Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Selasa, 22 Mei 2012/1 Rajab 1433 H : Imsak 4:26:52 - Shubuh 4:33:16 - Terbit 5:55:13 - Dzuhur 11:49:37 - Ashar 15:11:37 - Maghrib 17:44:03 - Isya' 18:57:30 WIB

Penulis Topik: mengenai NII, sekedar perenungan kondisi islam  (Dibaca 3020 kali)


Offline El Farouq

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 447
    • Lihat Profil
« Jawab #75 pada: 19 November 2007, 14:53:28 »
Baik baik saja! Mereka bahagia karena masih dapat berjuang di Jalan Allah yang mereka yakini.

93xx
Alhamdulillah masih dipercaya sebagai ODO

yang anda lihat? masih banyak yang belum anda lihat, bos.

Solusi? anda sendiri punya solusi apa? NKRI sendiri punya solusi apa? Menuntut melulu!

Offline tamu_ajah

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 669
  • Jenis kelamin: Pria
  • hiks... apatarkuwh yg keren ilang... T_T
    • Lihat Profil
« Jawab #76 pada: 20 November 2007, 08:57:01 »
Baik baik saja! Mereka bahagia karena masih dapat berjuang di Jalan Allah yang mereka yakini.
seharusnya ditulis "yang mereka pahami" :)

93xx
Alhamdulillah masih dipercaya sebagai ODO
aah... rupanya jajaran pembantu distrik dari 93...
apa yang dilakukan seorang petinggi ODO di sini? sudah tidak ada lagikah program kerja untuk dilakukan?
atau hanya sekedar ingin meremehkan semua pemikiran2 yang ada di forum ini?
Sangat disayangkan bila kehadiran anda disini tidak disertai kemauan untuk belajar tentang Islam itu sendiri, anda tidak akan pernah mengerti.

yang anda lihat? masih banyak yang belum anda lihat, bos.
yang saya lihat sudah cukup bagi saya untuk mengetahui dan menilai bagaimana sebenarnya NII itu :)

Solusi? anda sendiri punya solusi apa? NKRI sendiri punya solusi apa? Menuntut melulu!
jangan sok naif, bukankah NII juga selalu memiliki tuntutan?
selalu menyatakan kehidupan di NII lebih haq dari kehidupan di NKRI, tapi sebenarnya sama saja, bahkan mungkin lebih buruk.
Solusi yang saya miliki tidak akan banyak berguna bagi orang2 yang hati, mata, dan telinganya sudah tertutup untuk kebenaran :)

Offline El Farouq

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 447
    • Lihat Profil
« Jawab #77 pada: 20 November 2007, 11:14:57 »
Kutip
aah... rupanya jajaran pembantu distrik dari 93...
apa yang dilakukan seorang petinggi ODO di sini? sudah tidak ada lagikah program kerja untuk dilakukan?
Bekerja itu pakai ilmu, mas. Bekerja yang keras tapi juga cerdas.
Kutip
atau hanya sekedar ingin meremehkan semua pemikiran2 yang ada di forum ini?
bukannya anda yang selalu meremehkan pemikiran kami?
Kutip
Sangat disayangkan bila kehadiran anda disini tidak disertai kemauan untuk belajar tentang Islam itu sendiri, anda tidak akan pernah mengerti.
hebat, jadi anda tergolong orang yang sudah mengerti ya?

Kutip
yang saya lihat sudah cukup bagi saya untuk mengetahui dan menilai bagaimana sebenarnya NII itu
Lupa ilmu padi yach?

Kutip
jangan sok naif, bukankah NII juga selalu memiliki tuntutan?
selalu menyatakan kehidupan di NII lebih haq dari kehidupan di NKRI, tapi sebenarnya sama saja, bahkan mungkin lebih buruk.
Tuntutan? Anda salah, bung! itu cita-cita yang perlu diperjuangkan, yang sayangnya sering di"recoki" oleh orang-orang seperti anda.

Kutip
Solusi yang saya miliki tidak akan banyak berguna bagi orang2 yang hati, mata, dan telinganya sudah tertutup untuk kebenaran
wow... pernyataan yang jumawa nih!
« Edit Terakhir: 20 November 2007, 11:21:54 oleh El Farouq »

Offline tamu_ajah

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 669
  • Jenis kelamin: Pria
  • hiks... apatarkuwh yg keren ilang... T_T
    • Lihat Profil
« Jawab #78 pada: 20 November 2007, 12:13:19 »
cerdas? dalam hal apa? dalam memilah mana yang dapat menguntungkan dan mana yang merugikan?
dalam memilih ayat2 yg dapat dipergunakan untuk menguatkan pendapat anda dan tidak menghiraukan yang selainnya?
dalam mempelajari pemahaman "musuh" anda agar dapat menemukan celah untuk melakukan serangan?

kenapa anda tidak mencoba untuk memposisikan diri anda layaknya bayi yang belum mengetahui apa2, dan belajar dari awal lagi apa itu Islam, bagaimana "membaca" AlQuran dan AlHadits dengan benar dan cara menerapkannya pada kehidupan anda?

Kesampingkan dulu semua doktrin2 tentang "negara" dan "kerasulan" yang ada di benak anda dan belajar kembali bagaimana menjadi seorang muslim yang mengikuti ajaran Rasulullah secara murni dan Haq layaknya seorang muallaf.

anda bilang saya meremehkan pemikiran kalian?
pemikiran yang mana?
pemikiran yang dibentuk dan didasari oleh kedustaan?
dari kebohongan2 yang kalian nyatakan berasal dari Rasulullah?
pemikiran yang didasari hawa nafsu?
yang menafsirkan ayat2 AlQuran sesuka hati untuk menguatkan argumen kalian?

Saya sudah mengerti bahwa ada aturan dalam menafsirkan AlQuran dan AlHadits,
saya sudah mengerti bahwa Muhammad adalah rasul terakhir dan tidak ada rasul setelahnya,
saya sudah mengerti bahwa Islam bersifat universal dan di dalamnya mencakup kehidupan dalam bermasyarakat dan bernegara dan tidak bergantung kepada hal2 duniawi.
saya sudah mengerti bahwa Rasulullah dikirim untuk menyempurnakan ketauhidan, yaitu aqidah, akhlaq, dan bukan selainnya.
saya sudah mengerti bahwa bila Islam sudah mengakar dalam akhlaq setiap insan, maka sistem yang berjalan di masyarakat dan negara akan mengikuti dan bukan sebaliknya.

apakah anda mengerti?

Padi ada yang rusak dan ada pula yang bagus, padi yang isinya rusak akan tetap menunduk tetapi tetap dibuang.

cita2? benar, itulah mimpi2 yang selalu menjadi doktrin agar setiap umat mau berkorban untuk "negara"nya, tapi bukan untuk Islam.

Offline ex_nii

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Okt 2007
  • Tulisan: 83
    • Lihat Profil
« Jawab #79 pada: 22 November 2007, 01:19:03 »
Stockholm, 17 Agustus 2007

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

NAMA NKRI ADALAH NAMA PALSU ALIAS TIDAK RESMI YANG DIPAKAI UNTUK MENGIKAT NEGARA-NEGARA BAGIAN RIS

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

NAMA NEGARA DI INDONESIA SEKARANG ADALAH REPUBLIK INDONESIA BUKAN NKRI

"Saudara Yang Budiman,Terima kasih untuk uraian pada email di bawah ini. Kami pekerja sosial bukan politikus. Cuma mungkin sama dengan anda kami membenci kebohongan meskipun sudah menjadi kenyataan pahit yang terpaksa kita akui.Begini, setelah membaca seluruh tulisan ini lalu datang kepada kesimpulan berikut ini:More...

"Jadi kesimpulannya adalah berdasarkan fakta, bukti, sejarah dan hukum diatas membuktikan bahwa RI yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 adalah hilang pada tanggal 19 Desember 1948. Muncul PDRI sampai tanggal 13 juli 1949. Kemudian RI hidup kembali pada tanggal 13 Juli 1949 setelah PDRI menyerahkan mandatnya, lalu PDRI mati. RI masuk menjadi anggota Negara Bagian RIS pada tanggal 14 Desember 1949. Selanjutnya RI dijelmakan menjadi NKRI setelah Negara Bagian RI menelan 15 Negara-Negara Bagian RIS lainnya pada tanggal 15 Agustus 1950. Begitu juga RI yang ada sekarang adalah hasil sulapan Soekarno dari NKRI yang ber UUD 1950 dengan sulap Dekrit Presiden 5 juli 1959".

Maka pertanyaan kami "Negara Yang Di Indonesia" sekarang ini bernama apa? Republik Indonesia atau Negara Kesatuan Republik Indonesia, jadi RI ataukah NKRI? Kami tanyakan ini karena di mana-mana yang terdengar dan terpampang selalu "NKRI Harga Mati". Apa maksudnya ini?"(flassy don, donflassy@yahoo.com ,[61.94.95.36], Thu, 16 Aug 2007 17:15:42 PDT)

Terimakasih saudara Flassy Don di Jayapura, Papua.

Kalau saudara Don meneliti dan menganalisa kembali apa yang dituliskan oleh Ahmad Sudirman dalam tulisan "Kembali mengulang dalam rangka menguliti mitos RI hasil buatan Soekarno dengan kelompok unitaris RI-nya" ( http://www.dataphone.se/~ahmad/070817.htm ), maka akan ditemukan butiran-butiran yang menyatakan bahwa kelompok unitaris dibawah Soekarno cs memakai nama NKRI singkatan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah hanya sebagai alat pengikat dan penjerat 15 Negara-Negara dan Daerah-Daerah Bagian RIS (Republik Indonesia Serikat) ditambah Acheh dan Maluku Selatan, sedangkan Papua Barat ditelan belakangan.

Dengan Negara Bagian RI telah melahap 15 Negara/Daerah bagian RIS lainnya, kemudian Soekarno Cs menyiapkan satu delegasi RI-Jawa-Yogya untuk mengikuti Sidang Umum PBB pada tanggal 27 September 1950 guna mendaftarkan Negara RI-Jawa-Yoga menjadi anggota PBB, yang dipimpin oleh Ketua delegasi Mr. Moh.Roem, didampingi oleh Wakil Ketua L.N. Palar, dengan disertai para anggota delegasi Dr. Darmasetiawan, Mr. Soedjono, Mr.Tambunan, Mr.Soemanang, dan Prawoto.

Tentu saja sebelum diterima dan disyahkan keanggotaan oleh Sidang Umum PBB, terlebih dahulu DK PBB harus memberikan rekomendasi kepada SU PBB, karena itu pada tanggal 26 September 1950 Dewan Keamanan PBB melalui Resolusi DK PBB No. 86 tahun 1950 yang menyatakan "Admision of New Members To the United Nations 86(1950). Resolution of 26 September 1950. The Security Council. Finds that the Republic of Indonesia is a peace-loving State which fulfils the conditons laid down in Article 4 of the Charter of the United Nations, and therefore recommends to the General Assembly that the Republic of Indonesia be admitted to membership of the United Nations.Adopted at the 503rd meeting by 10 voters to none, with 1 abstention (China)

Ternyata setelah Negara RI-Jawa-Yogya resmi menjadi anggota PBB yang ke-60, maka mulailah Soekarno Cs menjalankan taktik agresinya untuk menelan dan menduduki Negara-negara dan Daerah-daerah yang masih berada diluar wilayah Negara dan Daerah bekas bagian RIS, seperti Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat.

Jadi, sebenarnya nama NKRI adalah merupakan nama palsu alias nama tidak resmi yang dipakai sebagai alat untuk terus menjerat dan mengikat Negara-Negara dan Daerah-Daerah Bagian RIS agar supaya tetap berada dibawah sangkar dan kurungan Negara RI-Jawa-Yogya atau Negara RI.

Dan Nama NKRI ini adalah sebagai alat pengikat yang dikapai oleh kelompok unitaris dibawah Soekarno cs dan sekaligus sebagai alat untuk melawan kelompok federalis.

Buktinya pada tanggal 15 Agustus 1950 lahirlah istilah NKRI setelah Negara Bagian RI menelan dan mencaplok 15 Negara-Negara dan Daerah-Daerah Bagian RIS lainnya. Atau dengan kata lain istilah nama Serikat dirobek dan digantikan dengan istilah nama Kesatuan. Padahal RIS inilah bukan Negara Bagian RI yang diakui kedaulatannya oleh Negara-Negara anggota PBB termasuk Belanda dan Amerika.

Dan nama negara yang dipakai oleh Soekarno cs untuk diajukan ke DK PBB dan Sidang Umum PBB adalah bukan nama NKRI, tetapi nama RI (Republik Indonesia / the Republic of Indonesia).

Karena itu kalau sekarang masih ada orang-orang yang mengatakan bahwa "NKRI Harga Mati" adalah orang-orang tersebut memang pertama, tidak memahami dan tidak mengerti tentang sejarah jalur pertumbuhan dan perkembangan serta mati dan hidupnya Negara RI dikaitkan dengan Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat dan juga dengan Negara-Negara serta Daerah Daerah Bagian Republik Indonesia Serikat yang diakui oleh PBB. Kedua, orang-orang tersebut adalah hanya sebagai para pengikut kelompok unitaris yang dipimpin oleh tukang sulap dan tukang tipu licik mbah Soekarno dari Jawa. Ketiga, orang-orang tersebut adalah hanya sekedar bercuap tetapi otaknya tidak tahu apa itu yang dinamakan "NKRI Harga Mati" dan tidak tahu dasar hukum dan sejarahnya. Keempat, orang-orang tersebut adalah hanya sebagai para pembeo dan pengikut orang-orang unitaris yang anti federalis yang ingin tetap menjadikan Negara RI-Jawa-Yogya sebagai negara yang memiliki dominansi atas Negara-Negara dan Daerah Daerah Bagian RIS yang telah diakui oleh PBB sejak 27 Desember 1949.

Terakhir, jadi berdasarkan fakta, bukti, sejarah dan hukum yang dijelaskan diatas, maka Indonesia itu bukan bernama NKRI melainkan RI yang telah menelan dan mencaplok 15 Negara-Negara dan Daerah-Daerah Bagian RIS ditambah dengan Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat. Dan sampai detik sekarang ini tidak pernah ada dipakai nama NKRI dalam peraturan perundang-undangan yang ada di Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya ini, kecuali hanya nama atau istilah RI.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

Received: from [61.94.95.36] by web53907.mail.re2.yahoo.com via HTTP; Thu, 16 Aug 2007 17:15:42 PDT

Date: Thu, 16 Aug 2007 17:15:42 -0700 (PDT)

From: flassy don <donflassy@yahoo.com>

Subject: Re: KEMBALI MENGULANG DALAM RANGKA MENGULITI MITOS RI HASIL BUATAN SOEKARNO DENGAN KELOMPOK UNITARIS RI-NYA

To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>

Saudara Yang Budiman,

Terima kasih untuk uraian pada email di bawah ini. Kami pekerja sosial bukan politikus. Cuma mungkin sama dengan anda kami membenci kebohongan meskipun sudah menjadi kenyataan pahit yang terpaksa kita akui.

Begini, setelah membaca seluruh tulisan ini lalu datang kepada kesimpulan berikut ini:

"Jadi kesimpulannya adalah berdasarkan fakta, bukti, sejarah dan hukum diatas membuktikan bahwa RI yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 adalah hilang pada tanggal 19 Desember 1948. Muncul PDRI sampai tanggal 13 juli 1949. Kemudian RI hidup kembali pada tanggal 13 Juli 1949 setelah PDRI menyerahkan mandatnya, lalu PDRI mati. RI masuk menjadi anggota Negara Bagian RIS pada tanggal 14 Desember 1949. Selanjutnya RI dijelmakan menjadi NKRI setelah Negara Bagian RI menelan 15 Negara-Negara Bagian RIS lainnya pada tanggal 15 Agustus 1950. Begitu juga RI yang ada sekarang adalah hasil sulapan Soekarno dari NKRI yang ber UUD 1950 dengan sulap Dekrit Presiden 5 juli 1959".

Maka pertanyaan kami "Negara Yang Di Indonesia" sekarang ini bern ama apa? Republik Indonesia atau Negara Kesatuan Republik Indonesia, jadi RI ataukah NKRI? Kami tanyakan ini karena di mana-mana yang terdengar dan terpampang selalu "NKRI Harga Mati". Apa maksudnya ini? Indonesia Negara RI bukan Negara NKRI

Wassalam

----------

http://www.dataphone.se/~ahmad/070817a.htm

Offline bobbarky

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2007
  • Tulisan: 17
    • Lihat Profil
« Jawab #80 pada: 22 November 2007, 02:44:30 »
Perbedaan antara Dienul Islam dengan Dien Thoghut

Dienul Islam
Tujuan   : Ridho Allah QS 2:207
Proses   : Fii Sabilillah QS 4:76
Sumber  : Al-Qur'an & As-Sunnah QS  45:20

Dien Thoghut
Tujuan   : Kekuasaan/kepuasan nafsu QS 40:56
Proses   :  Fii Sabilitoghuti QS 4:76
Sumber  : - Hawa nafsu QS 23:71, QS 25:43
              - Tradisi QS 2:170, QS 12:40
              - Mengikuti kebanyakan orang QS 6:116
              - Prasangka QS 10:66
              - Ilah selain Allah Q5 2:165 QS 40:73-74

Kewajiban seorang muslim dalam menyikapi taghut :

1. “yakfur biththoghut” = mengingkari thagut

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. QS 2:256

2. ‘”wajtanibuththoghut” = menjauhi thaghut

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). QS 16:36

3. “faqotiluu auliya’asysyaithon” = memerangi kawan-kawan syaithon (jika sudah memiliki kekuatan)

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah QS 4:76

Seseorang mungkin saja mengaku dirinya seorang muslim tapi dia  tidak bisa berlepas diri dari thaghut atau malah dengan sukarela untuk berada dalam naungan sistem thaghut dan membelanya mati-matian untuk mencari dalil dalam melegitimasi nafsunya.

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. QS 4:60

Asbabun nuzul ayat Qs 4:60 :
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Abu-barzah al-Aslami seorang pendeta yahudi biasa mengadili kaumnya yang menyelesaikan perselisihan diantara mereka. Pada suatu waktu datanglah Kaum Muslimin meminta bantuan penyelesaian daripadanya. Maka turunlah ayat tersebut diatas sebagai teguran untuk meminta bantuan penyelesaian kepada thaghut.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan at-Tabarani dengan sanad yang sahih yang bersumber dari Ibnu Abbas

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah". (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali QS 60:4


 






Offline jesus_son_of_god

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2007
  • Tulisan: 2
    • Lihat Profil
« Jawab #81 pada: 25 Desember 2007, 11:56:35 »
Hakikat Negara dalam Perspektif al-Qur'an
Sampai saat ini masih banyak di antara kaum Muslimin sendiri yang bertanya-tanya, apakah ada penjelasan mengenai negara dalam al-Qur'an dan al-Hadits? Bagaimana jika kita juga bertanya, apakah ada penjelasan al-Qur'an tentang rumah sakit dan sekolah, mulai dari SD sampai perguruan tinggi? Mengapa kita tidak pernah menyoal adanya rumah sakit dan sekolah-sekolah tersebut?
Rumah sakit pada dasarnya karena ada kebutuhan akan kesembuhan, serta perintah Islam agar kaum Muslimin berobat ketika menderita sakit. Baik al-Qur'an maupun al-Hadits tidak pernah memerintahkan untuk mendirikan rumah sakit, tapi karena adanya perintah untuk menjaga kesehatan dan berobat ketika sakit, maka rumah-rumah sakit menjadi alternatif jawabannya.
Demikian pula dengan sekolah. Tidak satupun perintah, baik dalam al-Qur'an maupun as-Sunnah untuk mendirikan sekolah atau universitas. Yang kita dapati dalam al-Qur'an dan as-Sunnah adalah banyaknya perintah kepada kaum Muslimin untuk menuntut ilmu. Bahkan perintah yang pertama turun, sebelum turunnya perintah apapun adalah amar untuk membaca. Itulah wahyu Allah yang pertama, 'iqra. Atas dasar perintah itulah, maka manusia berkreasi. Lahirlah sekolah-sekolah dari jenjang yang paling rendah hingga yang paling tinggi. Jadi sekolah hanya sarana melaksanakan perintah menuntut ilmu.
Demikian juga jika kita membolak-balik al-Qur'an, dari lembar pertama hingga lembar terakhir tidak dijumpai satu ayatpun yang secara eksplisit memerintahkan kaum Muslimin mendirikan negara dan pemerintahan Islam. Akan tetapi banyak sekali perintah al-Qur'an dan as-Sunnah yang baru bisa dilaksanakan secera efektif bila ada negara dan pemerintahan Islam. Salah satu contoh adalah ayat berikut ini:
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung." (Ali Imraan: 104)
Menurut sebagian ahli tafsir, yang dimaksud dengan segolongan ummat sebagaimana dalam ayat di atas adalah pemerintahan yang sah. Bisa jadi unsur-unsur dalam masyarakat Muslim melaksanakan fungsi amar ma'ruf dan nahi 'anil munkar sebagaimana yang diperintahkan ayat di atas, akan tetapi akan jauh lebih efektif jika dilaksanakan oleh sebuah pemerintahan, sebab hanya pemerintahlah yang mempunyai hak paksa, yang mengharuskan rakyat untuk taat pada otoritasnya.
Apalagi di negara-negara berkembang, pemerintah selalu mengambil peran yang sangat besar dalam mengatur urusan masyarakat, mulai dari yang belum lahir, misalnya dengan program keluarga berencana (KB), hingga urusan orang yang sudah mati (dinas pemakaman), lebih-lebih terhadap urusan orang yang masih hidup.
Urusan orang yang masih hidup pada dasarnya bisa dibagi menjadi dua, yaitu segala hal yang berurusan dengan al-ma'ruf dan yang berkaitan dengan al-munkar. Untuk yang ma'ruf, seperti membangun ekonomi yang adil, sistem pertanahan yang sejahtera, pembagian amanah kekuasaan, serta santunan bagi kaum dhuafa' akan lebih efektif diurus oleh sebuah departemen, dalam hal ini departemen sosial. Untuk urusan kemakmuran, dibentuklah departemen ekonomi, perdagangan, keuangan, dan lain sebagainya.
Dalam segala hal yang berkaitan dengan munkarat, kebatilan atau tindak kejahatan, pemerintah membentuk lembaga peradilan, mulai dari kepolisian, kejaksaan, hingga pengadilan. Lembaga-lembaga itu mempunyai hak paksa, untuk penyelidikan, penyidikan, penahanan, hingga memenjarakan. Bahkan terhadap pelaku kebatilan atau kejahatan yang melakukan perlawanan, aparat negara berhak melumpuhkan hingga mematikan.
Dalam hal ini tidak ada individu, kelompok, atau organisasi kemasyarakatan yang mempunyai otoritas dan alat paksa seperti negara dalam hal mencegah kebatilan. Sanksi yang bisa diberikan masyarakat hanya sebatas sanksi moral, bukan sanksi hukum. Terhadap pelaku kejahatan yang masih punya nurani, sanksi moral mungkin masih bisa efektif. Akan tetapi terhadap mereka yang sudah "kebal", hanya sanksi fisik yang dapat mencegahnya dari perbuatan jahat.
Tidak termuatnya gagasan mengenai negara dalam al-Qur'an dan as-Sunnah sama sekali bukan karena Allah Subhanaahu wa ta'ala alpa atau Rasulullah Salallaahu 'alaihi wa salam lupa. Ketiadaan perintah eksplisit itu mengandung isyarat memberi ruang cukup bagi manusia untuk berijtihad dan berkreasi dalam rangka memilih cara yang paling efektif untuk melaksanakan aturan Allah. Pada saat ini mungkin yang paling tepat adalah dalam bentuk negara, tapi pada masa yang akan datang dimungkinkan dalam bentuk lain, yang sampai saat ini kita sendiri belum mengetahuinya.
Islam tidak pernah menjadikan negara sebagai salah satu pokok keyakinan, tidak pula menjadikannya sebagai salah satu ajaran prinsipnya, apalagi sebagai ritual keagamaan. Dalam konsepsi Islam, hubungan 'agama' dengan 'negara' tidak bisa digabungkan, tidak pula dipisahkan. Artinya antara keduanya hanya bisa dibedakan.
Lebih jelasnya, negara tidak bisa diagamakan. Negara tak lebih dari alat atau media, atau bahkan sebuah syarat untuk terlaksananya sebuah aturan atau perintah Allah. Jika aturan atau perintah itu hanya bisa terlaksana jika menggunakan alat berupa negara, maka keberadaan negara menjadi wajib. Kewajiban mengadakan syarat atau alat itu sama besarnya dengan pelaksanaan aturan itu sendiri. Dalam hal ini berlaku dalil ushul fiqih:
"Sesuatu syarat yang tidak sempurna (suatu amal) tanpanya, maka juga menjadi wajib hukumnya."
Pentingnya negara dalam lingkungan masyarakat Muslim adalah suatu kenyataan yang tidak dapat dibantah oleh mereka yang berakal.
Dalam ajaran islam, ada hak-hak Allah berupa huduud yang ditetapkan secara qath'i dalam al-Qur'an maupun as-Sunnah yang tidak bisa diintrepretasikan lagi kecuali dilaksanakan apa adanya. Pelaksanaan huduud hanya mungkin terjadi di negara yang telah diislamisasi.
Pungutan zakat yang dikumpulkan dari masyarakat Muslim (muzakki) merupakan salah satu rukun Islam. Pelaksanaannya bisa lebih efektif jika dilakukan oleh negara. Pelaksanaan qishash (hukum mati untuk pembunuh) dan segala konsekuensinya seperti menghadirkan saksi yang benar, mengatur hukum, kodifikasi hukum yang telah menjadi nash al-Qur'an dan as-Sunnah, penerbitan undang-undang yang belum ada nashnya, termasuk pembentukan lembaga legislatif sebagai pembentuk perundangan, mengharuskan adanya Islamisasi keanggotaan dan loyalitas terhadap syari'at Islam.
Selain lembaga yang bersifat legislatif, yang menjalankan fungsi yudikatif dan eksekutifnya juga perlu diislamisasi. Ketiga lembaga di atas berkewajiban memelihara kemaslahatan Islam, menegakkan kepentingan bermusyawarah secara Islami dalam urusan kaum Muslimin, melaksanakan kewajiban da'wah, memelihara kemerdekaan dan berijtihad dalam rangka memperoleh kemerdekaan itu, serta berjihad untuk membela negara yang telah diislamisasi.
Lebih dari itu semua, pentingnya negara merupakan sarana untuk mengaplikasikan ayat al-Qur'an yang mewajibkan kaum Muslimin untuk mentaati ulil amri yang berasal dari mereka. Kewajiban rakyat untuk mentaati para pemimpin yang telah menjalankan amanah tugasnya tertuang dalam al-Qur'an: "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Al;lah (al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (an-Nisaa: 59)
Al-Qur'an tidak hanya menyeru rakyat untuk mentaati para pemimpin, tapi juga memberi batasan terhadap karakter tugas para pemimpin tersebut, yaitu menyampaikan amanah menurut ajaran Islam kepada mereka yang berhak menerimanya, juga menegakkan keadilan di antara rakyat yang dipimpinnya. Dengan demikian maka Islamisasi para penguasa merupakan keniscayaan, yang apabila tidak dilaksanakan akan merusak sistem dan tatanan dalam kehidupan masyarakat. Terhadap para penguasa tersebut al-Qur'an menegaskan:
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (an-Nisa: 58)
Didahulukannya ayat yang menjelaskan tentang batasan karakter tugas para pemimpin dari kewajiban rakyat untuk mentaati pemimpinnya merupakan logika sehat yang sangat adil. Dalam prakteknya, loyalitas rakyat biasanya dituntut secara berlebihan, sementara tugas dan amanah kepemimpinan justeru dibelakangkan. Logika terbalik seperti ini tidak diterima oleh Islam. Karenanya, dalam hal ketaatan ini, rakyat hanya wajib taat kepada pemimpinnya yang telah menjalankan amanah, di samping tidak untuk berbuat maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.
Batasan lain yang perlu diperhatikan pada dua ayat di atas adalah bahwa para pemimpin itu adalah orang-orang yang Islami yang berasal dari ummat yang Islami. Karenanya loyalitas rakyat Muslim tidak diberikan kepada sembarang 'penguasa'.
Apabila terjadi perselisihan antara penguasa dan rakyatnya, antara hakim dan orang yang berperkara, maka al-Qur'an memberi penegasan bahwa rujukannya hanya Allah (al-Qur'an) dan Rasul (as-Sunnah). Kedua rujukan ini tidak memiliki legitimasi hukum yang valid kecuali bila kekuasaan dan negara berkarakter Islami. Dengan demikian maka Islamisasi negara dan Islamisasi pusat-pusat kepemimpinan merupakan kewajiban yang harus ditanggung oleh setiap orang yang mengimani Allah, Rasul-Nya dan hari kemudian.
Atas dasar itulah maka Ibnu Taimiyah mewajibkan kaum Muslimin untuk mendirikan pemerintahan Islam. Dalam kitabnya ia menulis:
"Kewajiban untuk mendirikan pemerintahan itu adalah karena ajaran Islam. Pemerintahan itu dimaksudkan untuk mengabdi kepada Allah swt. Pengabdian kepada Allah dengan pimpinan melalui cara mentaati segala peraturan Allah dan Rasul-Nya merupakan sifat pendekatan diri kerpada Allah yang paling baik. Allah Swt telah memerintahkan kepada kaum Muslimin untuk melaksanakan amar ma'ruf dan nahi 'anil munkar, menegakkan keadilan, melaksanakan hukum huduud (pidana), menolong orang-orang yang teraniaya, jihad fi sabilillah (perang). Hal-hal itu semua tidak mungkin dapat dilaksanakan dengan baik tanpa adanya pemerintahan Islam yang memiliki kekuasaan dan kekuatan."
Senada dengan Ibnu Taimiyah, seorang Ulama Mesir, Abdul Qadir Audah berpendapat:
"Agama Islam mewajibkan bahwa negara itu harus berdiri di atas asas Islam dan wajib pula hukum, politik, peraturan-peraturan dan segala kebijaksanaan yang ada pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat harus bersumber kepada nilai-nilai ajaran Islam dan harus tegak di atas landasan Islam."
Negara, meskipun bukan termasuk kewajiban yang langsung diperintahkan al-Qur'an, dan bukan pula termasuk rukun Islam, akan tetapi bila tidak ada maka banyak sekali syari'ah agama yang tidak dapat dilaksanakan. Seperti diketahui, terdapat banyak perintah agama yang tidak hanya diberikan kepada individu tapi juga kepada ummat manusia, yang tidak mungkin dapat dilaksanakan kecuali dengan perantaraan negara.
Islamisasi negara adalah keharusan. Mustahil melaksanakan tugas keislaman tanpa negara yang bersifat Islami. Sama halnya mustahil melaksanakan ideologi Liberalisme-Kapitalisme di suatu negara yang totaliter. Atau sebaliknya, mustahil mengaplikasikan ideologi Totalitarisme, Marxisme, dan Fasisme di negara yang bersifat liberal. Demikian pula dalam dunia Islam, mustahil untuk dikatakan bahwa Islam yang universal ini dapat berdiri tegak secara universal tanpa didukung oleh kekuatan, negara dan segala penopangnya yang loyal kepada sistem Islam. Wallahu a'lam.

Offline ummufarhan

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2007
  • Tulisan: 355
  • Lokasi: Malaysia
    • Lihat Profil
« Jawab #82 pada: 25 Desember 2007, 13:05:20 »
mereka sibuk menjadi "warga negara" tetapi lalai sebagai mu'min.
dan mereka berteriak lantang memperjuangkan Islam, mereka hanya berjalan di atas mimpi mereka...

seperti ada benarnya .
tulah sifat seorang insan selalu lalai dan lupa. tetapi apa yang menyebabkan iman, ilmu dan amal kita terkordinir ialah apabila syariat dapat ditegakkan. mendirikan negara berarti menegakkan undang undang. dan ini adalah satu kewajiban .
di zaman rasul saw dan sahabat,  maksiat pun masih berlaku kerana tidak semua muslim bisa sampai kepada tahap mukmin . tetapi syariat dan undang undang mampu menghukum pesalah dibanding undang undang buatan manusia yang tidak seragam dan membebankan.

di zaman rasul saw  pun masih ada pribadi pribadi muslim yang tidak mau memberi  markah penuh kepada pribadi pribadi muslim yang lain. tetapi dengan jaminan rasulullah saw banyak pribadi pribadi yang kita golongkan masih nil tetapi dijamin syurga. malah semua yang ikut perang Badar dijamin syurga.

s. Abu bakar dan s. Umar tidak disukai oleh pengikut ekstremis s. Ali. S. Usman dianggap bersikap pilih kasih dan s. Ali pun dituduh syubahat dengan pembunuhan s. usman. Ketiga tiga sahabat mati dibunuh, menyayat hati kan ? siapa boleh menilai seseorang dengan tepat ?. sayyiditina Aisyah malah ikut andil dalam perang jamal walaupun dia teringat hadis hadis yang pernah Nabi saw ucapkan ttg. isteri Nabi saw yang ikut perang.

dalam tugas keimanan adalah menegakkan yang diperintah . " barangsiapa yang  taat kepada Allah maka akan diberi padanya jalan keluar ". islam bukan hanya memberi markah kepada satu satu orang tetapi adalah menguat kuasakan sistem sosial yang terjamin untuk umat manusia.
hati tenang hidup senang

Offline azzam muhammad

  • myQ Junior
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2007
  • Tulisan: 199
  • Lokasi: INDONESIA
  • Jenis kelamin: Pria
  • SATUKAN AQIDAH MENUJU MARDHOTILAH
    • Lihat Profil
« Jawab #83 pada: 26 Desember 2007, 16:13:13 »
AS.... Afwan sebelumnya,, :) walaupun ane bkan NII tpi ane salut dengan perjuanganya yang sangat gigih dan tidak gentar melawan para musuh ALLAH  demi tegaknya LIKALIMATILLAH.... akhi janganlah kita saling memvonis bahwa NII itu sesat, karna boleh jadi yang memfonis itulah yang sesat ingatlah QS alhujurat ayat 11. yang artinya " Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. .... takutlah kepada Allah SWT... cman ane punya sdikit ilmu nih..... NII itu terbagi 2 ada NII yang murni dan ada NII yang tidak murni yang dimna NII yang tidak murni inilah yang dipkai musu2h NII asli untuk melemahkan atau membubarkan NII asli... mungkin yang akhi maksud NII yang sesat adalah NII yang tidak murni atau tiruan..
sekali lagi akhi janganlah kita saling menghina/memvonis/mencap seseorang atau golongan... ingatlah QS Alhujurat ayat 6 yang artinya "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.


WALLAHU A"LAM :) :) :)


KATAKAN TIADA ILLAH KECUALI ALLAH PASTI MENANG

Offline Djoejoe

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2007
  • Tulisan: 1
    • Lihat Profil
« Jawab #84 pada: 26 Desember 2007, 16:40:12 »
@atas ku
ane sependapat dengan antum tentang NII yang terbagi 2 itu...

Offline jesus_son_of_god

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2007
  • Tulisan: 2
    • Lihat Profil
« Jawab #85 pada: 26 Desember 2007, 23:39:02 »
di luar dari apakah ada di NII asli atau palsu, hari ini benar dan salah sudah tidak bisa terlihat..
sesuai di Qs 2:8
"Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian ," pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. "

sesungguhnya benar dimata Allah hanyalah..Qs s 8:74

"Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan , mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki  yang mulia."

hari ini kita hanya bisa melihah plus minus saja..
jadi kita lihat saja siapa yg benar2 melakukan perbaikan dimuka bumi ini, dialah yg benar
siapa?
NII asli?
NII palsu?
Al qiyadah?

"Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu  tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu , niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar." Qs 8:73

"Dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi ". Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan." " Qs 2:12

jadi jelas bahwa orang2 kafir lah yg membuat keruskan di muka bumi...

jadi jika antum merasa benar...
perbaikan kongkrit apa yg sudah antum lakukan di muka bumi khususnya Indonesia?

Offline ummufarhan

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2007
  • Tulisan: 355
  • Lokasi: Malaysia
    • Lihat Profil
« Jawab #86 pada: 27 Desember 2007, 07:32:08 »
berminat ke NII ? mintalah petunjuk dari Allah SWT .  sholat istiharah pun mampu menyelesaikan masalah orang yang kebingungan atau sholat hajat ...

kalau saya taat kepada suami saja sudah jaminan syurga.
hati tenang hidup senang

Offline suryaningsih

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2006
  • Tulisan: 499
  • Lokasi: Jakarta Selatan
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
« Jawab #87 pada: 01 Januari 2008, 14:12:05 »
suami yang bagaimana nich ???  :)

Offline ummufarhan

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2007
  • Tulisan: 355
  • Lokasi: Malaysia
    • Lihat Profil
« Jawab #88 pada: 01 Januari 2008, 16:04:06 »
suami yang bagaimana nich ???  :)
suami yang tidak mensyirikkan Allah, mengajak kepada kabaikan dan  menjauhi yang mungkar. NII kan satu wadah . atau termasuk aqidah  ?. di era Mekah kan boleh saja saja. nanti  kalau ditentukan ada era madinah pasti kita semua berpeluang hijrah.. kita tunggu  proklamasi madinah supaya jelas yang haq dan yang batil. jangan berhenti berdoa kerana proklamasi madinah sudah tentu yang haq dan akan lenyaplah yang batil.

kebatilan tidak leenyap kerana yang haq pun membingungkan sih !
hati tenang hidup senang

Offline cha MUTz

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Jan 2008
  • Tulisan: 1
    • Lihat Profil
« Jawab #89 pada: 07 Januari 2008, 12:32:45 »
awalnya juga gue posting banget masuk dunia ini..
secara, pedomannya itu emang dari al-Quran.
ajaran yang dikasih dari ayat-ayatnya itu semua bener..
cuma, kalo gue pikir sekarang..
yang salah dari sana adalah cara mereka melakukan pengorbanannya.
yang namanya agama, tidak akan pernah menyulitkan umatnya.., apalagi harus berhutang !
di Quran.. (2/267)
dikatakan,
wahai orang-orang beriman !, infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik..
-jelas-jelas tertulis sebagian dari hasil usaha kita sendiri !
kalaupun kita cuma punya uang 100000, ya sudah.. berikan saja sebagian dari uang kita.
kenapa juga kita harus berdusta ?
oke, kalau orang2 sana bilang ini strategi.
tapi, apakah mereka juga sudah benar dengan keyakinannya ?
N.Muhammad sendiri tidak pernah mengajarkan berdusta walaupun demi kebaikan..
menyelamatkan harta orang tua ?
kenapa bisa dibilang seperti itu kalau itu menyulitkan orang tua ?
harta itu bukan harta kita, jadi kita tidak bisa seenaknya mempergunakan tanpa sepengetahuan orang tua.
kalau orang tua tidak boleh tahu, ya sudah jangan pakai harta orang tua !
pakai harta diri kita sendiri.
seandainya kita tidak memberi, kenapa juga harus dipaksa ?
N.Muhammad kan tidak pernah mengajarkan kita untuk memakan harta dengan jalan yang batil.
mengambil harta orang kafir aja ngga boleh !.., apalagi sesama muslim !

walaupun gue udah keluar, tapi gue masih berhubungan baik dengan orang2 dunia sana.
karena bagaimanapun juga kita tidak boleh memutuskan tali silaturahmi.
biar aja mereka dengan keyakinannya masing-masing. kenapa juga harus dihujat ?

gue cuma pengen ngasih tau..
gue keluar, karena gue merasa ngga sepaham aja disana.
tapi, gue inget. kalo ada yang salah, pasti ada yang benar.
dan gue mencari kebenaran itu.

diTV sering gue liat sekelompok Ahmadiyah diserang, dibakar rumahnya, dihujat, dibilang sesat.
kenapa juga harus begitu sementara mereka shalat, mereka puasa, mereka menyembah Allah ? toh mereka juga tidak meresahkan ?
wong orang NII aja banyak yang didalamnya ngga pernah shalat, tapi ngga sampe diserang atau dibakar !
dari situ gue cari tahu..
Masya Allah..
dari sini gue dapat semua kebenaran.
gue dapet jawaban dari semua keraguan.
cuma pengen ngasih tahu aja..
kita harus lihat dulu dalamnya, baru bisa berbicara !
gue masih umur 17 kok !
tapi, ternyata gue lebih bahagia ada di lingkungan ahmadiyah.
saran gue,,
dialog dulu aja tentang ahmadiyah..
bisa juga kok kirim email di
ahmadi.love4all@yahoo.com

oh ya, kalo mau berbagi pengalaman sama gue..
email aja di cha.greenholic@yahoo.com ;)