasar, ketika dialog di jalan, ketika dialog di rumah, ketika dalam peperangan, ketika musyawarah di luar masjid, dll. Sehingga para Shahabat RA melihat kehidupan itu dengan jelas, dan sangat mudah untuk dipelajarinya. Sedangkan hal itu sekarang menjadi jarang terjadi, sehingga apakah kita sudah menyampaikan dengan usaha da'wah salafush sholeh dilakukan. Masih jauh dari harapan itu.
Bisa dibayangkan saat ini, bagaimana sebuah ucapan seorang ulama mengatakan bahwa kita dilarang duduk-duduk kaum muslimin yang lain, dikarenakan berbeda dalam pandangan lainnya. Dan disampaikan dalil-dalilnya, sedangkan konteksnya boleh jadi berbeda dengan kaum muslimin yang lain dalam kepahaman tersebut. Tetapi apa akibatnya? Sehingga tidak heran, jika akhirnya salam tidak dijawab ketika disampaikan salam; atau juga tidak salaman, ketika diajukan salaman tangan ketika bertemu. Ini sebuah kenyataan, dan ini juga perlu menjadi perhatian bersama, apalagi semuanya dikatakan sebagai bentuk da'wah salafush sholeh itu sendiri. Padahal jelas, jika tidak hati-hati, maka dapat memberikan kerangka tidak tepat dan da'wah salafush sholeh sendiri menjadi menyempit, bukan lagi sebagai Rahmatan Lil 'Alamin.
akhi,ilmu itu sebelum amal dan perbuatan,kata siapa pula dakwah salaf tidak perduli pada persoalan ummat.Mmemang selamam ini dakwah salaf tidak pernah naik ke permukaan karena memang tidak dipublikasaikn lewat majalah/televisi dll.Dna memeang kita dalam berdakwah tidak usah di umumkan kemana-mana,ini bukan bearti anti tekhnologi.Bnyak juga sekarang para juru dakwah salaf mengunakan radio sebagai sarana dakwah.
Duduk2 disini bukan berarti tidak perduli pada ummat tapi,memepersiapkan ilmu untuk di sebarkan pada ummat.Kita pasti bs membayangkan apa yg terjadi bila seorang yg tidak mengerti politik terjun ke dunia politik,pasti kacau balau.Dan ada yg blg bahwa dakwah salaf anti politik,anti jihad,dll.....sesungguhnya ini tuduhan yg tidak benar,demi Allah.Dakwah salaf tidaklah anti politik,jihad dll,sekali lagi memang tdk pernah kelihatan salafi ikut berperang melawan amerika tapi,sesungguhnya meraka ada tp memang tdk pernah dipublikasikan.
Ada baiknya para penuduh itu datang sendiri,tabayun dan bertanya langsung pada yg dituduh.Klao kita mengatakan jgn merasa benar sendiri,sesungguhnya yg berkata spt itu pun merasa dirinya enar sendiri.Sebaiknya katakanlah kebenaran adalah dg mengikuti quran dan sunnah yg shahih dg pemahama salafus shalih.
wallahu'allam.
Sdr. fei shin muslim dan teman-teman,
Yang kami maksudkan bukan seperti yang dianggapkan yang dituliskan. Kita sekarang sudah memasuki babak "gambaran" Islam itu sendiri, sedangkan "hakekat" Islam itu belum muncul di lingkungan kaum muslimin. Sangat tepat sekali, ilmu sebelum amal, sesuai dengan apa yang dijadikan judul oleh Imam Bukhari. Tetapi kita tidak boleh hanya memahaminya secara TEKSTUAL, sehingga "gambaran" Islam itu lebih mencuat sedangkan "hakekat" Islam itu sendiri masih dalam kehidupan kita kaum muslimin.
Judul yang dijadikan Imam Bukhari tersebut sangat filosofis, sehingga kita tidak hanya memahami secara TEKSTUAL.Apakah Imam Bukhari mendapatkan ilmu hanya di masjid, dan mendengarkan saja. Jelas tidak, tetapi beliau belajar dari banyak suasana saat itu. Sehingga karakter perawi yang tidak tepat menurut Imam Bukhari, maka dicantumkan sebagai perawi yang tidak kuat. Begitulah generasi itu mendalami mengikuti jejak generasi sebelumnya.
Kami percaya bahwa para da'i salafi atau juga para mujahid salafi sedang berjuang, apakah itu dalam pertempuran atau apakah itu televisi, atau apakah radio. Bahkan kami sudah dapat perhatikan dalam tulisan-tulisan itu sendiri. Tetapi tetap saja "Hakekat" Islam itu belum wujud, kita masih dalam "Gambaran".
Ini merupakan tantangan bersama, tidak hanya untuk salafi, tetapi juga untuk HT, IM, Usaha da'wah, DDII, dll. Mari kita perhatikan sebuah kenyataan, diterima atau tidak, sudah menjadi sebuah kenyataan dalam kehidupan kaum muslimin itu sendiri. Pernahkah kita perhatikan "Gambaran" Harimau, dan "Hakekat" Harimau, coba apa yang membedakan secara esensinya. "Gambaran" Harimau meskipun menakutkan tidak pernah memberikan rasa takut kepada siapapun, bahkan anak kecil saja berani terhadap "gambaran" harimau itu.
Patung harimau merupakan "gambaran" harimau, tetapi anak kecil saja berani berdiri dan naik "gambaran" tadi. Coba keluarkan "Hakekat" harimau, jangankan anak kecil, orang dewasa saja bisa berlarian kalau "Hakekat" harimau ini lepas dari kadang ketika di kebun binatang. Atau juga misalkan "Gambaran" pisang dengan "Hakekat" pisang, kita tidak akan merasakan nikmat dengan "gambaran" pisang, berbeda dengan "hakekat" pisang, terasa nikmat manis atau pahitnya.
Sama halnya dengan "Gambaran" Islam tadi, meskipun dijelaskan melalui TV atau Radio, atau majalan, itu baru "Gambaran" sedangkan kenyataan "Hakekat"nya belum nampak. Nah itulah manhaj salafush sholeh, manhaj salafush sholeh memahami benar terhadap makna "Gambaran" dan "Hakekat", sehingga mereka menjadi ummat yang terbaik QS 3:110. Sehingga mereka dijadikan sebagai kaum yang menjadi contohan QS 9:100. Masih banyak lagi al-quran menjelaskan generasi itu.
Itulah sebuah "hakekat", bahkan orang-orang di luar Islam sendiri merasakan pengaruhnya dengan "Hakekat" ini tidak hanya dalam bentuk rasa takut, tetapi juga kagum. Dan kita saat ini baru puas dengan "Gambaran" dari "Hakekat" itu sendiri. Oleh karena itu, manhaj salafush sholeh ini bukan milik satu golongan, termasuk salafi yang saat ini gencar menggunakan istilah itu. Tidak sama sekali. Manhaj Salafush Sholeh mempunyai hakekat, sehingga merupakan tanggung jawab bersama untuk mencapainya. Tetapi jika saat ini, Manhaj Salafush Sholeh hanya dijadikan sebuah gambaran, dan kita tidak berusaha bersama untuk mencapainya bersama, maka Kita akan merasa bangga dengan "Gambaran" itu.
Bagaimanakah memulainya?
Pertama sekali, kita harus memahami bahwa manhaj salafush sholeh bukan milik sebagian kaum muslimin, dan kita harus dorong semuanya untuk mengikuti manhaj salafush sholeh. [b/]Kedua[/b], ketika sudah berkenalan dengan generasi itu, kita tidak boleh serta-merta mengatakan bahwa kita dalam manhaj salafush sholeh yang terbaik, sedangkan yang lainnya salah, bahkan tidak termasuk dalam golongan yang selamat, seperti yang banyak sekarang beredar di lingkungan kaum muslimin, apakah itu ucapan para ulama sendiri atau juga murid-muridnya.
Dan ketiga, inilah yang paling sulit di kalangan kaum muslimin saat ini, bahkan dijaman Rasulullah SAW dan para Shahabat RA, bahkan dijaman itu hampir terjadi perang besar antara Aus Khazraj (Baca: silahkan pelajari kisah yang melatar belakangi QS 3:100-105). Kita sebuahnya perlu bangkit untuk saling menghormati dan memuliakan satu sama lain, sehingga saling menuduh dan menghujat tidak berterbangan di lingkungan kaum muslimin.
Sehingga kita memahami bahwa kita mau bersama-sama membangun peradaban kaum muslimin itu di masa depan. Karena mencapai "Hakekat" dari "Gambaran" atau bahkan menjadikannya, merupakan tanggung jawab bersama, tidak hanya satu golongan. Oleh karena itu, dari awal-awal Allah Swt menjelaskan dalam al-quran bahwa Allah akan menguji siapa yang paling baik amalnya dalam kehidupan ini.