18 Mei 2013, 13:33:54
Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar. Apakah anda lupa aktivasi email FaceBook Login -->
Board Khusus "Khusus Muslimah"

myQuran - Komunitas Muslim Indonesia


myQ Selasar, sekilas info: H-17 dari myQuran Futsal Cup 2, Segera daftarkan Team Futsal anda | Selamat datang di myQuran, komunitas muslim indonesia..


Sebaik-baik wanita ialah wanita Anshar, (karena) perasaan malu tidak menghalangi mereka untuk memahami agama (HR Bukhari)

img_iklan_board/1719518865.gif

Penulis Topik: Shurul Khan Ni Thifan Po Khan Wa Syufu Taesyukhan  (Dibaca 17232 kali)

Offline tanpanama

  • myQ Perambah
  • *
  • Tulisan: 252
  • Laboratorium Bahasa & Komputer Digital Terpadu
    • Lihat Profil
    • Purwanto on the Web
Shurul Khan Ni Thifan Po Khan Wa Syufu Taesyukhan
« pada: 27 Februari 2007, 04:01:07 »
Dari forum sebelah...

Kalo temen2 pernah nonton serial TV Pedang dan Kitab Suci, yaitu berkisah tentang persekutuan antara partai bunga merah dan pendekar- pendekar muslim untuk menggulingkan dinasti manchu, maka pendekar- pendekar muslim itulah para Badur/ Pendekar dari negeri Thifan.

Thifan itu sendiri terletak di sebelah utara- barat Republik Rakyat China, atau sekarang masuk wilayah daerah otonomi Xinjiang dan sekarang lebih sering disebut dengan Turfan.
Turfan itu sendiri pada masa lalu adalah salah satu kota yang dilewati jalur sutra, hingga merupakan daerah persinggungan antara budaya timur dan barat.

Thifan/ turfan terdiri dari mayoritas muslim dari suku wigu/ uighur/ , tartar, moghul, kittan, fattan, tayli dan juga suku hui.
Islam masuk mulai abad ke 2 hijriah, atau abad 9 masehi, seiring dengan datangnya para pedagang arab dan persia serta semakin kuatnya pengaruh Kekhalifahan abbasiyah di Baghdad.

Kitab Zhodam

Hikayat Thifan Pokhan tertulis dalam kitab Zhodam ( Darah Juang ) yang ditulis oleh Badur/ Pendekar Ahmad Syiharani.
Isi kitab itu berupa hikayat, atau cerita turun temurun yang diceritakan dari mulut ke mulut hingga tidak bisa dijadikan sebuah acuan sejarah menurut ilmu modern, tetapi keakuratannya lebih tinggi dari legenda ataupun dongeng.

Kitab ini tertulis dalam bahasa urwun, dan diterjemahkan ke dalam bahasa melayu kuno oleh Hang Nandra Abu Bakar, seorang hulubalang kerajaan Aceh.

Adapun kitab ini berisi tentang perkembangan Shurul Khan ( Thifan Pokhan dan syufu Taesyu Khan ) dan tentang hikayat para Badur/ Pendekar, Shuku/ Guru, dan Ahund/ Ustad Shurul Khan

Badur/ Pendekar Namsuit

Beliau adalah seorang Mongol, ayahnya tewas di medan perang ketika ia masih dalam kandungan, lalu ibunya menikah dengan seorang pria bangsa tayli dan masuk Islam.
Sejak kecil ia dimasukkan ke lanah/ pesantren/ tempat pendidikan untuk
belajar agama islam dan ilmu beladiri.

Ia mempelajari dan mengembangkan Jurus pukulan dan tendangan orang turki/ Uighur, kemudian menggubah cara tangkisan orang turki, tayli, kitan mongol dan kai sehingga tercipta Jurus Wigu Po'er / tinju dan tendangan wigu.

Ia juga menciptakan beberapa jurus, yaitu :

- Fuke Koyli Ey Pend : Panda dambakan anggur
- Tsude Ne Fit : ungkitan pelana
- Firgi Kho Me' Ni : Simpuhan anak angin
- Noug Ogul Babay : Ksatria usir perintang
- Tedsyu Ey : Ungkit batu karang
- Tse Ul Ni Kay : Serangan anak kelana
- Kayla uzi Cak : Mendorong kereta emas
- Korey Ni Fuen : Kepak elang kembar
- Teutgul Te kay : Sikut Emas

Juga ia menciptakan beberapa jurus berdasarkan gerakan hewan yaitu :

- Baber Te'er : Jurus harimau
- Pila Te' er : Jurus Bangau
- Thos Te' er : Jurus Merak

Juga ia menciptakan jurus rahapan/ cakaran/ Cengkraman

- Nesti Peyne' : Kepala ayam jantan merahap
- Fuku Ne'i : Rahapan kera ketika di panah
- Fuku Ne'i Seng Ey : Rahapan kera padamkan lampu
- Gio Gul Ne'i Kutsin : Bunga tertiup angin
- Neyt Tetsy : Rahapan bidadari
- Tudsy Kai Tsen : rahapan kelelawar

Dan ia menciptakan jurus Ling Zwe Kawt Te Kum /Naga Menumbuk Gunung berdasarkan mimpinya melihat dua ekor naga sedang berkelahi.

Jurus- jurus tersebut diatas diteliti dan digubah kemudian di coba dalam perkelahian dan turgul/ adu tanding, juga di uji dengan berbagai macam senjata.

Ia berteman dengan Badur Je'nan dan bersama menggubah dan meneliti kungfu Shaolin dan berdua menciptakan ilmu perkelahian " Shurul Khan/ Siasat Raja.

space dicadangkan (0)

Offline tanpanama

  • myQ Perambah
  • *
  • Tulisan: 252
  • Laboratorium Bahasa & Komputer Digital Terpadu
    • Lihat Profil
    • Purwanto on the Web
Re: Shurul Khan Ni Thifan Po Khan Wa Syufu Taesyukhan
« Jawab #1 pada: 27 Februari 2007, 04:01:45 »
Kelebihan Badur Namsuit ialah dath panasnya yang luar biasa, hingga apabila ia bertarung terlihat telapak tangannya berwarna kemerahan, menyala seperti bara api, juga ia bisa meremukkan batu dengan genggaman tangannya.
ia berteman dengan murid dan juga sahabatnya, Badur Je'nan hingga akhir hayatnya.
Oleh karena itulah, ilmu perkelahian Badur Namsuit ini disebut sebagai dasar dari Thifan Pokhan dan Syufu Taesyukhan.

Badur/ Pendekar Je'nan.

Badur Je'nan adalah seorang anak keturunan bangsawan Tayli.
Mulanya ia adalah seorang Ahund/ ustad muda yang pandai ilmu agama islam.
Jalan hidupnya berubah ketika pada suatu hari ia berdebat agama dengan seorang suku Han.Dalam debat itu, orang Han itu kalah dan tidak terima dengan penjelasan Je'nan lalu memukul Je'nan dan meludahi mukanya.Karena tidak berani, Je'nan tidak melawan, tapi dalam hatinya ia berfikir " Kenapa aku seorang lelaki begini lemah, seperti seorang penari kerajaan saja ".
Lalu ia mendatangi lanah tempat berlatih beladiri dan mulai belajar Wigu Po'er/ pkulan dan tendangan wigu. Ia tetap sabar walau dilanah itu ia sering " dikerjai oleh seniornya ".
Hingga suatu hari ia bertemu dengan Badur Namsuit, yang pada saat itu sudah berumur sekitar 100 tahunan tapi bisa memutuskan rantai besi dengan tangannya, lalu ia memohon kepada badur Namsuit supaya mau menerimanya menjadi murid.

Karena Je'nan seorang yang pandai ilmu agama islam, maka ia diterima menjadi murid Badur Namsuit.
Maka Je'nan pun berlatih Wigu Po'er dan belajar jurus pada Badur Namsuit secara diam- diam.
Setelah enam bulan, karena kepandaian dan bakatnya, ia sudah menguasai semua ilmu dari Badur Namsuit sudah dikuasai.
Ia pun mendatangi lanah tempat ia pertama berlatih dan menantang semua orang di lanah tersebut yang pernah melecehkannya dulu dan ia mengalahkan mereka semua dengan mudah, ia pun mendatangi orang Han yang pernah meludahinya dan juga mengalahkannya.

Kemajuan Je'nan yang sangat cepat ( dalam tempo 6 bulan ) membuat semua orang kagum dan heran, karena sangat jarang orang yang bisa menguasai ilmu beladiri yang hebat dalam waktu singkat.
Hal itu sebenarnya tidaklah mengherankan mengingat Je'nan dapat menghafal 30 Juz Al- Qur'an dan hafal 1000 Hadist, karena konon orang yang seperti itu dapat mempelajari apa saja dengan mudah.

Atas petunjuk Badur Namsuit, maka Je'nan mengembara ke timur untuk mencari ilmu beladiri yang terkenal yaitu Kungfu Shaolin sekaligus menyebarkan agama islam.Dalam perjalanan itu dikisahkan ia banyak bertarung dengan para perampok dan pendekar- pendekar dari berbagai aliran dan tak pernah ia kalah.

Hingga pada suatu ketika ia berhasil memperoleh sebuah kitab kungfu Shaolin dari seorang pendekar miskin dari aliran Shaolin dengan cara membayar semua hutangnya.Adapun sebelumnya pendekar itu tersebut memperoleh kitab itu dari seorang pendekar pemabuk dan menukarnya dengan segentong arak.Adapun nama kitab ilmu Shaolin tersebut kurang jelas namanya.

Je'nan kembali ke Thifan dan bersama Badur Namsuit mengkaji Ilmu Shaolin dan menggabungkannya dengan jurus- jurus thifan.
Setelah dikaji dan dihilangkan semua unsur- unsur yang bertentangan dengan syariat islam maka terciptalah Ilmu Perkelahian " Shurulkhan " yang merupakan cikal bakal Thifan Pokhan dan Syufu Taesyukhan.

Offline tanpanama

  • myQ Perambah
  • *
  • Tulisan: 252
  • Laboratorium Bahasa & Komputer Digital Terpadu
    • Lihat Profil
    • Purwanto on the Web
Re: Shurul Khan Ni Thifan Po Khan Wa Syufu Taesyukhan
« Jawab #2 pada: 27 Februari 2007, 04:04:01 »
Terpecahnya menjadi 9 aliran

Selanjutnya seiring dengan ketenarannya, Badur Je'nan membuka lanah tempat untuk belajar Shurul khan dan juga belajar agama dan banyaklah orang-orang yang datang baik untuk belajar.Diantaranya juga badur tua Namsuit gurunya, ikut pula belajar agama dari Badur Je'nan, sehingga hubungan keduanya semakin erat.

Karena Je'nan seorang ulama ahlus sunnah/ mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW yang tegas, maka ia selalu mengajarkan kepada murid- muridnya agar tidak melakukan amalan agama yang tidak sesuai dengan Al- qur'an dan Hadist.
Ini berlawanan dengan sebagian besar ulama Thurfan pada waktu itu, yang menganut paham sufi dan sinkretisme, yang lebih mementingkan urusan akhirat dan cenderung melupakan urusan dunia, dan juga memakai amalan-- dan ibadah yang tidak sesuai dengan Al- qur'an dan hadist.
Para ulama itu bahkan memfatwakan bahwa belajar beladiri itu bukan ajaran islam karena mengandung unsur kekerasan dan tidak sesuai dengan ajaran islam yang artinya damai dan keselamatan untuk seluruh alam.
Sedangkan menurut Badur Je'nan, belajar beladiri itu wajib bagi umat islam untuk membeladiri dan mempersiapkan diri apabila suatu saat negeri islam diserang oleh negeri luar, apalagi pada waktu itu kerajaan China/ Mongol sedang giat melakukan ekspansi.

Karena semakin banyak masyarakat yang berguru kepada Badur Je'nan, maka para ulama yang iri itu memfitnah Je'nan dihadapan sultan, dengan mengatakan bahwa badur Je'nan akan memberontak.
Hal ini diperkuat dengan adanya seorang tamid/ murid yang bernama Abayt yang berkhianat karena tergiur oleh godaan hadiah yang banyak.
Maka sultan yang juga seorang pemimpin zalim dan haus kuasa itu mengirim pasukannya untuk memberantas Lanah Badur Je'nan.

Dengan 50 orang tamid/ murid utamanya, badur Je'nan dibantu Badur tua Namsuit bertempur melawan pasukan Sultan.
Karena jumlah yang tidak seimbang maka 41 orang tamid Badur Je'nan gugur, termasuk Badur tua Namsuit, tapi sebelum ajal menjemput, Badur Namsuit memerintahkan kepada Je'nan yang terluka untuk menyelamatkan diri.
Maka, dengan terluka parah, Badur Je'nan mundur dari pertempuran dan berkuda ke arah barat.
Selain itu ada 9 orang tamid Badur Je'nan yang berhasil lolos dan berpencar satu sama lain.
Ke 9 Tamid tersebut belum ada yang berhasil mempelajari Shurul Khan secara keseluruhan, sehingga mereka secara tidak langsung menciptakan aliran Shurul Khan masing- masing.
Ke 9 murid itu bernama payug, orlug, tae fatan, bahroy, syirulgul,suyi, krait, naiman, dan seorang murid terakhir Badur Namsuit yang membawa aliran namsuit.Mereka mendirikan lanah- lanah rahasia dan sangat selektif dalam memilih murid, mengingat bahwa hancurnya lanah Shurulkhan karena pengkhianatan seorang Tamid Pengkhianat.
Syarat itu adalah hanya untuk kaum bangsawan dan hafal al- qur'an serta hadist Nabi.
Adapun Badur Je'nan tidak diketahui jelas nasibnya, ada yang bilang ia menetap di turki, adapula yang mengatakan ia tewas.
Tapi yang jelas, pengorbanan Badur Je'nan dan Badur Namsuit tidak akan terlupa diantara para tamid Thifan Pokhan dan Syufu Taesyukan.

Sedang negeri Thifan tak lama sepeninggalnya Badur Je'nan hancur lebur diserang oleh bangsa China dan Mongol dengan mudah dan hampir tanpa perlawanan.
Karena pemahaman agama yang salah, maka seluruh negeri mendapatkan akibatnya dan dijajah oleh negeri asing.

Itulah sekelumit hikayat yang terdapat dalam Kitab Zhodam, selain kisah Badur Namsuit dan Je'nan, terdapat pula kisah Para Badur baik aliran Thifan Pokhan maupun Syufu Taesyukhan dengan spesialisasi masing- masing.
Ada yang ahli Dath panas, ada yang ahli Dath dingin, ahli rahapan, ahli cakar dll.

Karena keterbatasan penulis ( belum baca yang versi lengkap ) maka tidak semua Kisah para Badur tersebut yang ditulis disini, karena kisah mereka tidak terlalu berperan dalam sejarah shurul Khan, juga karena adanya beberapa perbedaan penafsiran kitab Zhodam ( terutama dalam soal waktu kejadian, umur para badur dll ) dikarenakan Kitab Zhodam adalah kitab hikayat maka tidak bisa dijadikan pegangan sejarah, meskipun para tokoh/ Badur yang tertulis adalah benar pernah hidup di masa lalu.

Badur Ahmad Syiharani.

Inilah sang penulis Kitab Zhodam, selain itu ia juga menulis kitab Jurus ( Thifan Pokhan dan Syufu Taesyukhan ) dan juga kitab pengobatan Thifan.
Ialah tokoh yang berhasil mengumpulkan aliran Shurulkhan yang terserak dan menjadikannya 2 aliran yaitu Thifan Pokhan/ kepalan raja thifan, dan syufu Taesyukhan/ gerakan raja.
Thifan Pokhan mengutamakan tehnik- tehnik bertarung tingkat tinggi dan kecepatan serta kelincahan gerak, hingga lebih cocok digunakan oleh orang yang bertubuh kecil ( orang tartar, han, hui ), sedangkan Syufu taesyukhan mengutamakan kekuatan dan tehnik sederhana namun efektif seperti bantingan dan cengkraman, sehingga cocok digunakan oleh orang bertubuh besar ( uighur, turki, arab ). Tetapi dalam segala sesuatu didunia selalu ada perkecualian.
Adapun mengenai tokoh ini, masih kontroversi.
Pendapat pertama bahwa tokoh ini benar adanya.
Pendapat kedua bahwa nama Ahmad Syiharani adalah nama samaran, dikarenakan faktor keselamatan dan untuk menjaga kerahasiaan.
Pendapat ketiga bahwa tokoh ini adalah samaran dari beberapa tokoh yang bersama menyusun kitab diatas.

Mengenai benar tidaknya pendapat- pendapat diatas, maka yang terpenting adalah bahwa Badur Ahmad Syiharani telah mewariskan dan mewakafkan ilmu yang berguna bagi umat manusia, khususnya umat islam.

Penyebaran di Indonesia

Ketika kerajaan Aceh berdiri di sumatera, maharaja Aceh ketika itu ( Malik Muzzafar Syah atau Sultan Iskandar Muda. Wallahualam ) mengundang para pendekar dari turkistan/ thifan untuk menjadi pelatih beladiri tentara kerajaan aceh.
Hal ini mungkin atas bantuan dari Khalifah Turki Ustmani/ Ottoman Turk yang merupakan pemimpin Kekhalifahan Islam, dan kerajaan Aceh adalah salah satu persemakmuran kekhalifahan Turki.

Para Badur itu datang membawa pula Kitab Zhodam, kitab jurus dan kitab pengobatan.
Ketiga kitab itu di terjemahkan ke dalam bahasa melayu kuno oleh seorang hulubalang/ pejabat kerajaan aceh yaitu Hang Nandra Abubakar.
Dari sinilah awal mula tersebarnya Thifan Pokhan dan syufu Taesyukhan di Indonesia.

Tuanku Rao membawa ilmu ini ke daerah sumatera utara, riau, dan daerah sumatera yang lain, juga menyeberang ke malaka/ malaysia.
Selain itu karena ketidakstabilan politik di asia tengah, maka banyak orang- orang muslim tartar yang bermigrasi ke nusantara, terbanyak ke daerah Batavia dan jawa barat membawa serta Thifan Pokhan dan Syufu taesyukhan.

Ustad AD Marsedek.

Beliaulah yang memperkenalkan Thifan pokhan untuk masa modern, dan masih keturunan asli tartar ( Nama Marsedek adalah dialeg urwun untuk Umar Sidik )khususnya di Jawa Barat dan merupakan Guru Besar Thifan Pokhan di Indonesia.
Ini bermula ketika jaman orla ketika PKI sedang berjaya, banyak santri, ustad yang menjadi incaran orang komunis ( mirip dengan revolusi budaya China di jaman Mao Tse Tung ).
Untuk menghadapinya, maka banyak para santri dan ustad di jawa barat yang belajar Thifan Pokhan.
Juga pada waktu itu banyak tumbuh aliran beladiri dari luar dengan membawa budaya negeri asalnya yang tidak sesuai dengan nilai keislaman, maka melihat keadaan itu maka Ustad Marsedek mengajarkan Thifan Pokhan sebagai pilihan bagi umat islam yang ingin mempelajari beladiri yang islami.
Menurut senior- senior Thifan ( maklum, saya masih Junior nih ), pada waktu dulu latihannya dilakukan pada malam hari dan tanpa lampu, karena masih mengikuti metode asli Thifan Pokhan jaman dahulu.

Tetapi setelah Jaman orde baru, orang yang berlatih Thifan mulai sedikit.
Mungkin dikarenakan PKI sudah tidak ada, dan ada yang bilang karena tekanan dari rejim orde baru yang agak " alergi " dengan sesuatu beladiri yang berbaju islam ( mirip jaman Badur Je'nan ).
Sesuai kondisi jaman pula, maka sekarang bukan hal yang tabu lagi bila ingin berlatih Thifan Pokhan.Banyak lanah/ tempat latihan Thifan dimana- mana, dan tidak harus lagi hapal 30 juz al- qur'an atau hapal 1000 hadist.
Cuma ada satu syarat yang tidak boleh dilanggar, dan tidak akan berani dilanggar, yaitu sesuai petuah para Badur Thifan di masa lalu
" Bahwa ilmu ini di wakafkan/ diberikan cuma- cuma untuk umat islam dan untuk membela islam "

Jadi, mohon maaf, hanya Muslim yang boleh belajar Thifan Pokhan, bukan berarti Thifan benci atau memusuhi agama lain, tapi hanya menjaga amanat dari pendahulu yang mengorbankan segala yang mereka punya demi menciptakan dan melestarikan ilmu ini.
Juga tidak menjadikan Ilmu ini untuk kepentingan pribadi, seperti untuk mencari uang atau nama besar, karena yang sudah- sudah, kalo ada tamid/ badur niatnya seperti itu biasanya kualat..he..he.

Offline tanpanama

  • myQ Perambah
  • *
  • Tulisan: 252
  • Laboratorium Bahasa & Komputer Digital Terpadu
    • Lihat Profil
    • Purwanto on the Web
Re: Shurul Khan Ni Thifan Po Khan Wa Syufu Taesyukhan
« Jawab #3 pada: 27 Februari 2007, 04:04:52 »
Thifan itu bukan beladiri yang khusus mempelajari tenaga dalam atau kami menyebutnya dath.
Dath itu sendiri adalah tenaga terpendam yang sudah dimiliki manusia sejak lahir, dan akan timbul dengan sendirinya kalau kita latihan dengan rajin.
Memang ada senam khusus untuk mempercepat timbulnya dath dalam tubuh, tapi kita di thifan tidak memfokuskan untuk memperoleh dath.

permainan senjata di thifan ada, terutama pedang, yang diambil dari permainan pedang orang turki saljuk dan kurdi, juga tongkat, tombak dll

Setahu saya thifan tidak tergabung dalam organisasi apapun dan tidak ada pertandingan prestasi, cuma ada eksebisi untuk intern aja.

trims

Offline tanpanama

  • myQ Perambah
  • *
  • Tulisan: 252
  • Laboratorium Bahasa & Komputer Digital Terpadu
    • Lihat Profil
    • Purwanto on the Web
Re: Shurul Khan Ni Thifan Po Khan Wa Syufu Taesyukhan
« Jawab #4 pada: 27 Februari 2007, 04:12:45 »
Dah pada baca Novel SAMITA "Bintang Berpijar di Langit Majapahit"? Katanya yg udah baca ilmu silat tokoh utamanya di novel itu pake jurus-jurus aliran Thifan Pokhan sama belakangan dia ngamuk di keraton majapahit pake jurus Hanacaraka.

Di situ diceritakan kalau guru thifannya adalah laksamana Cheng Ho. Bener gak nih klaim penulisnya, kalau Cheng Ho itu, ilmu beladirinya Thifan? Ada yang punya literatur sejarahnya?

Trus nama-nama jurus dan ilmu tenaga dalam yang disebut disana bener nggak ada di aliran thifan?

No Offense ya, cuma pengen tahu aja...

Offline tanpanama

  • myQ Perambah
  • *
  • Tulisan: 252
  • Laboratorium Bahasa & Komputer Digital Terpadu
    • Lihat Profil
    • Purwanto on the Web
Re: Shurul Khan Ni Thifan Po Khan Wa Syufu Taesyukhan
« Jawab #5 pada: 27 Februari 2007, 04:13:27 »
Syufu Taesyukhan itu lebih berkembang di daerah Turki, uzbek, dll, bahkan issu terakhir nih, pejuang kemerdekaan Cechnya pake Syufu Taesyukhan sbg beladiri mereka.

Offline tanpanama

  • myQ Perambah
  • *
  • Tulisan: 252
  • Laboratorium Bahasa & Komputer Digital Terpadu
    • Lihat Profil
    • Purwanto on the Web
Re: Shurul Khan Ni Thifan Po Khan Wa Syufu Taesyukhan
« Jawab #6 pada: 27 Februari 2007, 04:14:07 »
Dath itu adalah kekuatan dalam diri kita yang bisa kita keluarkan dengan cara latihan gerak dipadukan dengan olah nafas.Kalo dibeladiri lain mungkin disebut tenaga dalam atau chi.
Semakin sering kita latihan, semakin cepat kita mengeluarkan dath tersebut.
Dalam Thifan khususnya thifan tsufuk yang ane pelajari, tidak seperti beberapa beladiri lain yang cenderung melatih tenaga dalamnya dengan memasang posisi kuda- kuda tertentu sambil melakukan tehnik pernafasan,
kalo kita diharuskan selalu bergerak/ berjurus cepat sambil mengatur nafas, hingga daht ini disebut dath dinamic.
Dath dinamic ini yaitu dath yang diharapkan/ diinginkan dapat keluar ketika kita dalam keadaan lengah sekalipun ( lagi bengong tau-tau diserang, maka kita bergerak secara reflek )
selain itu kita diajarkan senam thifan, ya gambarannya senam tersebut seperti latihan beladiri lain, kita ambil nafas lalu disalurkan ke bagian tubuh tertentu, tapi ini tidak ada porsi khusus pada waktu saya latihan, cuma disarankan buat latihan dirumah.

Waktu yang paling disarankan untuk latihan yaitu pada waktu dinihari ketika udara lagi dingin- dinginnya untuk dath dingin dan atau tengah hari ketika sedang panas- panasnya untuk dath panas, atau keduanya kalo bisa, he he he.

Dalam thifan tidak ada patokan tingkat dalam memperoleh dath tersebut, pokoknya siapa yang latihannya rajin, punya bakat, dan ridho Allah tentunya,maka ia bisa cepat memperoleh dath, meskipun baru dapet tehnik/ jurus awal, kaya Badur Je'nan yang cuma latihan 6 bulan bisa ngalahin pendekar- pendekar yang lebih senior.

Offline tanpanama

  • myQ Perambah
  • *
  • Tulisan: 252
  • Laboratorium Bahasa & Komputer Digital Terpadu
    • Lihat Profil
    • Purwanto on the Web
Re: Shurul Khan Ni Thifan Po Khan Wa Syufu Taesyukhan
« Jawab #7 pada: 27 Februari 2007, 04:15:53 »
Ketika kita berlatih maka kita menyerap energi alam disekitar kita melalui udara yang kita hirup, dan karena jika waktu malam udara dingin dan tumbuhan disekitar kita mengeluarkan zat karbon monoksida yang bersifat zat racun, maka dath yang kita dapat sifatnya racun dan dingin.
Sebaliknya, bila dilatih siang hari saat udara panas, maka kita menyerap hawa panas dan tumbuhanpun mengeluarkan oksigen, maka dath kita adalah bersifat panas dan menghanguskan.
Dan katanya juga, kalo kita dah punya Dath yang mumpuni, sebuah jurus sederhanapun bisa mematikan, ...tapi masalahnya susah banget buat dapetin dathnya.

Offline tanpanama

  • myQ Perambah
  • *
  • Tulisan: 252
  • Laboratorium Bahasa & Komputer Digital Terpadu
    • Lihat Profil
    • Purwanto on the Web
Re: Shurul Khan Ni Thifan Po Khan Wa Syufu Taesyukhan
« Jawab #8 pada: 27 Februari 2007, 04:21:43 »
Shurukhan berasal dari Thifan/ Turfan, sekarang di Prov. otonomi Xinjiang di RRC,dulu disebut Turkistan Timur, Mayoritas penduduknya muslim dari etnis Uighur/ wigu yang masih satu rumpun bahkan disebut sebagai nenek moyang bangsa Turki yang bermigrasi ke daerah barat. Jadi Thifan itu asalnya beladiri orang- orang turkistan timur yang bercampur dengan beladiri dari mongol, tartar dan china

Offline tanpanama

  • myQ Perambah
  • *
  • Tulisan: 252
  • Laboratorium Bahasa & Komputer Digital Terpadu
    • Lihat Profil
    • Purwanto on the Web

Offline tanpanama

  • myQ Perambah
  • *
  • Tulisan: 252
  • Laboratorium Bahasa & Komputer Digital Terpadu
    • Lihat Profil
    • Purwanto on the Web

Offline wigu badur

  • myQ Junior
  • *
  • Tulisan: 158
    • Lihat Profil
Re: Shurul Khan Ni Thifan Po Khan Wa Syufu Taesyukhan
« Jawab #11 pada: 28 Februari 2007, 19:11:18 »
Assalaamu'alaikum,...Salam kenal nih Bang tanpe name...subhanallah,semoge info-nyee banyak manpaatnye buat kite-kite nih...para Thifanner khususnye buat ane nih yang masih sangat awwam... :toe:

Oo iye...ngomong-ngomong soalnye film-nye "Pedang dan Kitab Suci".ane udeh pernah nonton tuh,...udeh khatam sih...klo ngga salah ingat name pemeran utamanye itu Chen Jia Lo-yee (ketua perkumpulan partai bunga merah) sedangkan yang dari suku Hui-nye Pendekar Akhwat, klo nggak saleh namanye Qin Tong... ::)

tapi Bang Tanpa Name,...dalam film itu nggak terlalu ditonjolkan yee keistemewaan ilmu bela diri suku Hui (muslim) dan lebih mengangkat kisah kerahasiaan kaisar Qin (manchuria) yang ternyata berdarah Han dan bersaudara kandung dengan Chen Jia Lo...
inti-nye menarik juga sih soal-nye diakhir kisah Si Chen Jia Lo itu dinyatakan masuk muslim setelah kematian kekasihnye yang notabene seorang Muslimah. :hihi:

Oo iye...gini Bang Tanpa Name...ane pengen diskusi nih...menurut Bang Tanpe Name,...semua keilmuan Thifan po-Khan wa Syufu Tae Syukhan itu dituliskan secara keseluruhan dalam Kitab-kitab-nye (kitebni shurul khan nie Thifan Po-Khan wa Syufu tae Syukhan) atau masih banyak teknik-teknik rahasia yang hanya diturunkan melalui metode pengajaran langsung dari seorang Guru/ahund ke murid/tamid-nyee...?

Syukran nih atas kesediaannye Sharing ... %peace%

Offline tanpanama

  • myQ Perambah
  • *
  • Tulisan: 252
  • Laboratorium Bahasa & Komputer Digital Terpadu
    • Lihat Profil
    • Purwanto on the Web
Re: Shurul Khan Ni Thifan Po Khan Wa Syufu Taesyukhan
« Jawab #12 pada: 01 Maret 2007, 03:19:18 »
hihiii

Kaifa Haluk bang Wigu Badur, menurut saya sih ilmu-ilmunyah masih ada lah yang disimpen, itu kalau saya melihat dari umumnya penurunan/pewarisan ilmu beladiri. Bang, ajari aku...

Offline tuingtuing

  • myQ Setia
  • *
  • Tulisan: 9.698
  • Grrr... gue jitak!!!!
    • Lihat Profil
Re: Shurul Khan Ni Thifan Po Khan Wa Syufu Taesyukhan
« Jawab #13 pada: 02 Maret 2007, 16:58:00 »
Kutip
Kelebihan Badur Namsuit ialah dath panasnya yang luar biasa, hingga apabila ia bertarung terlihat telapak tangannya berwarna kemerahan, menyala seperti bara api, juga ia bisa meremukkan batu dengan genggaman tangannya.
ia berteman dengan murid dan juga sahabatnya, Badur Je'nan hingga akhir hayatnya.
Oleh karena itulah, ilmu perkelahian Badur Namsuit ini disebut sebagai dasar dari Thifan Pokhan dan Syufu Taesyukhan.

waduh bang...nanti dikira belajar ilmu syrik nih...bisa meremuk batu
Saya tidak menyembah tuhan yang bisa ketusuk, kelaperan, dan kagak bisa nyuruh pohon berbuah 

Inna-Llaha 'ala kulli syaiin qadiir... :)

Offline tanpanama

  • myQ Perambah
  • *
  • Tulisan: 252
  • Laboratorium Bahasa & Komputer Digital Terpadu
    • Lihat Profil
    • Purwanto on the Web
Re: Shurul Khan Ni Thifan Po Khan Wa Syufu Taesyukhan
« Jawab #14 pada: 03 Maret 2007, 01:45:14 »
telapak besi shaolin yg dilatih secara fisik aja bisa ngremukkin botol kok... hehee

 

myAgenda!
myQomunitas!
mySholat!
Jadwal Sholat
Jadikan juga info seperti jadwal sholat ini pada websites mu :
myPromo-Deal!
Pernak-Pernik
  • myQripik produk baru!
  • Jaket
  • Kaos
  • Kalender
  • Stiker

SatNet
Mobile | myQ wiki | Quran Flash | Android | ChitCh@t | Plug-in | Radio | FB myQ Group
(c) 1999-2013, myQuran
Refresh Your Life!
Powered by SMF 2.0.4 | SMF © 2006–2010, Simple Machines LLC
Halaman dibuat dalam 0.564 detik dengan 20 queri.