Brigadir Jenderal Polisi Dr. H. Untung S. Rajab Mendakwahkan al-Quran di mana saja 
Setiap orang yang mendengar kata polisi, maka yang terkesan adalah kedisiplinan, kaku, dan angker. Bertemu dengan mereka berarti berhadapan dengan kesan-kesan tersebut. Namun kesan tersebut ternyata tidak selamanya benar. Ketika Sahabat Quran mengunjungi Markas Besar Polri beberapa waktu lalu, kami disambut dengan suasana kehangatan dan kekraban, baik oleh staf karyawan maupun oleh tuan rumah yang kali ini kami wawancarai.
Meskipun jabatan yang disandangnya kini adalah Brigadir Jenderal, namun tidak ada kesan angkuh dan sombong muncul dari beliau. Beliau adalah Dr. H. Untung S. Rajab, yang saat ini berpangkat Brigadir Jenderal (Brigjend), bertugas di Bareskrim Mabes Polri.
Profil beliau sangat menarik diangkat terkait dengan kepribadian yang dimiliki oleh seorang Petinggi Polisi. Ketika wawancara hendak dilakukakan, kami diminta untuk menunggu beliau yang sedang melakukan sholat zhuhur. Inilah salah satu komitmen kuat yang ada pada beliau, tetap ingat pada kewajiban agama di tengah kesibukan pekerjaan dan tugas-tugasnya.
Banyak hal yang beliau ceritakan dalam wawancara bersama reporter Sahabat Quran. Pak Untung menjelaskan bahwa apa yang dia lakukan selama ini di kepolisian adalah bagian dari tugas profesinya sebagai anggota polisi dan sebagai pribadi seorang Muslim. Bagi Pak Untung, menjadi polisi tidak hanya dituntut untuk profesional dalam mengemban tugas. Lebih dari itu, sebagai Muslim, niat menjalankan dakwah dalam pekerjaan juga harus tertanam.
Dakwah adalah kewajiban setiap Muslim di mana pun dia berada dan berprofesi. 
Hal itu beliau buktikan dengan memberikan teladan yang baik di lingkungan kerjanya, baik itu dengan bawahan maupun atasannya, bahkan kepada masyarakat, yang secara langsung ia hadapi. Baginya, dakwah bil hal, dengan pemberian tauladan langsung merupakan sarana yang paling tepat dalam berdakwah. Dengan merendah, beliau selalu mengatakan bahwa beliau tidak pantas untuk memberikan ceramah-ceramah agama di atas mimbar, mengajak orang secara luas, karena bukan di situ keahliannya. Walau begitu, bukan berarti kewajiban mendakwahkan al-Quran gugur begitu saja.
Kita semua yakin kalau al-Quran itu adalah benar serta dapat memberikan berkah dalam kehidupan. Sayangnya tidak semua orang yakin atas itu. Maka tugas kita yang sudah yakin inilah membuat orang-orang yang ada disekitar kita yakin. Ujarnya di sela-sela wawancara.
Adapun hal-hal kongkrit yang beliau lakukan sebagai bukti dari dakwahnya
adalah menasehati rekan kerja dan bawahan untuk selalu mengaji. 
Seperti misalnya bila ada seorang anggota Polisi yang menghadap kepadanya kemudian minta arahan dan petunjuk darinya, maka Pak Untung akan bertanya apa agamanya? Kalau dia Muslim maka bawahannya itu disarankan untuk membaca al-Quran sampai khatam, karena al-Quran adalah sumber petunjuk, demikian menurut Pak Untung.
Dakwah seperti ini Saya lakukan dengan suasana yang tidak formal. Ketika kumpul satu orang, saya akan berusaha menasehatinya. Ketika ada kumpul lima orang, maka sebaik mungkin saya pergunakan kesempatan itu untuk saling menasehati, karena itu perintah al-Quran.Kesempatan tersebut semakin terbuka luas ketika dirinya diberikan amanah sebagai pemimpin. Dengan kepercayaan tersebut, Pak Untung menggunakannya untuk menegur kesalahan dan kekeliruan yang dilakukan oleh bawahannya secara lebih mudah. Ketika ada bawahan yang menyalahgunakan profesinya, maka Pak Untung akan segera menegur dan mengingatkan bawahannya akan nilai-nilai agama. Saya akan selalu mengingatkan mereka bahwa suatu saat nanti mereka akan mati dan mempertanggungjawabkan semua perbuatan mereka. Dan kematian itu bisa datang kapan saja. Ini tidak hanya peringatan untuk mereka saja sebenarnya. Peringatan ini sebenarnya peringatan untuk saya juga. Karena kalau kita ingat kematian, kita tidak akan berpikir lagi untuk berbuat dosa, kesalahan, dan kezaliman. Makanya, Sayyidina Ali pernah mengatakan bahwa cukuplah kematian menjadi peringatan dan pegangan dalam kehidupan kita. Itu yang berulang kali saya katakan kepada anak buah saya. Paparnya.
Maka tidak heran kemudian bila rekan kerja yang sempat kami temui mengatakan bahwa Pak Untung adalah sosok pemimpin yang ideal. Beliau tidak hanya profesional dalam kerja, lebih dari itu beliau adalah pemimpin spiritual yang pantas dijadikan teladan bagi bawahan-bawahannya.
Tidak berhenti di situ saja. Pak Untung juga pernah mengadakan semakan al-Quran rutin di lingkungan kepolisian sebagai usaha untuk mendakwahkan dan mendekatkan anggota polisi kepada al-Quran. Hal tersebut dilakukan sebagai salah satu usaha untuk mendatangkan keberkahan al-Quran di kepolisian.
Selain itu, sebagai bukti kecintaan dan komitmennya dalam mendakwahkan al-Quran,
bapak tiga anak ini mendirikan sebuah pondok pesantren bagi siswa-siswa yang kurang beruntung dan terancam putus sekolah yang ingin menghafalkan al-Quran.
Beliau membiayai segala kebutuhan para santri yang ada di pesantren tersebut. Dari pada saya pergunakan uang saya untuk pergi ke klub dan cafe-cafe yang mungkin memberikan kebahagiaan sesaat, saya lebih baik mempergunakan uang saya untuk membantu anak-anak tersebut, yang tentunya mendatangkan kebahagiaan yang sesungguhnya kepada saya. Dan tentunya, saya melakukan hal tersebut karena Allah menyukai itu. Paparnya.
Sebagai Jenderal polisi, Pak Untung merasa bahwa tanggung jawabnya saat ini bukanlah hal yang ringan. Karena keadilan dari Umara (pemerintah), dimana saat ini beliau berada, adalah salah satu pilar yang bisa mengantarkan suatu negara dan bangsa menuju kerahmatan. Inilah tugas kita, keadilan kita sangat menentukan nasib bangsa ini. Karena seperti yang disabdakan oleh Nabi Muhammad, pilar kebahagiaan umat adalah keadilan dari umara, keilmuan para ulama, dan doa para faqir miskin. Saat ini posisi kita adalah sebagai pemimpin bangsa. Maka sudah seharusnya kita menegakkan keadilan tersebut. Ujarnya kepada rekan kerja yang pada kesempatan tersebut turut dalam obrolan Sahabat al-Quran.
Inilah tokoh umara, pemimpin yang patut dijadikan contoh oleh para pemimpin-pemimpin bangsa lainnya.

sumber:
SAHABAT AL-QURANhttp://sahabatal-quran.blogspot.com/2008_01_01_archive.html
Kolonel H. Lukman Saksono; Staf Ahli TNI AD ahli Struktur al-Quran[/b][/color]

Lukman Saksono, seorang Staf Ahli Litbang TNI Angkatan Darat. Ditemui Sahabat Quran di kantornya, pria yang lahir di Kediri tanggal pada tanggal 25 September 1951 dan meraih gelar Profesor di Harvard International University, USA dalam bidang Manajemen juga Professor in Philosophy, Northern California Global University, USA tahun 1991 ini menuturkan pengalaman hidupnya hingga menghasilkan sebuah karya berjudul Dasar Psikologi Al-Quran. Siapa sangka, seorang Letnan ABRI memiliki pemahaman luas tentang keislaman, termasuk ilmu laduni yang menjadi salah satu senjata beliau dalam penyusunan buku ini, berikut reportasenya.
Bapak sebagai sumber inspirasi
Di awal perbincangan, beliau menuturkan bahwa beliau sangat mengagumi Bapak beliau yang bernama Ashraf. Bapak Ashraf sendiri lahir di Kediri, anak ke 15 dari 16 bersaudara yang hampir semuanya adalah tentara.
Ketika berkunjung ke Pesantren Mualimat, di situlah ayahanda Bapak Lukman bertemu dengan ibunda tercintanya. Ternyata, Bapak Ashraf juga pernah menjadi santri di sebuah pesantren yang mengajarkan ilmu hikmah, yakni ilmu yang di antaranya menjadikan ayat-ayat Al-Quran sebagai penyembuh.
Sosok Bapak di mata Pak Lukman adalah sosok yang tampan, cerdas, pesilat hebat, seorang senimanBapak Ashraf ahli menggambar wayang, mengerti karakteristik tokoh-tokoh perwayanganditambah, beliau memiliki tulisan tangan yang bagus, latin maupun Arab. Saya pernah ditantang untuk menulis arab dengan menggunakan khat Farisi, jelas Pak Lukman bersemangat.
Selain itu, setiap pulang dari tugas dinas, Bapak Ashraf senantiasa membawa pulang dua hingga empat dus. Beliau tidak pernah mengatakan apa isinya, blek..diletakkan begitu saja.. Sampai suatu ketika Lukman remaja pun bertanya kepada ibunya. Ternyata, setelah dibuka, dus-dus itu berisikan berbagai macam buku. Buku-buku regional seperti tentang Palopo, Manadotergantung daerah yang dikunjungi, maupun buku-buku dari berbagai belahan dunia, Mesir dan sebagainya. Beliau tidak membawa kue, makanan tetapi BUKU, imbuh beliau dengan mata berbinar.
Tidak hanya itu, sedari kecil, Bapak Lukman telah ditanamkan kecintaan terhadap buku. Ketika mengunjungi Uwak dan Paman-pamannya, Bapak Lukman selalu disangoni uang sekitar 50 hingga 100 perak. Uang itu kemudian ia belanjakan untuk membeli buku. Ada tiga toko buku beliau sambangi. Buku-buku yang ia beli antara lain seperti Pedoman Pembagian Pusaka terbitan al-Maarif, Sendi Agama, bahkan buku yang harusnya baru dipelajari di Madrasah Aliyah habis dilalapnya.
Gemar Membaca Al-QuranSewaktu kecil, tetangga Bapak Lukman membuka pengajian kecil-kecilan dari jam 15.00 sampai 17.00 WIB. Kecil-kecilan karena pengajian tersebut diadakan di ruang tamu, dan jumlah santrinya pun belum terlalu banyak. Seiring perjalanan waktu, warga kampung pun turut memberikan perhatian, sehingga didirikanlah madrasah yang berada di samping masjid, dan dinamakan madrasah al-Huda.
Bapak Lukman yang termasuk angkatan pertama rajin mengikuti pengajian ini, jikalau pagi hingga siang beliau sekolah, dilanjutkan dengan sekolah Arab sore harinya, lalu diteruskan dengan Pengajian Malam, Bahkan kita sampai tidur di masjid kala itu kenang Pak Lukman. Terkadang pada hari-hari tertentu, dengan berkendara sepeda, Bapak Lukman dan kawan-kawan pergi ke lain desa untuk berguru kepada H. Abdul Halim, untuk mengikuti pelajaran Qiraat al-Quran(Nagham).
Ketika SMA, beliau telah memiliki ratusan murid ngaji. Pengajian itu diadakan di serambi rumah. Pengalaman mengajar yang lain, beliau yang sering menjuarai event-event perlombaan berbagai tingkat itu pernah mengajar tilawah santri wanita, tapi dari balik tabir.
Soal membaca Al-Quran jangan ditanya, beliau telah mengaji di Pondok Pesantren Pedes Jombang dengan Ustadz Munawir tentang bagaimana mengucapkan makharij al-huruf dengan baik. Satu minggu itu hanya untuk belajar membaca al-Fatihah dengan makhraj yang benar, imbuh beliau.
Beliau juga memohon doa kepada Ustadz Munawir agar Allah memberinya kesempatan untuk mewujudkan cita-citanya menjadi tentara, dan jawaban Ustadz Munawir hanyaDADI KOWE!!
Berbekal doa dan niat yang kuat, Bapak Lukman pun berusaha dengan giat mempersiapkan diri untuk masuk AKABRI. Beliau yang masih duduk di SMAN Kediri itu pun membeli buku contoh-contoh soal ujian SMA. Ia juga kerap bertanya kepada mahasiswa AKABRI tentang apa saja yang harus dipersiapkan, maka dengan giat beliau latihan fisik, membeli buku-buku yang melatih kemampuan Inteligent Quotience(IQ), dan latihan itu ia jalani berulang-ulang untuk mendapatkan hasil yang baik. Akhirnya, beliau pun diterima di AKABRI, padahal masih duduk di bangku SMA dan beliau yang satu rating dengan Presiden SBY ini pun menjadi anggota termuda di angkatannya
Ketika masuk AKABRI, beliau merasa kagum dengan kedisiplinan yang ada di lembaga negara ini. Termasuk dalam hal shalat, beliau menjelaskan bahwa kegiatan shalat selalu dikontrol, siapa yang tidak menunaikan shalat, terutama shalat yang sifatnya massal seperti shalat berjamaah dan shalat jumat, maka ada sanksinya. Begitu juga dengan penganut agama lain, manakala tiba waktu menjalankan ibadah, setiap orang wajib mengikutinya, sesuai dengan kepercayaannya masing-masing, Kalo hari Minggu umat Kristiani pergi ke gereja, maka yang beragama Islam menunaikan shalat subuh, kata beliau.
Bapak Lukman yang merupakan anak sulung di keluarganya ini adalah taruna yang berani menghadap Menteri Agama pada waktu dia masih menjadi Sersan Taruna, Prof Dr. HA. Mukti Ali. Sersan Lukman menyatakan kegelisahannya kepada Bapak Mukti Ali bahwa di asrama AKABRI, taruna non Islam memiliki identitas jelas di setiap lemarinya, oleh karena itu, Bapak Lukman memohon kepada beliau agar menyediakan untuk taruna muslim memiliki Terjemah Al-Quran di setiap meja belajar, Kaligrafi bertuliskan lafal tahlil, juga disediakan sajadah di gantungan handuk para taruna muslim. Dan untuk pertama kali dalam sejarah, setiap taruna memiliki terjemah Al-Quran, Kaligrafi bertuliskan Laa Ilaaha Illallah serta sajadah sebagai wujud identitas mereka sebagai muslim aku beliau.
Kedisiplinan beragama juga tampak ketika shalat Jumat, setiap shalat Jumat wajib diabsen. Beliau juga pernah menginstruksikan agar para taruna tidak hanya melaksanakan shalat di lingkungan kampus, tapi juga ke luar kampus. Bahkan para taruna pernah menempuh jarak Magelang-Yogya untuk mengikuti kuliah subuh.
Akibatnya, teman-teman beliau mengakui, bahwa mereka jadi semakin rajin menjalankan ibadah semenjak masuk AKABRI.
sumber:
SAHABAT AL-QURANhttp://sahabatal-quran.blogspot.com/2008_01_01_archive.html