Mengorok, Jangan Dianggap Remeh!
Senin, 18 September 2006
http://www.metrobalikpapan.co.id/berita/index.asp?id=53287TIDUR mendengkur tidak hanya mengganggu orang lain, jika disertai dengan henti napas, mengorok bisa menimbulkan gangguan kesehatan, seperti darah tinggi, jantung, impotensi, bahkan stroke.
Kebiasaan mendengkur sejak zaman purba sudah dikenal sebagai bagian tidur. Dahulu kala kaum pria lazim mengorok karena fungsinya melindungi diri dari serangan hewan hutan.
Tapi zaman telah berubah. Di era modern ini mengorok bukan lagi kebiasaan yang lazim. Bahkan kini kebiasaan mengorok bukan saja menjadi persoalan individu saja, tapi juga persoalan orang lain, terutama teman tidur yang terganggu dengan suara dengkuran.
Mendengkur ada beberapa jenis. Ada jenis mengorok ringan yang hanya ditemukan apabila kondisi badan sangat lelah. Kebiasaan ini menyerang hanya sekali dalam sebulan.
Ada pula jenis abnormal, yang artinya gejala mendengkur ini bisa terjadi setiap malam. Problem ini bisa diatasi dengan cukup memiringkan badan saja.
Nah, jenis yang paling berat adalah mengorok yang disertai dengan henti nafas atau apnea.
Problem mendengkur yang berat tersebut secara medis disebabkan oleh gejala gangguan sumbatan pernapasan pada saat tidur (obstructive sleep apnea/OSA).
Penderita henti napas dapat terjadi sesering mungkin pada saat tidur, bahkan bisa mencapai ratusan kali dalam satu malam. Bahkan beberapa dari mereka napasnya berhenti dalam jangka waktu satu menit atau lebih.
Berdasarkan gejala itu, tim medis beberapa negara menemukan adanya indikasi lain bahwa mendengkur bisa jadi menjadi pemicu gejala penyakit lain.
Menurut penelitian National Institute of Health, lebih dari 12 juta warga negara Amerika Serikat menderita sumbatan pernapasan saat tidur (sleep apnea) atau bisa juga disebut henti napas.
Sebagian besar penderita mengorok ini terjadi di lebih dari 40 juta penduduk AS dengan tingkat usia lebih dari 40 tahun. Dari jumlah itu sebagian besar pasien pria dan mayoritas meninggal karena gangguan jantung.
Selain penyakit jantung, penyebab lainnya adalah tekanan darah tinggi, menurunnya daya ingat, impotensi, bahkan stroke. Hal ini disebabkan karena pada saat mendengkur yang disertai dengan henti napas kurang lebih selama satu menit atau lebih secara berulang-ulang, akan mengurangi asupan oksigen dalam tubuh.
Akibatnya tubuh yang kekurangan oksigen selama bertahun-tahun itu akan memicu munculnya gejala berbagai penyakit.
Dalam jangka pendek, henti nafas itu juga memiliki efek langsung yang dapat dirasakan antara lain membuat tidur kurang nyenyak, sehingga pada siang harinya penderita merasakan kepenatan dan mengantuk.
Selain itu, ada efek ikutan seperti produktivitas kerja menurun, daya ingat lemah, kemampuan intelektual berkurang, masalah seksual, bahkan depresi.
"Seseorang yang menderita gangguan tidur juga memiliki risiko enam kali kecelakaan lebih besar dibandingkan mereka yang tidak memiliki gangguan tidur," ujar Damayanti Soetjipto, dokter spesialis THT RS MMC Kuningan, Jakarta.
Beragam cara dilakukan untuk mengurangi kebiasaan mendengkur. Salah satu cara yang baru-baru ini diperkenalkan oleh RS MMC Jakarta dengan operasi pemasangan implan pada jaringan lunak atau yang disebut dengan prosedur implant pillar.
Tiga implant pillar sepanjang 18 milimeter dan berdiameter dua milimeter dimasukkan dan ditanamkan ke dalam jaringan otot lunak atau pal.molle langit-langit lunak (palatum) dengan menggunakan alat khusus.