Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Selasa, 22 Mei 2012/1 Rajab 1433 H : Imsak 4:26:52 - Shubuh 4:33:16 - Terbit 5:55:13 - Dzuhur 11:49:37 - Ashar 15:11:37 - Maghrib 17:44:03 - Isya' 18:57:30 WIB

Penulis Topik: Konsultasi Kesehatan Bersama Tim Medis MyQuran  (Dibaca 24865 kali)


Offline citra_cute

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2009
  • Tulisan: 414
  • "Ya ALLAH . .. ... "
    • Lihat Profil
« Jawab #690 pada: 12 Oktober 2011, 14:42:35 »
Hb 6,3 gr/l itu sudah lama sieh, kira-kira bulan juni.
Bulab-bulan ini belum cek lagi.
Tapi kalau saya sudah merasa sering sakit kepala, ngantuk berat dan mudah lelah serta muka pucat, saya langsung makan 'ati kambing' dan 'daging merah'.
karena katanya itu bagus untuk meningkatkan Hb.

Engga tau benar apa tidak, tapi makanan tadi cukup berpengaruh memperbaiki kondisi tubuh y drop.

Sebenernya untuk tahu sebab saya bisa 6,3 gr/l itu dari mana ya dok?
Karena saya cek di klinik dkt rumah, jadi tidak dijelaskan atau diperiksa lebih detail.
Kalo pendarahan, engga.
kakurangan bahan produksi, kecacingan dan penyakit lain, saya kurg tahu.
tapi kl smp ginjal, kanker, Kayanya engga sieh.

Saya harus bagaimana ya dok?
Mohon sarannya ya dok.

Syukron :)
"Karena ALLAH semata"

Offline 4511-1

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2007
  • Tulisan: 541
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Anak “INVESTASI AKHIRAT”
    • Lihat Profil
« Jawab #691 pada: 15 Oktober 2011, 10:24:44 »
ada ga ya herbal untuk Leukemia?
Curahkanlah rahmatmu ya Allah, Berkat Al –Qur’an ini
Jadikanlah ia bgi kami, panutan, cahaya petunjuk n rahmat,
Ya Allah ingatkanlh kami andaikan terlupa ayat2 alqur’an. Ajarkn kami dari pdnya yang tak kami tahu, karuniakanlah kami tuk membaca Al-qur’an ditengah kegelapn malam n siang benderang..

Offline IRADNA

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2011
  • Tulisan: 2
  • Jenis kelamin: Wanita
  • myQer
    • Lihat Profil
« Jawab #692 pada: 25 Oktober 2011, 11:16:46 »
untuk citra_cute: saran saya, saat terasa timbul gejala lemah dkk, periksakan ke dokter atau langsung ke laboratorium klinik minta pemeriksaan untuk mengukur Hb jika memang rendah <10 konsultasi ke dokter minta pemeriksaan untuk mencari penyebabnya agar dapat dicari terapi yang tepat. gambarannya akan  diperiksa darah awal untuk menentukan pengelompokan anemianya, trus ditanya/anamnesis untuk mencari berbagai kemungkinan penyebabnya. Mungkin akan ada pemeriksaan lab berikutnya tergantung hasil pemeriksaan awal. Mungkin mesti agak sabar deh tapi sebaiknya juga tidak disepelekan masalah anemia ini. semoga Hbnya tidak rendah lagi ya sehingga tidak perlu priksa2 n terapi...

Offline 4511-1

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Jul 2007
  • Tulisan: 541
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Anak “INVESTASI AKHIRAT”
    • Lihat Profil
« Jawab #693 pada: 07 November 2011, 13:32:27 »
beda centrizine dengan loratadine apa ya?
Curahkanlah rahmatmu ya Allah, Berkat Al –Qur’an ini
Jadikanlah ia bgi kami, panutan, cahaya petunjuk n rahmat,
Ya Allah ingatkanlh kami andaikan terlupa ayat2 alqur’an. Ajarkn kami dari pdnya yang tak kami tahu, karuniakanlah kami tuk membaca Al-qur’an ditengah kegelapn malam n siang benderang..

Offline Abdullah Syamil

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2011
  • Tulisan: 3
  • Jenis kelamin: Pria
  • myQer
    • Lihat Profil
« Jawab #694 pada: 02 Desember 2011, 00:29:08 »
Artikel kontroversial yang tidak diajarkan di sekolah kedokteran

1. Hati-hati Susu Olahan Tidak Baik untuk Kesehatan!
Spoiler untuk tersembunyi:
http://healindonesia.wordpress.com/2008/11/22/hati-hati-susu-olahan-tidak-baik-untuk-kesehatan/
Susu olahan tidak bisa menggantikan keunggulan susu mentah bagi kepentingan kesehatan anak-anak kita. Tidak ada penelitian yang berhasil membuktikan bahwa susu olahan lebih baik dibandingkan susu mentah. Selain itu, adalah mitos jika susu adalah solusi yang tepat untuk menanggulangi osteoporosis dan permasalahan kesehatan lainnya.
Sayang sekali banyak pernyataan tidak benar sering digembar-gemborkan mengenai susu mana  yang terbaik untuk kita. Selalu ditekankan bahwa susu olahan dari proses pasteurisasi adalah standar kesehatan terbaik dan susu mentah itu tidak sehat. Padahal, “umat manusia telah ada jauh sebelum proses pasteurisasi susu ditemukan”, ujar Menteri Pertanian Amerika.
Proses pasteurisasi telah menjadi perdebatan di House of Commons begitu juga dengan saran untuk tidak menjual lagi susu mentah untuk dikonsumsi manusia. Ini berarti peningkatan jumlah pemasangan instalasi mesin olahan yang mahal di tiap supplier, dan itu juga menyebabkan banyak pengusaha  kecil terpaksa gulung tikar dan menyerahkan lahan pasar kepada pengusaha yang lebih besar.
Pasteurisasi artinya pemanasan untuk menghancurkan kuman-kuman penyakit dan mencegah susu asam. Proses ini memerlukan suhu 145 – 150 derajat Fahrenheit selama setengah jam, kemudian menurunkan suhunya ke temperatur suhu tidak lebih dari 55 derajat Fahrenheit.
Sungguh diragukan proses ini berguna dalam menghancurkan kuman-kuman berbahaya. Tapi lebih dari itu, pastuerisasi juga menghancurkan bakteri menguntungkan dan beberapa nutrisi penting.
Dalam usahanya mencegah keasaman susu, susu yang asam justru sangat baik untuk kesehatan dan mudah untuk dicerna. Tapi justru dengan proses pasteurisasi,  bakteri menguntungkan jadi hilang sehingga meningkatkan bakteri merugikan di dalam perut kita. Itulah sebabnya tidak jarang orang-orang mengalami masalah pencernaan sesudah minum susu olahan.
Mitos yang beredar di masyarakat adalah bahwa tuberculosis pada anak disebabkan oleh kuman berbahaya pada susu mentah. Inilah yang menjadi landasan kuat untuk diadakannya pasteurisasi. Namun para ilmuwan telah menguji dan meneliti ribuan sampel susu, juga telah bereksperimen pada ratusan hewan, untuk mencari tahu tentang penyebab tuberculosis pada susu. Dari penelitian tersebut didapati bahwa susu mentah itu sebenarnya BERSIH, lebih berkualitas dibandingkan susu olahan, dan tidak mengakibatkan tuberculosis.
Dalam suatu penelitian selama 5 tahun mengenai penyebaran tuberculosis melalui susu, didapati bahwa selama 5 tahun tersebut, 70 anak rutin diberikan susu mentah dan hanya ada 1 kasus tuberculosis muncul. Sedangkan ketika diberikan susu olahan, muncul 14 kasus tuberculosis pada mereka.
Selain menghancurkan sebagian vitamin A, vitamin B Kompleks, vitamin C dan bakteri menguntungkan pada susu, pasteurisasi juga merubah komponen gula pada susu, yaitu laktosa, menjadi beta-laktosa. Beta-laktosa ini lebih cepat larut dan dengan demikian cepat diserap ke dalam sistem yang membuat anak jadi lapar lagi.
Proses pasteurisasi menjadikan kalsium yang terkandung pada susu susah untuk dicerna. Hal ini menyebabkan kelainan tulang pada anak (rickets), gigi rusak, dan syaraf pun bermasalah karena kalsium sangat diperlukan bagi pertumbuhan anak.
Pasteurisasi juga menghancurkan 20% iodine dalam susu, sehingga mengakibatkan sembelit.
Susu Olahan Mengakibatkan Osteoporosis
Dokter dan ahli gizi pada umumnya menyarankan pasiennya yang menderita osteoporosis untuk mengkonsumsi lebih banyak susu karena anggapan susu mengandung kalsium tinggi. Kedengarannya cukup masuk diakal, tetapi tidak akan berhasil. Orang Amerika dan Eropa Utara mengkonsumsi 800 mg – 1200 mg kalsium sehari, tapi tetap saja mereka lebih menderita osteoporosis daripada orang Asia dan Afrika yang mengkonsumsi 300 mg – 500 mg kalsium per hari.
Penyebab utama osteopororis adalah terlalu banyak mengkonsumsi acidic (pembuat asam) yang berasal dari daging, gula  dan bahan-bahan yang mengandung kimia. Untuk menetralisir keasaman tersebut, tubuh mengambil kalsium (bersifat alkalin) dari tulang.
Apabila kita dengan rutin mengkonsumsi susu olahan sebagai sumber kalsium yang berprotein tinggi, hal ini akan memparah keadaan, karena susu olahan bersifat asam di dalam tubuh kita. Susu olahan akan menyebabkan tubuh kehilangan banyak kalsium.
Para dokter dan  ahli gizi konvensional keliru bila mereka mengatakan bahwa susu olahan (baik itu susu formula untuk bayi, wanita hamil, manula dan segala jenis susu olahan lainnya) adalah sumber terbaik untuk kalsium.
Lebih banyak kalsium bisa ditemukan di biji-bijian (khususnya biji wijen / sesame seeds) dan rumput laut (jenis hijiki). Biji-bijian ini mengandung 14 kali lebih banyak kalsium dari pada susu olahan. Selain itu, biji-bijian ini juga pembentuk alkalin, menyediakan kalsium tanpa membentuk derajat keasaman yang menghilangkan kalsium dari tulang.
Perbandingan Dampak Susu Mentah dengan Olahan Bagi Kesehatan Gigi dan Pertumbuhan Anak
Lancet, hal 1142, tanggal 8 May 1937, tertulis bahwa kemungkinan kerusakan gigi lebih kecil bagi anak-anak yang rajin mengkonsumsi susu mentah dibandingkan mereka yang rajin mengkonsumsi susu olahan (pasteurisasi).
“Dr. Evelyn Sprawson dari London Hospital akhir-akhir ini menyatakan bahwa pada institusi tertentu dimana anak-anak dianjurkan mengkonsumsi susu mentah, mereka ternyata memiliki gigi yang baik dan tidak rusak.”
-Harris, L.J., Vitamins in Theory and Practice, page 224, Cambridge, University Press, 1935.
Fisher dan Bartlett membuktikan dengan perawatan statistik dimana respon tinggi badan terhadap susu mentah ternyata lebih besar dibandingkan susu olahan. Data yang ada menunjukkan  bahwa dari 100% yang dihasilkan oleh susu mentah, susu olahan hanya 66% menaikkan tinggi badan pada anak laki-laki dan 91,1 % pada anak perempuan. Dan dari 100% yang dihasilkan oleh susu mentah dalam menaikkan berat badan anak-anak, susu olahan hanya berhasil menaikkan tinggi badan 50% pada anak laki-laki dan 70% pada anak perempuan.
Susu Olahan Mengakibatkan Sariawan pada Anak
Pottenger dalam penelitiannya di tahun 1937 terhadap bayi baru lahir yang diberikan susu formula baik itu susu bubuk, susu yang dipanaskan, dan susu kaleng, menunjukkan bahwa bayi tersebut menderita masalah pencernaan yang serius, dan ketika berusia 8 bulan menderita asma. Tubuhnya juga sangat kecil dibandingkan bayi-bayi lainnya.
Ada juga penelitian 6 bulan terhadap sekelompok bayi dimana ketika bayi-bayi tersebut diberikan susu olahan, mereka menderita sariawan. Namun ketika pemberian susu olahan dihentikan dan diganti dengan susu mentah, sariawan mereka hilang. Lain halnya ketika dalam waktu yang sama dan jumlah bayi yang sama diberikan susu mentah, mereka tidak menderita sariawan.
Kejadian nyata di Berlin, yang diamati oleh Newmann (Newmann, H., Deutsch. Klin., 7:341, 1904) dan para ahli lainnya, juga memberikan bukti yang meyakinkan akan hubungan susu olahan dengan sariawan. Di tahun 1901, Berlin menjalani program pasteurisasi pada semua susu yang mereka konsumsi. Setelah beberapa bulan, banyak dari bayi-bayi mereka menderita sariawan.  Neumann menjelaskan situasi yang ada sebagai berikut:
“Heubner, Cassel dan saya sendiri menyaksikan hanya ada 32 kasus sariawan dari tahun 1896 sampai 1900, tapi kemudian angkanya tiba-tiba naik di tahun 1901, sehingga pengamat yang sama – tanpa menyebut pengamat lainnya yang jumahnya banyak- akhirnya merawat 83 kasus di tahun 1901 dan 1902.”
Kemudian, diadakanlah suatu penyelidikan terhadap situasi yang ada di Berlin dan pasteurisasi susu pun dihentikan. Hasil dari penghentian pasteurisasi adalah kasus sariawan menurun tajam sebagaimana ia pernah naik sebelumnya.
Kekurangan Susu Mentah
Walaupun susu mentah memiliki kandungan nutrisi yang baik untuk kesehatan kita, ia juga memiliki beberapa kelemahan yaitu hanya bisa bertahan beberapa jam saja dengan suhu ruangan. Dan walaupun disimpan dilemari pendingin, ia hanya bertahan 1-2 hari saja. Sistem pendistribusian di Indonesia tidak memungkinkan susu mentah untuk bisa didistribusikan dengan baik ke konsumen dan dinikmati tepat pada waktunya tanpa kadaluarsa. Selain itu, untuk bisa mendapatkan susu mentah yang hygienis hampir mustahil untuk dilakukan di Indonesia. Lain halnya dengan kondisi di Amerika dan negara maju lainnya, yang memiliki akses susu mentah yang hygienis. Jika Anda mengenal peternak yang bisa memberikan akses susu mentah hygienis, silahkan mengkonsumsi susu mentah. Tapi bagi yang tidak memiliki akses seperti ini, saya anjurkan untuk Anda tidak terlalu mengandalkan susu sebagai minuman yang “HARUS DIMINUM”. Ini termasuk susu bayi formula. Susu olahan memiliki dampak negatif jika dikonsumsi terus menerus, jadi saya anjurkan Anda memiliki pengganti susu seperti misalnya banyak mengkonsumsi sayur mayur atau mengkonsumsi madu murni.
 
Jangan Anjurkan Susu Olahan untuk Merawat Pasien!
Mengetahui kebenaran tentang susu mentah dan olahan, saya tidak pernah menganjurkan atau memberikan susu pada pasien. Pernah saya memiliki pasien bayi berusia 2 tahun yang menderita pneumonia dan malnutrisi, dimana bayi ini seringkali keluar masuk rumah sakit tapi tidak kunjung sembuh juga. Ibu bayi ini tidak bisa mengeluarkan ASI dan sebagai pengganti ASI, saya tidak memberikan susu olahan pada bayinya.
Yang saya berikan adalah madu murni, minyak ikan dan larutan garam laut asli. Makanan sehari-hari untuk anak inipun saya sesuaikan dengan usia, kondisi penyakit, dan golongan darahnya. Dalam waktu satu bulan, ia pun bisa sembuh dari pneumonia dan masalah malnutrisinya.
Selain itu, bayi inipun mulai bisa berjalan dan lincah, dibandingkan sebelumnya ia hanya bisa berjalan dengan kedua tangan sambil menyeret pantatnya.
Di rumah sakit, standar medis konvensional buatan manusia yang menganjurkan  bayi ini untuk diinfus, diberi suntikan yang menyakitkan, dan juga diberi obat-obatan kimia yang mahal dan berefek samping, ternyata tidak mampu memulihkan kesehatannya. Namun dengan penerapan holistik modern yang benar akan manfaat alam ciptaan Tuhan, bayi ini bisa pulih dari segala permasalahan kesehatan dia.
Standar medis konvensional yang juga menganjurkan pemberian susu pada pasien diabetes adalah salah satu bukti kekonyolan lainnya, dimana pasien bukannya sembuh, kondisinya kian hari makin menurun dan akhirnya meninggal. Praktek memberi susu olahan pada pasien yang opname di rumah sakit  adalah standar medis yang konyol, tidak ilmiah dan memperhambat kesembuhan pasien.
Marilah kita belajar dari sejarah dunia dan rancangan Tuhan akan ciptaanNya. Benarkah Tuhan merancangkan manusia dan makhluk mamalia lainnya harus mengkonsumsi susu olahan? Jika ya, itu berarti dari awal penciptaan, semua makhluk mamalia harus minum susu olahan atau pasteurisasi. Toh, para ahli medis konvensional berteori bahwa susu asli-murni mentah tidak baik buat kesehatan dan susu olahan bebas dari bakteri dan bergizi tinggi?!
Benarkah Tuhan juga merancangkan semua mamalia yang telah dewasa harus minum susu supaya sehat? Tentu saja tidak. Anak sapi dewasa saja tidak minum susu induk sapinya, dan tidak pernah sapi itu menderita osteoporosis.
Gunakanlah Hukum Alam yang Tuhan sudah standarkan maka terciptalah keajaiban bagi kesehatan Anda!
 
Link referensi:
http://articles.mercola.com/sites/articles/archive/2003/03/26/pasteurized-milk-part-one.aspx
http://articles.mercola.com/sites/articles/archive/2003/03/29/pasteurized-milk-part-two.aspx
http://www.natural-cancer-cures.com/acidic-condition.html

2. Susu Olahan Menyebabkan Asma, Peradangan, dan Osteoporosis
Spoiler untuk tersembunyi:
15/05/2009 oleh Dt Awan
http://healindonesia.wordpress.com/2009/05/15/susu-olahan-menyebabkan-asma-peradangan-dan-osteoporosis/
Media massa dan lembaga kesehatan konvensional selalu menekankan bahwa minum susu adalah baik untuk kesehatan. Tapi tahukah Anda bahwa susu olahan justru menyebabkan asma, alergi, peradangan, dan osteoporosis? Dr. Hiromi Shinya, salah seorang dokter holistik modern yang terkenal dikalangan para gastroenterologist dan ahli bedah seluruh dunia, membeberkan “rahasia” ini kepada kita.
Dr. Shinya, menjabat sebagai Profesor Klinis Pembedahan di Albert Einstein College of Medicine, New York City dan sebagai Kepala Unit Endoskopi Bedah di Beth Israel Medical Centre. Sebagai seorang dokter dengan prestasi yang gemilang di komunitas medis, ia melihat banyak kesalahan-kesalahan dalam standarisasi ilmu pengobatan medis konvensional dan kemudian setelah ia mengadakan banyak pengamatan dan beribu uji klinis pada pasien-pasiennya, ia pun beralih ke metode holistik karena telah mendapati kebenaran dibalik pengobatan secara holistik.
Dr. Shinya mengungkapkan, kesalahan yang sering terlihat di rumah sakit yaitu pasien seringkali diberikan susu dalam diet mereka selama rawat inap. Nutrisi utama yang ditemukan dalam susu adalah protein, lemak, glukosa, kalsium, dan vitamin. Susu memang sangat populer karena mengandung banyak kalsium dan dianggap dapat mencegah osteoporosis.
Namun sesungguhnya, tidak ada makanan lain yang lebih sulit dicerna daripada susu. Kasein, yang membentuk kira-kira 80% dari protein yang terdapat dalam susu, langsung menggumpal menjadi satu begitu memasuki lambung sehingga mencernanya menjadi sangat sulit. Terlebih lagi, dalam susu yang dijual di toko, komponen tersebut telah dihomogenisasi. Homogenisasi berarti meratakan kadar lemak dalam susu dengan cara mengaduknya. Homogenisasi adalah hal yang buruk karena saat susu diaduk, udara ikut tercampur di dalamnya dan mengubah komponen lemak dalam susu itu menjadi zat lemak teroksidasi—yaitu lemak dalam keadaan oksidasi lanjut. Dengan kata lain, susu homogen menghasilkan radikal bebas dan memberikan pengaruh yang sangat buruk bagi tubuh.
Susu yang mengandung lemak teroksidasi kemudian dipasteurisasi dalam suhu tinggi di atas 100°C. Enzim sangatlah sensitif terhadap panas, dan mulai hancur pada suhu 93,3°C. Dengan kata lain, susu yang dijual di toko bukan saja tidak mengandung enzim-enzim yang berharga, lemaknya juga telah teroksidasi dan kualitas proteinnya berubah akibat suhu yang tinggi. Dapat dikatakan, susu adalah jenis makanan yang terburuk.
Hidup tidak dapat ditopang dengan makanan yang tidak mengandung enzim.
Susu Menyebabkan Peradangan dan Alergi
Dr. Hiromi Shinya pertama kali mengetahui betapa buruknya efek susu bagi tubuh lebih dari 35 tahun lalu, ketika anak-anaknya sendiri menderita dermatitis atopic (radang kulit parah ) pada usia enam atau tujuh bulan.
Sang ibu sudah menuruti segala instruksi yang diberikan oleh dokter anak, tetapi betapapun banyaknya perawatan yang mereka terima, radang kulit anak-anak sama sekali tidak membaik. Lalu, pada usia sekitar tiga atau empat tahun, anak laki-laki dr. Shinya mulai mengalami diare parah. Dan pada akhirnya, dia bahkan mulai mengeluarkan darah bersama kotorannya. Setelah memeriksanya dengan endoskop, ia menemukan bahwa si balita menunjukkan tanda-tanda awal kolitis ulserativa (radang parah dengan tukak di dalam usus besar).
Oleh karena tahu bahwa kolitis ulserativa berhubungan erat dengan makanan seseorang, Dr. Shinya pun memfokuskan pada jenis makanan yang biasa dimakan oleli anak-anaknya. Ternyata, tepat pada saat anak-anaknya mulai menderita dermatitis atopik, istrinya telah berhenti menyusui dan mulai memberi mereka susu di bawah arahan dokter anak. Mereka pun menyingkirkan semua susu dan produk susu dari makanan anak-anak sejak saat itu. Tentu saja setelah itu, kotoran berdarah dan diare, bahkan dermatitis atopik, semuanya menghilang.
Setelah mengalami hal ini, saat menanyakan kepada pasien-pasien Dr. Shinya tentang sejarah kebiasaan makan mereka, ia mulai mengumpulkan daftar lengkap berapa banyak susu dan produk susu yang mereka konsumsi. Menurut data klinisnya, terdapat kemungkinan besar terbentuknya kecenderungan timbulnya alergi dari mengonsumsi susu dan produk-produk susu. Hal ini sesuai dengan penelitian mengenai alergi baru-baru ini yang melaporkan bahwa jika wanita hamil minum susu, anak-anak mereka cenderung lebih mudah terjangkit dermatitis atopik    .
Selama 30 tahun terakhir di Jepang, jumlah pasien penderita dermatitis atopik dan alergi pollen meningkat secara drastis. Jumlahnya pada saat ini mungkin hampir sebanyak satu dari setiap lima orang. Begitu banyak teori yang berusaha menjelaskan mengapa terjadi peningkatan yang begitu cepat dalam jumlah orang yang menderita alergi, tetapi Dr. Shinya percaya bahwa penyebab paling utama adalah diperkenalkannya susu dalam menu makan siang di sekolah pada awal era 1960-an.
Susu, yang mengandung banyak zat lemak teroksidasi, mengacaukan lingkungan dalam usus, meningkatkan jumlah bakteri jahat dan menghancurkan keseimbangan flora bakteri dalam usus kita. Sebagai akibatnya, racun-racun seperti radikal bebas, hidrogen sulfida, dan amonia diproduksi dalam usus. Penelitian mengenai proses apa saja yang dialami racun-racun ini dan penyakit-penyakit jenis apa saja yang dapat timbul masih berlangsung. Namun, beberapa hasil penelitian melaporkan babwa susu tidak banya menyebabkan berbagai alergi, tetapi juga dihubungkan dengan diabetes pada anak-anak (lihat http://www.sciencenews.org/sn_arc99/6_26_99/fob2.htm)
Minum Susu Terlalu Banyak Menyebabkan Osteoporosis
Dr. Shinya menyatakan, satu kesalahpahaman umum yang terbesar mengenai susu adalah bahwa susu membantu mencegah osteoporosis. Oleb karena jumlah kalsium dalam tubuh kita berkurang seiring dengan usia, kita diberi tahu untuk minum susu yang banyak untuk mencegab osteoporosis. Namun, ini adalah sebuah kesalahan besar. Minum susu terlalu banyak sebenarnya menyebabkan osteoporosis.
Pada umumnya, dipercaya bahwa kalsium dalam susu lebih mudah diserap daripada kalsium dalam makanan-makanan lain seperti ikan kecil, tetapi hal ini tidak sepenuhnya benar.
Kadar kalsium dalam darah manusia biasanya terpatok pada 9-10 mg. Namun, saat minum susu, konsentrasi kalsium dalam darah Anda tiba-tiba meningkat. Walaupun sepintas lalu hal ini mungkin terlihat seperti banyak kalsium telah terserap, peningkatan jumlah kalsium dalam darah ini memiliki sisi buruk. Ketika konsentrasi kalsium dalam darah tiba-tiba meningkat, tubuh berusaha untuk mengembalikan keadaan abnormal ini menjadi normal kembali dengan membuang kalsium dari ginjal melalui urin. Dengan kata lain, jika Anda mencoba untuk minum susu dengan harapan mendapatkan kalsium, hasilnya sungguh ironis, yaitu menurunnya jumlah kalsium dalam tubuh Anda secara keseluruhan. Dari empat negara susu besar—Amerika, Swedia, Denmark, dan Finlandia—di negara yang banyak sekali mengonsumsi susu setiap harinya, ditemukan banyak kasus retak tulang panggul dan osteoporosis.
Sebaliknya, ikan-ikan kecil dan rumput laut, yang selama berabad-abad dimakan oleh bangsa Jepang dan pada awalnya dianggap rendah kalsium, mengandung kalsium yang tidak terlalu cepat diserap yang meningkatkan jumlah konsentrasi kalsium dalam darah. Terlebih lagi, hampir tidak ada kasus osteoporosis di Jepang selama masa rakyat Jepang tidak minum susu.
Susu yang Dijual di Toko Adalah Lemak Teroksidasi
Setelah minyak, jenis makanan yang paling mudah teroksidasi adalab susu yang dibeli di toko. Sebelum diproses, susu mengandung banyak unsur yang baik. Contohnya, susu mengandung banyak jenis enzim, misalnya enzim yang menguraikan laktosa; lipase, yang menguraikan lemak; dan protease, enzim yang menguraikan protein. Susu dalam wujudnya yang alami juga mengandung laktoferin, yang dikenal memiliki efek antioksidan, anti-peradangan, antivirus, dan pengatur imunitas tubuh.
Namun, susu yang dijual di toko-toko telah kehilangan seluruh sifat baik ini melalui proses pengolahannya. Proses pengolahan susu secara modern adalah sebagai berikut. Pertama-tama, mesin pengisap dihubungkan dengan puting susu sapi untuk memerah susu, yang kemudian disimpan sementara dalam sebuah tangki. Susu segar yang dikumpulkan dari setiap peternakan kemudian dipindahkan ke tangki yang lebib besar lagi, tempat susu itu kemudian diaduk dan dihomogenisasi. Yang sebenarnya terhomogenisasi adalah butiran-butiran lemak yang ditemukan dalam susu segar.
Susu segar terdiri dari sekitar 4% lemak, tetapi sebagian besar lemak tersebut terdiri dari partikel-partikel lemak yang berbentuk. butiran-butiran kecil. Semakin besar partikel lemak, semakin mudah mereka terapung. Jika susu segar dibiarkan, lemak akan menjadi sebuah lapisan krim di permukaan.
Sebuah mesin yang disebut mesin homogenisasi digunakan, dan secara mekanis partikel-partikel lemak pun dipecah menjadi lebih kecil. Hasil akhirnya adalah susu homogen. Namun, pada saat homogenisasi berlangsung, lemak susu yang terdapat dalam susu segar berikatan dengan oksigen sehingga mengubahnya menjadi lemak terhidrogenisasi (lemak teroksidasi).
Lemak terhidrogenisasi berarti lemak yang telah terlalu banyak teroksidasi, atau dapat dikatakan telah “berkarat”. Seperti halnya semua lemak terhidrogenisasi, lemak dalam susu homogen buruk bagi tubuh.
Pasteurisasi Merusak Enzim Pada Susu
Namun, proses pengolahan susu belum selesai sampai di situ. Sebelum dipasarkan, susu homogen harus dipasteurisasi dengan panas untuk menekan berkembang biaknya berbagai kuman dan bakteri.
Ada 4 cara dasar pasteurisasi bagi susu, yaitu:
•   Pasteurisasi suhu rendah berkelanjutan (LTLT = low temperature long fr’me/suhu rendah waktu lama). Pasteurisasi dengan memanaskan hingga 62,2°-65°C selama 30 menit. Cara ini biasanya disebut metode pasteurisasi suhu rendah.
•   Pasteurisasi suhu tinggi berkelanjutan (HTLT = high temperature long t/me/suhu tinggi waktu lama). Pasteurisasi dengan memanaskan hingga lebih dari 75°C selama lebih dari 15 menit.
•   Metode suhu tinggi waktu singkat (HTST = high temperature short time]. Pasteurisasi pada suhu lebih dari 72°C selama lebih dari 15 detik. Cara ini adalah metode pasteurisasi yang paling banyak digunakan di seluruh dunia.
•   Pasteurisasi suhu sangat tinggi waktu singkat (UHT = ultra high temperature). Pasteurisasi dengan memanaskan hingga 120°-130°C selama 2 detik (atau hingga 1 50°C selama 1 detik).
Metode yang paling banyak digunakan di dunia adalah proses pasteurisasi suhu tinggi waktu singkat dan suhu sangat tinggi waktu singkat. Enzim sensitif terhadap panas dan mulai terurai pada suhu 48°C. Pada suhu 115°C, enzim sudah hancur seluruhnya. Oleh karena itu, terlepas dari lama waktu yang digunakan dalam pemrosesan, pada saat suhu mencapai 130°C, enzim telah hampir seluruhnya rusak.
Terlebih lagi, jumlah lemak yang teroksidasi meningkat lebih banyak lagi pada suhu sangat tinggi dan suhu tinggi mengubah kualitas protein yang terdapat dalam susu. Sama halnya seperti kuning telur yang lama direbus mudah pecah, perubahan yang serupa pun terjadi pada protein susu. Laktoferin, yang sensitif terhadap panas, juga rusak.
Oleh karena telah dihomogenisasi dan dipasteurisasi, susu yang dijual di supermaket-supermaket di seluruh dunia tidak baik bagi Anda.
Susu Sapi pada Dasarnya Memang untuk Anak Sapi
Dr. Shinya berpendapat bahwa nutrisi yang terdapat dalam susu cocok untuk anak sapi yang tengah berkembang. Yang penting bagi pertumbuhan anak sapi belum tentu berguna bagi rnanusia. Terlebih lagi, dalam dunia alami, hewan yang minum susu hanyalah bayi yang baru lahir. Tidak ada mamalia yang minum susu setelah dewasa (kecuali Homo sapiens). Inilah cara kerja alam. Hanya manusia yang dengan sengaja mengambil susu dari spesies lain, mengoksidasi, dan meminumnya. Ini bertentangan dengan hukum alam.
Di Jepang dan Amerika Serikat, anak-anak didorong untuk minum susu saat makan siang di sekolah karena susu yang kaya nutrisi dianggap baik untuk anak-anak yang tengah tumbuh. Namun, siapa pun yang menganggap bahwa susu sapi dan air susu ibu manusia adalah sama, tentunya sangat salah.
Jika Anda mendata berbagai nutrisi yang ditemukan baik dalam susu sapi maupun dalam AS1, keduanya memang sangat serupa. Nutrisi seperti protein, lemak, laktosa, zat besi, kalsium, fosfor, natrium, kalium, dan vitamin, ditemukan dalam keduanya. Namun, kualitas dan jumlah nutrisi ini sangat berbeda.
Komponen protein utama yang ditemukan dalam susu sapi disebut kasein. Kasein adalah protein yang sangat sulit dicerna dalam sistem pencernaan manusia. Sebagai tambahan, susu sapi juga mengandung bahan antioksidan laktoferin, yang memperkuat fungsi sistem kekebalan tubuh. Namun, laktoferin yang terdapat dalam ASI adalah 0,15% sementara yang terdapat dalam susu sapi hanya 0,01%.
Tampaknya, bayi-bayi yang baru lahir dari spesies yang berbeda membutuhkan jumlah dan rasio nutrisi yang berbeda pula.
Dan bagaimana dengan orang dewasa?
Laktoferin menjadi contohnya. Laktoferin dalam susu sapi terurai dalam asam lambung, maka bahkan jika Anda meminum susu segar yang belum diproses menggunakan suhu tinggi, laktoferin di dalamnya akan terurai dalam lambung. Begitu pula halnya dengan laktoferin yang terdapat dalam ASI. Seorang bayi manusia yang baru lahir dapat menyerap laktoferin dari ASI dengan baik karena lambungnya masih belum berkembang sempurna, dan karena sekresi asam lambungnya hanya sedikit, laktoferin pun tidak terurai. Dengan kata lain, ASI manusia memang tidak dimaksudkan untuk dikonsumsi oleh manusia dewasa.
Susu sapi, walaupun sebagai susu segar yang masih mentah, bukanlah makanan yang cocok bagi manusia. Kita mengubah susu segar, yang pada dasarnya memang tidak baik bagi kita, menjadi makanan buruk dengan cara homogenisasi dan pasteurisasi pada suhu tinggi. Kemudian, kita memaksa anak-anak kita untuk meminumnya.
Satu masalah lain adalah orang-orang dari kebanyakan kelompok etnis tidak memiliki cukup banyak enzim laktase untuk menguraikan laktosa. Kebanyakan orang memiliki cukup banyak enzim ini pada saat masih bayi, tetapi kemudian berkurang seiring dengan usia.
Pada saat orang-orang ini minum susu, mereka mengalami berbagai gejala seperti perut bergemuruh atau diare, yang merupakan hasil ketidakmampuan tubuh mereka mencerna laktosa. Orang-orang yang benar-benar tidak memiliki laktase atau jumlali enzimnya benar-benar rendah disebut tidak tahan laktosa. Hanya sedikit orang yang benar-benar tidak tahan laktosa, tetapi sekitar 90% dari bangsa Asia; 75°/o dari bangsa Hispanik, Indian Amerika, dan kulit hitam Amerika, begitu pula 60% orang dari berbagai kebudayaan di Mediterania dan 15% masyarakat keturunan Eropa Utara tidak memiliki cukup banyak enzim ini.
Laktosa adalah zat gula yang hanya terdapat dalam susu mamalia. Susu hanya untuk diminum oleh bayi-bayi yang baru lahir. Walaupun banyak orang dewasa yang kekurangan laktase, pada saat baru dilahirkan, semua bayi yang sehat memiliki cukup banyak enzim tersebut untuk kebutuhan mereka. Terlebih lagi, kadar laktosa dalam ASI adalah sekitar 7%, sementara dalam susu sapi hanya 4,5%.
Oleh karena manusia pada saat bayi mampu minum ASI yang kaya akan laktosa tetapi berakhir dengan menghilangnya enzim tersebut setelah dewasa, Dr. Shinya yakin inilah cara alam untuk mengatakan bahwa susu bukan untuk diminum oleh orang dewasa.
Jika memang sangat menyukai rasa susu, sangat disarankan Anda membatasi seringnya mengonsumsi susu, berusaha untuk minum susu yang tidak dihomogenisasi, dan dipasteurisasi pada suhu rendah. Anak-anak dan orang dewasa yang tidak menyukai susu tidak boleh dipaksa untuk meminumnya.
Singkatnya, minum susu tidak bermanfaat baik bagi tubuh.
Sumber: Buku “The Miracle of Enzyme” halaman 97 – 102 dan 127 – 133, oleh Dr. Hiromi Shinya, MD.

3. Susu Formula Berisiko Menyebabkan Otak tak Berkembang
Spoiler untuk tersembunyi:
11/11/2010 oleh Dt Awan http://healindonesia.wordpress.com/2010/11/11/susu-formula-berisiko-menyebabkan-otak-tak-berkembang/
Pemberian susu formula pada bayi baru lahir ternyata memberi risiko yang tak ringan. Otak bayi berpotensi tidak berkembang akibat terlalu banyak mengkonsumsi susu formula.
”Risiko sistem jaringan otak tidak terbangun sebesar 20 persen,” kata Penasihat Ikatan Bidan Indonesia (IBI) DKI Jakarta, Sri Purwanti Hubertin, Senin (23/8).
Hubertin mengatakan bahwa kandungan susu formula tidak sebaik kandungan nutirisi yang terdapat di dalam air susu ibu (ASI). Dia mencontohkan taurin, asam amino rantai panjang, untuk proses maturasi otak banyak terdapat di ASI dan hanya sedikit terkandung pada susu sapi.
Protein whey yang mudah diserap oleh usus bayi dan digunakan 100 persen oleh tubuh ada pada ASI. 65 Persen protein ASI berjenis whey sedangkan pada susu formula kandungan protein whey maksimal hanya 20 persen dan sisanya protein casein. Whey protein diketahui mengandung enzim, hormon, antibodi, faktor pertumbuhan, dan pembawa zat gizi.
Dalam sebuah artikel Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) disebutkan susu formula lebih banyak mengandung protein casein hingga 80 persen yang sulit dicerna usus bayi yang pada akhirnya dibuang oleh bayi. Pembuangan protein casein tersebut lewat ginjal. Sehingga ginjal bayi sudah dipaksa untuk membuang casein.
Ginjal bayi yang sudah bekerja membuang protein casein, dikatakan Hubertin, menjadi salah satu pemicu banyak kasus gagal ginjal terjadi pada anak. Ia mencontohkan saat ini anak usia 14-15 tahun ada yang sudah menderita gagal ginjal.
”Risiko lain dari konsumsi susu formula adalah mudahnya terjadi pengapuran pada pembuluh darah,” kata Hubertin. Karena lemak di dalam ASI selain sebagai nutrisi juga membentuk enzim penghancur lemak yang tidak diperlukan tubuh. Pada susu formula enzim penhancur tidak terbentuk sehingga lemak berdiam di dalam tubuh yang menyebabkan pengapuran pada pembuluh darah. ”Yang terlihat saat ini banyak orang stroke muda. Salah satu penyebabnya adalah pengapuran yang terjadi pada pembuluh darah,” tutur dia.
Beberapa risiko tersebut menyebabkan pemberian ASI sangat penting bagi bayi baru lahir. Ibu harus paham betapa pentingnya ASI bagi bayi. Namun Hubertin menyayangkan masih banyak petugas kesehatan maupun fasilias kesehatan yang belum menyadari pentingnya ASI bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi. Sehingga mereka kurang mendorong pemberian ASI pada bayi baru lahir.
Sumber: Republika Online

4. Hati Hati Susu Formula Bikin Bayi Kegemukan Lho
Spoiler untuk tersembunyi:
11/11/2010 oleh Dt Awan http://healindonesia.wordpress.com/2010/11/11/hati-hati-susu-formula-bikin-bayi-kegemukan-lho/
Bayi yang mengkonsumsi susu formula ternyata adalah yang paling rawan mengalami kegemukan pada usia lima tahun. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa bertambahnya berat badan bayi dalam waktu yang lebih cepat akan membuat bayi rentan terhadap penyakit, mulai dari sakit jantung hingga diabetes.
Penelitian itu menemukan bahwa bayi-bayi sehat yang mengkonsumsi susu formula yang diperkaya dengan protein, vitamin, dan berbagai nutrisi lainnya akan mengalami penambahan lemak tubuh sebanyak 22 sampai 38 persen ketika berusia lima sampai delapan tahun ketimbang mereka yang hanya mengonsumsi susu botolan biasa.
Para peneliti asal Inggris itu, seperti yang dikutip Daily Mail, Kamis, percaya bahwa bayi-bayi itu mengonsumsi kalori secara berlebihan dan berat badan mereka bertambah pada masa pertumbuhan yang paling krusial. Sebuah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa 20 persen orang dewasa yang menderita obesitas disebabkan oleh kelebihan nutrisi atau memiliki berat badan berlebih ketika masih bayi.
Para ibu pun pernah diwanti-wanti untuk memberikan nutrisi yang diperkaya untuk anak yang kekurangan berat badan, jika mereka tidak bisa memberikan ASI. Kini, para dokter menegaskan bahwa “menggemukkan” bayi hanya perlu untuk yang lahir prematur. “Studi ini mendukung program ASI, karena dengan ASI bayi tidak bisa mengalami kelebihan makanan,” kata Professor Atul Singhal dari MRC Chilhood Nutrition Research Centre, di University College London, yang memimpin penelitian itu.
“Dan temuan itu juga akan menjadi perhatian produsen susu formula untuk lebih meningkatkan produk mereka,” ia melanjutkan. Para peneliti itu meneliti sejumlah kecil bayi yang baru dilahirkan di beberapa rumah sakit di Cambridge, Nottingham, Leicester, dan Glasgow.
Dalam melakukan penelitian itu para ilmuwan maupun para ibu tidak mengetahui jenis susu formula mana yang dikonsumsi oleh bayi, apakah yang standar atau susu formula khusus yang mengandung berbagai vitamin, protein, dan mineral. Dalam penelitian pertama, yang diikuti oleh 299 bayi kelahiran 1993 dan 1995, susu-susu formula yang diperkaya berbagai nutrisi itu dikonsumsi selama sembilan bulan.
Studi kedua melibatkan 246 bayi yang lahir antara 2003 sampai 2005 dihentikan lebih awal karena ada bukti yang menghubungkan antara kelebihan nutrisi dan obesitas yang ditemukan pada penelitian pertama. Inggris adalah salah satu negara dengan angka pemberian ASI terendah di Eropa, dengan rata-rata satu dari tiga ibu baru tidak memberi ASI pada anaknya.
Sementara itu sebuah penelitian sebelumnya juga mengemukakan bahwa bayi yang awalnya mengonsumsi susu formula kemudian berpindah ke makanan padat lebih cepat dari pada yang disarankan, yakni enam bulan, akan menjadi anak yang bertumbuh paling cepat.Para pakar percaya hubungan antara kalori yang dicerna dan berat badan sangat kuat pada bayi ketimbang pada anak yang berusia lebih tua.
ASI diyakini berkaitan dengan pertambahan berat yang lebih perlahan, sebaliknya susu formula akan meningkatkan produksi sel lemak tubuh sehingga berat badan bayi akan bertambah dengan cepat.
Sumber: Republika Online

5. Susu Mentah Lebih Sehat Dibandingkan Susu Olahan
Spoiler untuk tersembunyi:
12/07/2009 oleh Dt Awan http://healindonesia.wordpress.com/2009/07/12/susu-mentah-lebih-sehat-dibandingkan-susu-olahan/
Sebelum diproses, susu mengandung banyak unsur yang baik, namun alangkah bijaksana jika bayi, anak-anak, dan wanita hamil tidak mengonsumsi susu sapi yang diproses dengan jenis pasteurisasi apapun, karena proses pemanasan pasteurisasi akan benar-benar merubah struktur protein menjadi suatu komponen yang tidak sehat dan menyebabkan berbagai penyakit.
Menurut Dr. Joseph Mercola (salah satu dokter holistik modern terkemuka di dunia), susu sapi olahan atau terpastuerisasi merupakan salah satu makanan pemicu alergi di Amerika Serikat. Susu olahan berhubungan dengan beberapa gejala dan penyakit seperti:
•   Diare, kram dan perut kembung.
•   Osteoporosis
•   Arthritis
•   Sakit jantung.
•   Kanker.
•   Infeksi telinga dan kolik pada bayi dan anak-anak.
•   Diabetes tipe 1.
•   Rheumatoid arthritis
•   Kemandulan.
•   Leukemia.
•   Autisme.
Susu sapi yang menyehatkan adalah susu sapi mentah, bukan susu sapi olahan/pasteurisasi. Susu sapi mentah mengandung banyak nutrisi penting bagi tubuh kita, mengandung bakteri menguntungkan seperti misalnya lactobacillus acidolphilus, mengandung banyak vitamin dan enzyme, apalagi kalsium.
Susu mentah tidak akan menyebabkan berbagai gejala dan penyakit di atas, bahkan bagi orang-orang yang memiliki alergi susu sapi olahan, lebih sanggup beradaptasi dengan susu sapi mentah. Namun ada juga yang alergi susu sapi, benar-benar tidak sanggup mentolerir walaupun yang mentah dan itu adalah karena masalah jenis sapi A1 atau A2 pada penelitian Dr. Thomas Cowan.
Jenis Turunan Sapi Juga Mempengaruhi Kualitas Susu
Peneliti makanan terkemuka Dr. Dr. Thomas Cowan telah terlibat dalam aspek medis susu sapi sepanjang karirnya. Cowan yakin bahwa sebagian besar penyakit di Amerika berhubungan dengan bagaimana kita memanfaatkan dan mengolah susu sapi.
Semua protein merupakan bentuk rantai panjang dari berbagai asam amino. Beta kasein adalah suatu rangkaian 299 asam amino. Sapi yang memproduksi protein ini dalam susunya dengan prolin di urutan ke 67 disebut dengan sapi jenis A2. Sapi jenis ini adalah turunan tertua dari semua sapi yang ada (misal, sapi dari Asia, Jersey, dan Afrika). Tapi rata-rata sejak 5000 tahun yang lalu, asam amino prolin ini mengalami mutasi, berubah menjadi histidin. Sapi-sapi yang memiliki mutasi dari beta kasein disebut sebagai sapi jenis A1, termasuk turunan sapi Holstein.
Proline memiliki ikatan kuat terhadap protein kecil yang disebut BCM 7, yang membuatnya tetap ada dalam susu. Dengan demikian, BCM 7 tidak akan ditemukan di urin, darah, atau saluran cerna pada sapi jenis A2. Di lain pihak, histidin, protein yang bermutasi, menempel pada BCM 7, sehingga dapat dengan mudah ditemukan di saluran cerna hewan dan manusia yang minum sapi jenis A1.
BCM 7 telah diteliti dapat menyebabkan kerusakan neurologis pada hewan dan manusia, terutama pada kasus autis dan schizophrenia. BCM 7 mengganggu respon imunitas dan didapati bahwa menyuntikkan BCM 7 pada hewan percobaan memicu diabetes tipe 1. Buku karya Dr. Keith Woodford, “The Devil in the Milk” memberikan hasil penelitian yang menunjukkan hubungan langsung antara populasi yang minum susu sapi jenis A1 dengan insiden penyakit autoimun, sakit jantung, diabetes tipe 1, autisme, dan schizophrenia.
Cowan menyatakan, dengan mengubah kebiasaan minum susu sapi mentah dari sisi jenis sapi akan memberikan dampak yang sangat berbeda bagi kesehatan Anda.
Apa Perbedaan Sapi Jenis A1 dan A2?
Tipe protein pada susu berbeda-beda tergantung dari jenis turunan sapi dan jenis hewan tersebut (sapi, kambing, domba, dll).
Salah satu protein terbesar susu sapi adalah kasein, dan yang dominan dari kasein ini adalah beta-kasein. Dalam turunan sapi yang tertua, seperti misalnya sapi Asia, Jersey, dan Afrika (disebut dengan sapi A2), beta-kaseinnya mengandung asam amino yang disebut dengan prolin.
Dalam turunan sapi yang terbaru seperti misalnya sapi Holstein (sapi A1), asam amino prolin yang dikandungnya telah bermutasi menjadi asam amino histidin.
Hal ini penting karena beta-kasein juga mengandung asam amino BCM 7, dimana BCM 7 ini merupakan komponen yang selalu menimbulkan efek negatif bagi kesehatan. Prolin yang ada pada sapi A2 memiliki ikatan yang kuat dengan BCM 7, sehingga tidak ikut terkandung dalam susu. Namun, pada sapi jenis A1 (jenis terbaru), memiliki ikatan lemah pada BCM 7, sehingga BCM 7 ikut terkandung ke dalam susu dan masuk ke dalam manusia yang meminumnya.
Jadi boleh dikatakan, dengan meminum susu sapi jenis A1, Anda akan terpapar BCM 7, yaitu komponen yang berhubungan dengan:
•   Kerusakan neurologis, termasuk perubahan autistik dan schizophrenik
•   Diabetes tipe 1.
•   Gangguan respon imunitas.
•   Penyakit autoimun.
•   Sakit jantung.
Sapi jenis A1 umum dijumpai di Amerika, New Zealand, Australia, dan Eropa. Tapi perlu diingat bahwa, susu sapi jenis A2-pun akan memiliki efek negatif bagi kesehatan ketika susu tersebut telah dipastuerisasi dan dihomogenisasi.
Susu yang Dijual di Toko Adalah Lemak Teroksidasi
Sebelum diproses, susu mengandung banyak unsur yang baik. Contohnya, susu mengandung banyak jenis enzim, misalnya enzim yang menguraikan laktosa; lipase, yang menguraikan lemak; dan protease, enzim yang menguraikan protein. Susu dalam wujudnya yang alami juga mengandung laktoferin, yang dikenal memiliki efek antioksidan, anti-peradangan, antivirus, dan pengatur imunitas tubuh. Namun perlu Anda ketahui bahwa, kandungan nutrisi yang tertulis pada kemasan susu formula adalah kandungan sebelum diolah (homogenisasi dan pasturisasi)!
Susu yang dijual di toko-toko telah kehilangan banyak nutrisi melalui proses pengolahannya. Proses pengolahan susu secara modern adalah sebagai berikut. Pertama-tama, mesin pengisap dihubungkan dengan puting susu sapi untuk memerah susu, yang kemudian disimpan sementara dalam sebuah tangki. Susu segar yang dikumpulkan dari setiap peternakan kemudian dipindahkan ke tangki yang lebib besar lagi, tempat susu itu kemudian diaduk dan dihomogenisasi. Yang sebenarnya terhomogenisasi adalah butiran-butiran lemak yang ditemukan dalam susu segar.
Susu segar terdiri dari sekitar 4% lemak, tetapi sebagian besar lemak tersebut terdiri dari partikel-partikel lemak yang berbentuk. butiran-butiran kecil. Semakin besar partikel lemak, semakin mudah mereka terapung. Jika susu segar dibiarkan, lemak akan menjadi sebuah lapisan krim di permukaan.
Sebuah mesin yang disebut mesin homogenisasi digunakan, dan secara mekanis partikel-partikel lemak pun dipecah menjadi lebih kecil. Hasil akhirnya adalah susu homogen. Namun, pada saat homogenisasi berlangsung, lemak susu yang terdapat dalam susu segar berikatan dengan oksigen sehingga mengubahnya menjadi lemak terhidrogenisasi (lemak teroksidasi). Seperti halnya semua lemak terhidrogenisasi, lemak dalam susu homogen buruk bagi tubuh.
Pasteurisasi Merusak Enzim Pada Susu
Namun, proses pengolahan susu belum selesai sampai di situ. Sebelum dipasarkan, susu homogen dipasteurisasi dengan panas untuk menekan berkembang biaknya berbagai kuman dan bakteri.
Ada 4 cara dasar pasteurisasi bagi susu, yaitu:
•   Pasteurisasi suhu rendah berkelanjutan (LTLT = low temperature long fr’me/suhu rendah waktu lama). Pasteurisasi dengan memanaskan hingga 62,2°-65°C selama 30 menit. Cara ini biasanya disebut metode pasteurisasi suhu rendah.
•   Pasteurisasi suhu tinggi berkelanjutan (HTLT = high temperature long t/me/suhu tinggi waktu lama). Pasteurisasi dengan memanaskan hingga lebih dari 75°C selama lebih dari 15 menit.
•   Metode suhu tinggi waktu singkat (HTST = high temperature short time].Pasteurisasi pada suhu lebih dari 72°C selama lebih dari 15 detik. Cara ini adalah metode pasteurisasi yang paling banyak digunakan di seluruh dunia.
•   Pasteurisasi suhu sangat tinggi waktu singkat (UHT = ultra high temperature).Pasteurisasi dengan memanaskan hingga 120°-130°C selama 2 detik (atau hingga 1 50°C selama 1 detik).
Metode yang paling banyak digunakan di dunia adalah proses pasteurisasi suhu tinggi waktu singkat dan suhu sangat tinggi waktu singkat. Enzim sensitif terhadap panas dan mulai terurai pada suhu 48°C. Pada suhu 115°C, enzim sudah hancur seluruhnya. Oleh ka-      rena itu, terlepas dari lama waktu yang digunakan dalam pemrosesan, pada saat suhu mencapai 130°C, enzim telah hampir seluruhnya rusak.
Terlebih lagi, jumlah lemak yang teroksidasi meningkat lebih banyak lagi pada suhu sangat tinggi dan suhu tinggi mengubah kualitas protein yang terdapat dalam susu. Sama halnya seperti kuning telur yang lama direbus mudah pecah, perubahan yang serupa pun terjadi pada protein susu. Laktoferin, yang sensitif terhadap panas, juga rusak.
Oleh karena telah dihomogenisasi dan dipasteurisasi, susu yang dijual di supermaket-supermaket di seluruh dunia tidak baik bagi Anda.
Dalam usaha pasteurisasi mencegah keasaman susu, susu yang asam justru sangat baik untuk kesehatan dan mudah untuk dicerna. Tapi justru dengan proses pasteurisasi,  bakteri menguntungkan jadi hilang sehingga meningkatkan bakteri merugikan di dalam perut kita. Itulah sebabnya tidak jarang orang-orang mengalami masalah pencernaan sesudah minum susu olahan.
Mitos yang beredar di masyarakat adalah bahwa tuberculosis pada anak disebabkan oleh kuman berbahaya pada susu mentah. Inilah yang menjadi landasan kuat untuk diadakannya pasteurisasi. Namun para ilmuwan telah menguji dan meneliti ribuan sampel susu, juga telah bereksperimen pada ratusan hewan, untuk mencari tahu tentang penyebab tuberculosis pada susu. Dari penelitian tersebut didapati bahwa susu mentah itu sebenarnya BERSIH, lebih berkualitas dibandingkan susu olahan, dan tidak mengakibatkan tuberculosis.
Dalam suatu penelitian selama 5 tahun mengenai penyebaran tuberculosis melalui susu, didapati bahwa selama 5 tahun tersebut, 70 anak rutin diberikan susu mentah dan hanya ada 1 kasus tuberculosis muncul. Sedangkan ketika diberikan susu olahan, muncul 14 kasus tuberculosis pada mereka.
Selain menghancurkan sebagian vitamin A, vitamin B Kompleks, vitamin C dan bakteri menguntungkan pada susu, pasteurisasi juga merubah komponen gula pada susu, yaitu laktosa, menjadi beta-laktosa. Beta-laktosa ini lebih cepat larut dan dengan demikian cepat diserap ke dalam sistem yang membuat anak jadi lapar lagi.
Proses pasteurisasi menjadikan kalsium yang terkandung pada susu susah untuk dicerna. Hal ini menyebabkan kelainan tulang pada anak (rickets), gigi rusak, dan syaraf pun bermasalah karena kalsium sangat diperlukan bagi pertumbuhan anak.
Pasteurisasi juga menghancurkan 20% iodine dalam susu, sehingga mengakibatkan sembelit.
Kekurangan Susu Mentah
Walaupun susu mentah memiliki kandungan nutrisi yang baik untuk kesehatan kita, ia juga memiliki beberapa kelemahan yaitu hanya bisa bertahan beberapa jam saja dengan suhu ruangan. Dan walaupun disimpan dilemari pendingin, ia hanya bertahan 1-2 hari saja. Sistem pendistribusian di Indonesia tidak memungkinkan susu mentah untuk bisa didistribusikan dengan baik ke konsumen dan dinikmati tepat pada waktunya tanpa kadaluarsa. Selain itu, untuk bisa mendapatkan susu mentah yang hygienis hampir mustahil untuk dilakukan di Indonesia. Lain halnya dengan kondisi di Amerika dan negara maju lainnya, yang memiliki akses susu mentah yang hygienis. Jika Anda mengenal peternak yang bisa memberikan akses susu mentah hygienis, silahkan mengonsumsi susu mentah. Tapi bagi yang tidak memiliki akses seperti ini, saya anjurkan untuk Anda tidak terlalu mengandalkan susu sebagai minuman yang “HARUS DIMINUM”. Ini termasuk susu bayi formula. Susu olahan memiliki dampak negatif jika dikonsumsi terus menerus, jadi saya anjurkan Anda memiliki pengganti susu seperti misalnya banyak mengkonsumsi sayur mayur, atau mengonsumsi produk perlebahan bee pollen dan madu murni (madu tidak dianjurkan untuk bayi di bawah 1 tahun).
Jangan Berikan Susu Olahan kepada Orang Sakit!
Mengetahui kebenaran tentang susu mentah dan olahan, saya tidak pernah menganjurkan atau memberikan susu pada pasien-pasien saya. Pernah saya memiliki pasien balita berusia 2 tahun yang menderita pneumonia dan malnutrisi, dimana bayi ini seringkali keluar masuk rumah sakit tapi tidak kunjung sembuh juga. Ibu bayi ini tidak bisa mengeluarkan ASI dan sebagai pengganti ASI, saya tidak memberikan susu olahan pada bayinya.
Yang saya berikan adalah madu murni, minyak ikan dan larutan garam laut asli. Makanan sehari-hari untuk anak inipun saya sesuaikan dengan usia, kondisi penyakit, dan golongan darahnya. Dalam waktu satu bulan, ia pun bisa sembuh dari pneumonia dan masalah malnutrisinya!
Selain itu, bayi inipun mulai bisa berjalan dan lincah, dibandingkan sebelumnya ia hanya bisa berjalan dengan kedua tangan sambil menyeret pantatnya.
Di rumah sakit, standar medis konvensional menganjurkan  bayi ini untuk diinfus, diberi suntikan yang menyakitkan, dan juga diberi obat-obatan kimia yang mahal dan berefek samping, ternyata tidak mampu memulihkan kesehatannya. Namun dengan penerapan holistik modern yang benar akan manfaat alam ciptaan Tuhan, bayi ini bisa pulih dari segala permasalahan kesehatan dia.
Standar medis konvensional yang juga menganjurkan pemberian susu pada pasien diabetes adalah salah satu kesalahan fatal medis lainnya, dimana pasien bukannya sembuh, kondisinya kian hari makin menurun dan akhirnya meninggal. Praktek memberi susu olahan pada pasien yang opname di rumah sakit  adalah standar medis yang salah kaprah, tidak ilmiah dan memperhambat kesembuhan pasien.
Marilah kita belajar dari sejarah dunia dan rancangan Tuhan akan ciptaanNya. Benarkah Tuhan merancangkan manusia dan makhluk mamalia lainnya harus mengkonsumsi susu olahan? Jika ya, itu berarti dari awal penciptaan, semua makhluk mamalia harus minum susu olahan atau pasteurisasi. Toh, para ahli medis konvensional berteori bahwa susu asli-murni mentah tidak baik buat kesehatan dan susu olahan bebas dari bakteri dan bergizi tinggi?!
Benarkah Tuhan juga merancangkan semua mamalia yang telah dewasa harus minum susu supaya sehat? Tentu saja tidak. Anak sapi dewasa saja tidak minum susu induk sapinya, dan tidak pernah sapi itu menderita osteoporosis.
Gunakanlah Hukum Alam yang Tuhan sudah standarkan maka terciptalah keajaiban bagi kesehatan Anda!
Bijak dalam Menyikapi Apa yang Perlu Dikonsumsi
Bayi di atas 2 tahun dan wanita hamil, tidak diharuskan untuk minum susu. Adalah mitos dan strategi bisnis belaka yang mengharuskan kita minum susu sesudah lewat usia 2 tahun untuk selalu sehat. Ratusan penelitian, fakta sejarah, dan realita kesehatan pasien menjadi bukti atas pernyataan ini.
Hanya karena sebuah komponen yang ditemukan dalam makanan membantu satu bagian tubuh berfungsi dengan baik, tidak berarti bahwa komponen tersebut baik bagi seluruh tubuh. Saat memilih makanan dan minuman, pertimbangkanlah semuanya secara keseluruhan. ANDA TIDAK DAPAT MEMUTUSKAN APAKAH SUATU MAKANAN BAIK ATAU BURUK HANYA DENGAN MELIHAT DARI SATU BAHAN YANG TERKANDUNG DALAM MAKANAN TERSEBUT. Contoh: susu sapi mengandung kalsium yang cukup tinggi, tapi ternyata susu sapi lebih cocok untuk anak sapi bukannya manusia dan LEBIH BANYAK membahayakan kesehatan dibandingkan manfaatnya.
Hukum yang sama juga berlaku yaitu ANDA TIDAK DAPAT MEMUTUSKAN APAKAH SUATU MAKANAN BAIK ATAU BURUK HANYA DENGAN MELIHAT DARI SATU MANFAAT YANG DIMILIKI MAKANAN TERSEBUT. Contoh: kopi baik untuk menghilangkan rasa kantuk dan menenangkan pikiran, tapi kopi JAUH LEBIH banyak membawa kerugian yang menghambat produksi melatonin, mengganggu pertumbuhan janin, memperburuk kondisi diabetes, dan meningkatkan resiko serangan jantung.
Di jaman sekarang, tidak ada makanan yang 100% sempurna. Semuanya memiliki kelebihan dan kelemahan. Tapi sebagai bahan pertimbangan, nilailah prosentase baik dan buruk dari apa yang Anda konsumsi. Jika suatu makanan lebih banyak membawa kerugian dibandingkan keuntungan, adalah bijaksana jika Anda tidak mengonsumsinya.

Referensi:
Hiromi Shinya, The Miracle of Enzyme: Self-Healing Program. Bandung: Qanita. (2009)
http://thebovine.wordpress.com/2009/03/20/the-devil-in-the-milk-dr-thomas-cowan-on-how-a2-milk-is-the-answer-to-the-mystery-of-why-even-raw-milk-sometimes-does-not-seem-to-be-enough-of-an-improvement-over-store-bought/
http://articles.mercola.com/sites/articles/archive/2009/07/09/The-Devil-in-the-Milk.aspx
http://articles.mercola.com/sites/articles/archive/2003/03/26/pasteurized-milk-part-one.aspx
http://articles.mercola.com/sites/articles/archive/2003/03/29/pasteurized-milk-part-two.aspx
« Edit Terakhir: 02 Desember 2011, 00:35:35 oleh Abdullah Syamil »

Offline yanti solehah

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2011
  • Tulisan: 736
  • Lokasi: Medan bung
  • Jenis kelamin: Wanita
  • keadilan, kejujuran, amanah sulit ditegakkan
    • Lihat Profil
« Jawab #695 pada: 09 Desember 2011, 14:35:25 »
mau konsultasi mengenai penyakit asam lambung dan maag. adakah perbedaan keduanya?apa tanda2 seseorang sudah memiliki penyakit maag dan asam lambung, boleh jg memberikan tips untuk makanan yang blh dikonsumsi atau cara pencegahannya?

 ada lg kalo ada penyakit darah rendah, gmna cara mengatasinya?dan apa aja yang dilakukan agar terhindar darah rendah

Offline maren

  • Moderator
  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 10.344
  • Lokasi: Ibu Kota RI
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Karena damai itu indah
    • Lihat Profil
    • I Love being a Nurse ^_~
« Jawab #696 pada: 19 Desember 2011, 15:47:59 »
maag itu bs terjadi karena peningkatan asam lambung, kenapa asam lambung bisa meningkat? biasanya karena telat makan padahal setiap saat lambung terus bekerja, ketika tidak ada makanan yang dapat diolah dalam lambung alhasil asam lambung meningkat.. cara pencegahannya ya makanlah dengan teratur.. untuk pengobatan bisa mengkonsumsi obat2an yang dapat mengurangi produksi asam lambung dan hindari makanan yang mengandung gas

asam lambung juga bisa meningkat karena stress
Jangan jadi orang yang penuh dendam, jadilah orang yang memiliki banyak kata maaf untuk orang2 yang telah menyakiti kita :) bekerjalah dengan ikhlas

Offline dian_syahril

  • myQ Setia
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 8.201
  • Lokasi: Jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #697 pada: 19 Desember 2011, 16:35:44 »
kata dokter saya kena GERD (Gastroesophageal reflux disease)
kayak semacam asam lambung juga :(
mohon maaf lahir & batin jika ada tulisan, perkataan & perbuatan saya baik yg disengaja maupun yg tidak selama di myQ.org :)

Offline vue.finny

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Agu 2011
  • Tulisan: 40
  • Lokasi: Pati
  • Jenis kelamin: Wanita
  • myQer
    • Lihat Profil
    • akhwat sejuta impian
« Jawab #698 pada: 17 Mei 2012, 04:58:23 »
assalammu'alaikum wr wb...
afwan saudara2 ada yg punya pengalaman sm endometriosis? sdh hamilkah?
punya pengobatan herbal n thibun nabawinya pake apa y? syukron jazakummulloh :)