Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Senin, 21 Mei 2012/29 Jumadil Akhir 1433 H : Imsak 4:26:49 - Shubuh 4:33:13 - Terbit 5:55:03 - Dzuhur 11:49:33 - Ashar 15:11:32 - Maghrib 17:44:04 - Isya' 18:57:25 WIB

Penulis Topik: Seputar Hukum musik  (Dibaca 4438 kali)


Offline exblopz

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 5.083
  • Lokasi: Malang
  • Jenis kelamin: Pria
  • Pingin ke Masjid Nabawi
    • Lihat Profil
    • Abu Aisyah Official Web Site
« Jawab #15 pada: 11 Desember 2006, 17:07:04 »
Abdulllah bin Mas'ud berkata: "Demi Allah maksudnya adalah nyanyian". (Silakan lihat Sunanul Kubra karangan Al Baihaqi (X/223) dan Tafsir Al Qurthubi (VIII/5134)).

Diriwayatkan juga oleh Imam At Tirmidzi rahilmullah dan imam lainnya sebuah hadits yang menyebutkan bahwa ayat itu turun berkenaan dengan para biduanita dan penegasan bahwa uang hasil penjualan mereka haram hukumnya (tidak halal). Sekiranya kita sebutkan hadits-hadits dan atsar-atsar yang diriwayatkan dalam masalah ini tentu buku ini tidak akan dapat menampungnya. Kami telah menulis buku tersebdiri berkenaan dengan buku ini. (Saya belum menemukan buku Ibnu Katsir yang membahas tentang musik ini, bisa dari ikhwan sekalian yang mau membantu saya?).

Adapun menjadikannya sebagai alat mendekatkan diri kepada Allah dan sebagai ajaran agama yang dijalankan untuk meraih pahala, maka itu adalah bid'ah yang sangat keji, tidak ada seorang nabipun yang mengatakan demikian. Dan tidak pernah sama sekali diturunkan dalam kitab-kitab suci dari langit. Bahkan hal itu sangat mirip dengan orang-orang yang diceritakan Allah Subhanahu wa ta'alaa yang artinya:

Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau. (Q.S Al An'am ayat 70).

Dan Allah Subhanahu wa ta'aala berfirman yang artinya:

Ibadah mereka disekitar Baitullah itu lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu. (Q.S Al Anfaal ayat 35).

Yaitu tepuk tangan dan siulan. Jelas saja rebana dan seruling lebih dhasyat lagi. Dalam sebuah hadits shahih riwayat Muslim dalam shahihnya disebutkan bahwa rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

Lonceng itu adalah seruling setan (HR. Muslim no 2114, dengan lafal: "Lonceng itu merupakan seruling bagi setan". Abu Daud dalam sunannya no. 2556, Ahmad dalam Musnadnya (II/336), Lihat juga Shahih Jami' Ash Shaghir (III/83)).

Jika lonceng saja sudah dikatakan demikian bagaimana pula dengan rebana yang berkerincing dan seruling yang berbagai macam bentuk dan bunyi. Oleh sebab itu Abu Bakar Ash Shiddiw radhiyallahu'anhu membentak 2 putri kecil yang menabuh rebana di dekat 'Aisyah radhiyallahu'anha pada hari 'Ied. Ia berkata: "Layakkah mazmur (nyanyian) (Mazmur artinya nyanyian, adapun mizmar artinya suara lirih. Az Zamir artinya suara merdu. Istilah ini digunakan juga untuk ghina' (nyanyian). Lihat Ighatsatul Lahfan karangan Ibnul Qayyim (hal. 199)) setan ada dalam rumah rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam? Rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam berkata kepadanya:

"Biarkanlah mereka wahai Abu Bakar, sebab bagi setiap umat ada hari besarnya, dan hari ini adalah hari besar bagi kita.". (HR. Bukhari dalam kitab Ash Shahih no 949 dan 952, Muslim dalam shahihnya no. 892)

Beliau menyetujui ucapan Abu Bakar bahwa tabuhan rebana itu adalah nyanyian setan, namun beliau shallallahu'alaihi wa sallam mengecualikannya pada hari 'Ied bagi anak-anak gadis tersebut untuk menunjukkan kegembiraan dan keceriaan pada hari itu. Sebagaimana beliau juga menyetujui kaum Habasyah yang bermain tombak di dalam masjid pada hari 'Ied. Tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa bila hal itu mereka lakukan setiap waktu rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam pasti menyetujuinya.

Maksudnya, menjadikan nyanyian dan musik yang diharamkan itu sebgai ketaatan merupakan kemungkaran yang sagat keji dan bid'ah yang sangat besar. Oleh sebab itulah, ketika sebagian ahli tasawuf setelah kurun ketiga Hijriyah melakukannya, lalu mereka mendapatkan al wajd dan cita rasa yang tinggi saat mendengarka nyanyian tersebut dan tidak mengetahui kerusakan yang ditimbulkannya dan akibat jelek yang dihasilkannya, maka para ulama mengingkari mereka dengan keras. Sampai-sampai Imam Asy Syafi'ie berkata: "Di Iraq saya mendapati sesuai yang disebut dengan taghbir yang diciptakan oleh kaum zindiq, yang dilakukan untuk menghalangi orang dari Al Qur'an".

Itulah pandangan mereka tentang taghbir. Taghbir itu sendiri adalah tabuhan dengan menggunakan tongkat atau stik pada kulit yang telah dikeringkan (gendang) dan menyenandungkan syair-syair religi yang menyentuh hati dan menggerakkan perasaan. Namun demikian para ulama itu tetap menyebut mereka kaum zindiq. Bagaimana pula bila para ulama melihat bid'ah-bid'ah yang dilakukan oleh orang-orang zaman sekarang, seperti mendengarkan nyanyian, menari dengan iringan rebana dan seruling dihadiri pula oleh para amrad dan kaum wanita. Lalu mereka menganggap bahwa dengan keadaan seperti itu mereka telah mencapai hakikat ilahiyah dan ma'rifat ruhaniyah. Di antara mereka ada yang berkata: "Barangsiapa turut menari maka akan diampuni dosanya", atau perkataan senada dengan itu. Ditambah lagi percampurbauran dengan kaum wanita dan amrad, disertai dengan jeritan dan rintihan serta atraksi memunculan daun udzun dan burung dan sejenisnya, yang pada umumnya hal itu hanyalah sulapan dan tipuan belaka. Dan hal itu mereka jadikan sebagai alat untuk mengambil harta manusia dengan cara yang batil. Disamping itu juga mengklaim bahwa mereka adalah wali-wali Allah, para perantara kepada Allah. Karena itulah mereka tergolong orang yang paling jauh dari kebenaran dan paling sesat dari jalan hidayah.

Para ulama tidaklah mengingkari adanya karamah para wali. Bahwasannya hal itu memang ada dan akan tetap ada. Jumlah nya tidaklah dapat dibatasi dan tidak bisa pula dihitung saking banyaknya. Namun karamah itu hanyalah diberikan kepda orang yang berjalan di atas shirahtal mustaqim dan di atas sunnah. Dan karamah itu hanya muncul pada diri seorang wali yang arif, alim tentang agama dan dibutuhkan oleh kaum muslimin, sebagaimana karamah-karamah yang diriwayatkan dari para Salafus Sholih ridwanu'alaihi. Bleh jadi terjadi hal-hal spektakuler dan menakjubkan atas seseorang yang tidak mengikuti Al QUr'an dan As Sunnah, namun hal itu justru akan menjadi musibah dan bumerang bagi dirinya. Seperti halnya seorang alim yang tidak mendapatkan faidah apapun dari ilmunya. Yunus bin Abdul A'laa Ash Shadafi (beliau adalah Yunus bin Abdul A'laa Ash Shadafi Abu Musa Al Mishri, seorang tsiqah. Silakan lihat Tahdzib At-Tahdzib (XI/440), Al Jarh wat Ta'dil (IX/243), Wafayaatil A'yan (VII/249) dan Al Ansab(VIII/288)) berkata: "Saya pernah berkata kepada Imam Asy Syafi'ie : 'Shahabat kami yakni Al Laits bin Sa'ad (beliau adalah Al Lits bin Sa'ad bin Abdurrahman Al Fahmi Abul Harits Al Mishri, seorang tsiqah, faqih dan imam yang sangat terkenal. Silakan lihat Tarikh karangan Ibnu Ma'in(II/501) dan Siyar A'lamun Nubala (VIII/122)), pernah berkata: "Jika kalian melihat seorang lelaki berjalan di atas air janganlah terperdaya dengannya hingga kalian cocokkan keadaannya dengan Al Qur'an dan As Sunnah". Imam Asy Syafi'ie berkata, "Tidak itu saja--semoga Allah merahmati beliau--bahkan jika kalian melihat seorang lelaki berjalan di atas bara api atau melayang di udara maka janganlah terperdaya dengannya sehingga kalian cocokkan keadaannya dengan Al Qur'an dan As Sunnah.""

Itulah pernyataan para ulama rahimulloh berkenaan dengan masalah ini. Allah Subhanahu wa ta'alaa berfirman yang artinya:
Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui (Q.S An Nahl ayat 43).

Inti seluruh persoalan ini adalah mengikuti syari'at nabi dalam perkataan, perbuatan dan niat. Apabila shahih bahwa beliau shallallahu'alaihi wa sallam telah menguncapkannya, atau melakukannya maka itulah kebenaran yang tidak boleh menyimpang darinya dan tidak ada kebenaran selainnya. Dan apa saja yang tidak beliau ucapkan atau tidak beliau lakukan (dalam masalah agama) maka itulah bid'ah yang dikatakan oleh rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam.

"Hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa Ar Rasyidin yang telah mendapat petunjuk setelahku. Peganglah ia erat-erat. Jauhilah segala perkara yang diada-adakan, sebab setiap perkara yang diada-adakan adalah bid'ah, dan setiap bid'ah pasti sesat." (HR. Abu Daud (4607), At Tirmidzi dalam jami'nya (2676) ia berkata "Hasan Shahih", Ahmad dalam musnadnya (IV/126-127), Ibnu Majah dalam Sunannya (42) dan telah dinyatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Jami' At Tirmidzi dan Shahih Sunan Ibnu Majah).

Dalam lafal lain beliau shallallahu'alaihi wa sallam menyatakan

Setiap kesesatan tempatnya di neraka.

Dalam sebuah hadits ahahih rasululloh shallallahu'alaihi wa sllam bersabda:

Setiap amalan (dalam urusan agama) yang tidak ada keterangan dari kami kama amalan itu tertolak (HR. Bukhari no. 2697, Muslim no. 1718 dengan lafal yang berbeda).

Diriwayatkan juga bahwa beliau shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

Tidak aku tinggalkan satupun perkara yang mendekatkan kalian ke surga kecuali aku telah memerintahkan kalian untuk mengerjakannya. Dan tidak aku tingalkan satupun perkara yang menjauhkan kalian dari Neraka kecuali aku telah menjelaskannya kepada kalian. (HR. Abdurrazzaq dalam mushannafnya (20100) dari Ma'mar dari Imran dan Ath Thabrani dalam Mu'jamul Kabir (II/155/1647) dari hadits Abu Dzar radhiyallahu'anhu, Al Haitsami berkatadalam Al Mujamma'. Perawi riwayat Ath Thabrani semuanya tsiqah dan dipakai dalam kitab Shahih kecuali Muhammad bin Abdullah bin Yazid Al Muqri' dia tsiqah tapi tidak dipakai dalam kitab Shahih. Lihat Al Mujamma' (VIII/264)).

Rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam juga bersabda:

Aku tinggalkan kalian di atas jalan yang putih bersih, malanya seterang siang tidak ada yang menyimpang darinya kecuali binasa (HR. Ibnu Majah dalam sunannya (43), dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah (42), dan diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Al Mustadrak(I/96) dan Ahmad dalam Musnadnya(IV/126)).

Allah Subhanahu wa ta'alaa juga berfirman:

Dan jka kamu ta'at kepadanya niscaya kamu menapat petunjuk. (Q.S An Nuur ayat 54).

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahNya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih (Q.S An Nuur ayat 63)

Allah Azza wa Jalla juga berfirman:

Katakanlah: 'Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu (Q.S Ali Imran 31).

Ayat-ayat dan hadits-hadits berkenaan dengan masalah ini sangat banyak sekali. Maksudnya adalah penegasan bahwa rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam dan juga shahabat-shahabat beliau radhiyallahu'anhum tidak pernah mendengarkan nyanyian-nyanyian bid'ah seperti itu. Akan tetapi mereka khusyu' menyimak Al Qur'an, mentadabburi ayat-ayatnya dan menyelami maknanya yang dalam, sebagaimana disebutkan Allah dalam kitab-Nya,yang artinya:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal (Q.S Al Anfaal ayat 2)

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang , gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.
(Q.S Az Zumar ayat 23).

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. (Q.S Shaad ayat 29)

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (Q.S An Nisaa' ayat 82)

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?

Seorang shahabat nabi berkata: "Tidaklah seorang itu ditanya tentang dirinya kecuali sikapnya terhadap Al Qur'an. Jika ia mencintai Al Qur'an berarti ia mencintai Allah. Jika ia membenci AL Qur'an berarti ia membenci Allah". (shahabat nabi yang dimaksud adalah Abdullah bin Mas'ud radhiyallah'anhu silakan lihat Ihya'ulumuddin (I/273)).

Ucapan tersebut merupakan singgungan bagi orang yang menyadari dirinya. Barangsapa yang tergerak bilamana mendengar bait syair dan tidak merasa tergugah bilamana mendengarkan untaian ayat-ayat Al Qur'an meraung dan menangis bilamana mendengar suara yang merdu sementara tidak peduli tatkala mendengar janji Allah dan ancaman-Nya, jika ia memiliki karakter seperti itu berarti ia tidak berada di atas jalan yang benar. Bahkan jika tidak segera bertaubat ia tergolong orang yang dipanggil dengan hina pada Hari Kiamat nanti, wallahu'alam bishawab.

disalin dari tulisan:
Ismail bin Katsir Asy Syafi'ie
http://alatsari.wordpress.com/
http://www.abuaisyah.org/
join blogger malang di blogger-ngalam@googlegroups. com

Offline exblopz

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 5.083
  • Lokasi: Malang
  • Jenis kelamin: Pria
  • Pingin ke Masjid Nabawi
    • Lihat Profil
    • Abu Aisyah Official Web Site
« Jawab #16 pada: 11 Desember 2006, 20:26:31 »
Saya kira artikel ini saya cukupkan di sini dulu. Silakan kalau ada yang memberi tanggapan atau masukan. Adapun pendapat Ibnu Al Qayyim tidak saya cantumkan karena pendapat beliau adalah 1 buku penuh, jadi kalau harus menyalin atau meringkas saya rasa membutuhkan waktu dan tenaga yang ekstra dan hal ini belum mampu saya lakukan.

Adapun secara garis besar pendapat Ibnu Al Qayyim Al Jauziyah rahimullahuta'alaa adalah secara global sebagai berikut:

Bahwa sesungguhnya nyanyian seperti itu haram hukumnya dan termasuk perbuatan keji. Tidak ada seorang muslimpun yang membolehkannya. Dan tidak ada yang menganggapnya baik kecuali orang-orang yang telah terkoyak tirai rasa malunya dan telah padam cahaya keimanan dari wajahnya. Ia telah melakukan perbuatan keji terhadap Allah, Dien-Nya, Rasul-Nya, dan hamba-hambaNya. Kejelekan menyimak nyanyian seperti itu telah terpatri dalam fitrah manusia. Sehingga orang-orang kafir memandang negatif Islam dan kaum muslimin karena perbuatan yang mereka lakukan tersebut.

Memang kalangan khusus (para ulama) kaum muslimin dan dienul Islam terlepas dari nyanyian semacam itu. Yang telah terbukti banyak mendatangkan mafsadat bagi akal dan agama, bagi wanita dan anak-anak. Berapa banyak ajaran agama yang telah tercemari, dan berapa banyak sunnah nabi yang pupus terkubur gara-gara perbuatan keji yang berganti dengan tumbuh suburnya perbuatan keji dan bid'ah! Tiada terkira berapa banyak runtuhnya hal-hal yang mendatangkan keridhaan Allah dan RasulNya dan berapa banyak pula munculnya hal-hal yang mendatangkan kemurkaan Allah dan RasulNya, laailaaha illallah!

Berapa banyak perbuatan syirik yang muncul dan betapa banyak perkara tauhid yang memudar. Berapa banyak jalan-jalan setan yang terbuka dan berapa banyak manusia yang enyimpan dari jalan Allah dan dari keimanan. Berapa banyak pula hati yang telah ditumbuhi benih kemunafikan lalu tertanam di dalamnya permusuhan dan perlawanan terhadap Dienullah. Berapa banyak pula manusia yang terjerumus ke dalam perbuatan zina dan perbuatan haram lainnya. Sehingga terbuka lebarlah jalur menuju perbuatan dosa dan maksiat yang dibenci oleh Allah. Betapa hal itu sangat menyenangkan setan dan seluruh bala tentaranya. Dan dengan nyanyian itu pula mereka membuat para wali Allah dan golongannya berumram durja. Betapa banyak pula tabiat menyimpang kepada yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya. Berapa banyak jiwa yang mabuk dan lupa diri sehingga menjadi jiwa yang buruk dan banyak melanggar perkara haram lalu tergiring secara paksa kepadanya. Orang yang punya pengalaman dalam hal nyanyian tentunya mengetahui bahwa mabuknya jiwa disebabkan nyanyian lebih berat daripada mabuk jasmani disebabkan oleh Khamr. Sebab orang yang mabuk akibat menenggak minuman keras tidak lama kemudian dia akan sadar. Adapun orang yang mabuk akibat nyanyian, apabila jiwa telah terkuasai maka ia sulit sekali tersadar. Jika engkau tanya secara jujur kepada diri sendiri, apakah yang membuatnya banci apakah yang membuat kejantanan kaum lelaki menjadi banci, maka tabiat itu tentang diri akan berkata: Tanyakan saja kepada nyanyian! Sebab itulah jampi-jampi zina dan khadimnya. Yang mengajak menyeru kepadanya.

Hal itu bila kerusakan yang ditimbulkannya hanyalah mebuat hati para pecandu nyanyian itu berat mendegarkan Al Qur'an. Merasa jemu bila mereka mendengar ayat-ayat Al Qur'an dibacakan, seolah-olah mereka orang-orang yang buta dan tuli. Sedikitpun tidak mengetuk perasaan, hati nurani dan tidak pula merasakan kenikmatannya bahkan kebanyakan atau mayoritas dari mereka tidak menyimaknya, tidak memahami maknanya dan tidak merendahkan suara ketika dibacakan.

Namun bila datang nyanyian setan seketika saja suara-suara akan senyap, orang-orang terdiam tidak bergerak, lalu mengalirlah alunan suara yang menggerakkan tubuh dan perasan, terbang melayanglah jiwa ke tempat yang penuh kesenangan dan kegembiraan. Karena selain Allah bukan karena Allah. berapa banyak air mata yang mengalir deras namun tidak setetespun meleleh ketika mendengar tilawah Kalamurrahman(Al Qur'an)!! Berapa banyak perasaan yang tersentuh dan kerinduan yang membara namun tidak sedikitpun hal itu ada ketika disebutkan asma Allah Rabbil 'Alamiin? Hanya tergerak dan tersentuh apabila mendengar nyanyian-nyanyian batil!

Apabila dibacakan Kitaullah
mereka tertunduk dan diam seribu bahasa
Namun diamnya orang-orang yang lalai dan lengah
Saat musik dilantunkan, seketika laksana lalat mereka menari
Demi Allah, bukan karena Allah mereka menari!
Tabuhan rebana, tiupan seruling, irama dan para pengiring
Waraskah engkau lihat ibadah dilakukan dengan alat musik?
Terasa berat bagi mereka tatkala melihat Al Qur'an
Yang berisi perintah dan larangan
Menari diiringi nyanyian lebih ringan menurut mereka
Duhai kebatilan telah bertemu dengan pasangannya
Hai umat yang mengkhianati Dien Muhammad dan merusaknya
Dan hanya merasa puas tanpa nyanyian

Yang jelas kerusakan-kerusakan akibat mendengar nyanyian in terhadap hati, jiwa dan dien sangat banyak sekali.

Musibah yang lebih besar dan malapetaka yang lebih dahsyat lagi adalah menisbatkan hal itu kepada Dien dan syari'at yang dibawa oleh rasululloh shallallahu'alaihi wa sllam. Mengatakan bahwa hal itu beliau bolehkan dan bebaskan pada umatnya. Dan tidak memberi sanksi apapun atas pelakunya. Padahal ia mengandung kerusakan yang membawa mudharat terhadap syari'at dan agama.

Dan bala yang lebih besar dan lebih parah lagi adalah meyakininya sebagai sarana pendekatan diri kepada Allah Subhanahu wa ta'alaa, sebagai ajaran agama yang harus diikuti, dianggap sebagai alat membenahi hati dan menatanya sehingga mencapai martabat yang tinggi dan sifat-sifat yang terpuji. Menempatkannya lebih utama daripada shalat-shalat nawafil, seperti shalat malam, tilawah Al Qur'an, menuntut ilmu yang berguna dan beramal shalih.

Dan yang lebih parah dari semua di atas adalah meyakini bahwa ia lebih kuat dan lebih cepat pengaruhnya terhadap hati daripada Al Qur'an. Bahkan kadangkala ia lebih bermanfaat bagi hamba daripada Al Qur'an. Inspirasi yang dihasilkannya lebih cepat dan lebih kuat daripada Al Qur'an dari berbagai sisi.

Tidak syak lagi bahwa itu semua merupakan kemunafikan yang ditumbuhkan di dalam hati oleh nyanyian. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Mas'ud radhiyallahu'anhu: "Nyanyian dapat menumbuhkan benih kemunafikan di dalam hati sebgaimana air dapat menumbuhkan tanaman".

Adakah kemunafikan yang lebih besar daripada yang ditimbulkan oleh nyanyian?

Sudah barang tentu melakukan perkara yang diharamkan namun mengakuinya sebagai perbuatan haram lebih ringan dan leih selamat akibatnya darpada melakukannya dengan keyakinan seperti itu.Sebab hal itu termasuk memutarbalikkan ajaran agama, penentangan terhadap Rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam dan mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman Allah Subhanahu wa ta'alaa berfirman, yang artinya:

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya. Dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin. Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali. (Q.S An Nisaa':115).

Artikel selesai. Silakan yang lainnya menanggapi.
http://alatsari.wordpress.com/
http://www.abuaisyah.org/
join blogger malang di blogger-ngalam@googlegroups. com

Offline heri.aza

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.750
  • Lokasi: Minomartani - Yogyakarta
  • Jenis kelamin: Pria
  • --Keep Smile Bro--
    • Lihat Profil
    • Kang Heri Ajar Nulis
« Jawab #17 pada: 11 Desember 2006, 21:03:27 »
Kaya'nya di milis myqers bahasannya lebih jelas deh...

Offline anginbukit

  • myQ Perambah
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 292
    • Lihat Profil
« Jawab #18 pada: 11 Desember 2006, 21:04:05 »
Mohon saya diberitahukan, apa definisi kata2 berikut sebagaimana yang ada di artikel diatas: ;)

Musik:...

Nyayian:...

Syair:...

saya ada rekaman suara2 kicau burung, itu termasuk musik bukan ya?  ???

terus menirukan suara burung boleh nggak ya?

Kalo qasidahnya Bimbo, dibaca tanpa musik, termasuk nyanyian bukan ya?

seperti:

"Pesan nabi, jangan takut mati, meski kau sembunyi, dia menghampiri... takutlah pada kehidupan, sesudah kau mati, renungkanlah ini....."

Apakah kata2 diatas hukumnya haram dan sesat ataukah halal dan boleh ??

terimakasih  ;)


"Orang yg salah memang selalu gelisah dg kesalahannya.Tapi orang yang benar akan tenang dengan kebenarannya" (penulis buku Belajar dari Akhlak Ulama Salafy)

Offline exblopz

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 5.083
  • Lokasi: Malang
  • Jenis kelamin: Pria
  • Pingin ke Masjid Nabawi
    • Lihat Profil
    • Abu Aisyah Official Web Site
« Jawab #19 pada: 12 Desember 2006, 10:22:23 »
Musik, nyanyian, dan syair. Saya akan jelaskan definisi masing-masing menurut apa yang saya fahami dari kitab yang saya baca tersebut.

Musik = adalah sebuah bunyi-bunyian yang dilakukan oleh alat-alat musik, seperti kulit yang ditabuh, senar yang dipetik, ataupun seruling dengan berbagai macam bentuk.

Penjelasan alat musik:
1. Alat musik yang ditabuh seperti yang dijelaskan oleh para ulama adalah terbuat dari kulit ataupun besi, ataupun logam yang ditabuh baik dengan tangan ataupun dengan ranting, ataupun stik.
2. Alat musik dengan menggunakan senar atau benang yang dipetik ataupun digesek, sehingga membuat sebuah resonansi nada.
3. Alat musik dengan menggunakan seruling, baik terbuat dari kayu, bambu, ataupun besi atau logam. Dengan berbagai bentuk maksudnya adalah sejenis dengan seruling, yaitu alat musik yang ditiup.
Lalu bagaimana dengan genta atau lonceng, maka hukumnya dikembalikan kepada hadits yang telah lalu.

Nyanyian = adalah syair yang dilagukan. Nyanyian yang diharamkan adalah nyanyian yang mendayu, yang menggerakkan hati menjadi seperti tersihir. Dan biasanya syair-syair yang dilantunkan adalah syair-syair nafsu yang menyibukkan hati melupakan dari Al Qur'an.

Syair = adalah sebuah lantunan bait puisi.

Adapun jenis yang diharamkan adalah nyanyian yang membuat orang melupakan diri dari Al Qur'an dan membuatnya menjadi terbiasa. Contoh yang telah diterangkan adalah yang secara tak sadar kita melagukannya. Kategori ini adalah haram.

Bagaimana dengan nasyid? Nasyid pada awalnya adalah syair yang digunakan untuk memuji seseorang, untuk menasehati seseorang, dan digunakan dalam menyemangati seseorang di dalam peperangan. Nasyid pada awalnya tidak haram, kalau tanpa diiringi alat musik dan syair-syairnya tidak berisi rayuan yang mendayu ataupun yang membuat orang terlena. Ataupun yang berisi tentang nafsu, seperti percintaan dan sebagainya.
Nasyid tanpa musik Insya Allah tidak apa-apa.
Adapun nyanyian, semacam qasidah yang berisi nasehat-nasehat dan tidak diiringi oleh musik. Imam Ahmad juga pernah mendengarkan qasidah dan menangis karena syair yang ada di dalamnya menasehatinya (silakan baca di Talbis Iblis Bab Musik dan Syair).

Yang harus diperhatikan adalah jangan membiasakan diri dari mendengarkan nyanyian ataupun melantunkannya. Silakan baca fatwa Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin perihal bolehkah nasyid ataukah tidak.

Adapun berdakwah dengan menggunakan nasyid sebagai sarananya, tidak pernah dicontohkan oleh ulama manapun, ataupun para shahabat. Dan meninjaunya sebagai sarana dakwah perlu dikaji lebih lanjut dan dari sini inilah yang akan kita bahas.
http://alatsari.wordpress.com/
http://www.abuaisyah.org/
join blogger malang di blogger-ngalam@googlegroups. com

Offline ninetriple1

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.128
  • Lokasi: Bandung
  • Jenis kelamin: Pria
  • ddesign-studio.blogspot.com
    • Lihat Profil
    • http://ddesign-studio.blogspot.com
« Jawab #20 pada: 12 Desember 2006, 16:48:25 »
@exblopz
jazakallah
bila nasyid dgn bantuan alat musik gmn?
trus bila menggunakan musik diluar nasyid sebagai sarana dakwah, kan otomatis ianya berisikan nasehat2?
Kutip
kalau tanpa diiringi alat musik dan syair-syairnya tidak berisi rayuan yang mendayu ataupun yang membuat orang terlena.

apakah bisa dimasukkan kedalam salah satu alternatif utk sarana dakwah?

@heri.aza
bisa kasih linknya?
« Edit Terakhir: 12 Desember 2006, 17:01:15 oleh ninetriple1 »
Nuh:028 "Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan".

Offline exblopz

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 5.083
  • Lokasi: Malang
  • Jenis kelamin: Pria
  • Pingin ke Masjid Nabawi
    • Lihat Profil
    • Abu Aisyah Official Web Site
« Jawab #21 pada: 12 Desember 2006, 16:58:47 »
@ninetriple1
Nasyid hukum asalnya boleh. Jadi haram kalau diiringi dengan tarian dan alat-alat musik. Demikian yang dijelaskan para ulama.
http://alatsari.wordpress.com/
http://www.abuaisyah.org/
join blogger malang di blogger-ngalam@googlegroups. com

Offline ninetriple1

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 1.128
  • Lokasi: Bandung
  • Jenis kelamin: Pria
  • ddesign-studio.blogspot.com
    • Lihat Profil
    • http://ddesign-studio.blogspot.com
« Jawab #22 pada: 12 Desember 2006, 17:02:34 »
klo nasyid dgn bantuan bunyi2an dari software gmn?
Nuh:028 "Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan".

Offline musthafa

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2006
  • Tulisan: 595
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #23 pada: 12 Desember 2006, 17:07:02 »
@ninetriple1
Nasyid hukum asalnya boleh. Jadi haram kalau diiringi dengan tarian dan alat-alat musik. Demikian yang dijelaskan para ulama.

nsyid dipermasalahkan, nyanyian dangdut ga ada yang ribut...
apa ga tau prioritas kali ya

Offline exblopz

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 5.083
  • Lokasi: Malang
  • Jenis kelamin: Pria
  • Pingin ke Masjid Nabawi
    • Lihat Profil
    • Abu Aisyah Official Web Site
« Jawab #24 pada: 12 Desember 2006, 17:24:26 »
@ninetriple1
Musik itu bisa jadi apa saja. Sekalipun dari software, toh bunyi-bunyian yang dihasilkan darinya juga mengambil visualisasi dari alat musik. Contoh, seperti bunyi drum yang direkam, ataupun dibuat seperti bunyi drum. Sama saja. Dan sekalipun tak ada alat-alat musiknya, tapi memvisualisasikannya dalam komputer itu sama saja.

@musthafa
Bagi saya semuanya adalah penting, tidak ada yang diprioritaskan. Seluruh masalah agama itu penting, tak ada nomor 1 ataupun nomor 2. Segalanya penting. Dan ditempatkan pada tempatnya. Kalau menurut anda yang penting yang mana?
http://alatsari.wordpress.com/
http://www.abuaisyah.org/
join blogger malang di blogger-ngalam@googlegroups. com

Offline musthafa

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2006
  • Tulisan: 595
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #25 pada: 12 Desember 2006, 17:37:31 »
@atasku

ya Rabbi... emang tenaga kamu cukup untuk membereskan masalah umat tanpa mengetahui mana yang harus diprioritaskan????

saya punya kenalan "salafy"
perhatikan kata-kata dia ketika nonton tragedi checnya...
"jihad mereka ga akan diterima, soalnya mereka masih isbal"...
coba bayangkan
perkataan apa ini?
nujahiidun checnya yang sudah beruang dia lecehkan, sedangkan dia hanya bisa mengkritik
padahal isnal hanya masalah furu;iyah dan masih banyak ikhtilafnya...
bukankah ini dampak tidak tau prioritas?

Offline kiripayun

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 734
  • Lokasi: jakarta
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #26 pada: 12 Desember 2006, 17:49:27 »
Pak Musthafa, teman anda itu Awam Salafy atau kalangan pandainya?
Apapun itu, apakah kemudian kita akan generalkan?

Offline musthafa

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2006
  • Tulisan: 595
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #27 pada: 12 Desember 2006, 17:59:24 »
@atasku

bagaimanapun.. itu bukti ada kesalahan metode dalam dakwah.......

anda bilang jangan digeneralkan???
lalu apa bedanya dengan kalian yang selalu mengeneralkan jamaah UM, HTI dll?

Offline exblopz

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Mei 2006
  • Tulisan: 5.083
  • Lokasi: Malang
  • Jenis kelamin: Pria
  • Pingin ke Masjid Nabawi
    • Lihat Profil
    • Abu Aisyah Official Web Site
« Jawab #28 pada: 12 Desember 2006, 18:03:34 »
@musthafa
Alhamdulillah, Allah masih memberikan ane kekuatan untuk berdakwah. Dan perlu antum ketahui ane bukanlah temen antum yang antum ceritakan. Boleh dibilang ana sama sekali tak pernah berbicara seperti itu.
Ana hanya akan menjawab seperlunya saja karena ini adalah topik MUSIK, jadi jawaban ane. JIHAD DITERIMA ATAU TIDAK ITU URUSAN ALLAH. Kalau antum katakan ini pendapat salafi silakan saja. Yang penting itu jawaban ane. Ya saya tahu antum sewot dengan salafi atau paling tidak seluruh salafi. Mulai dari generasi awal sampai sekarang. Ya saya tahu, itu dilihat dari tulisan-tulisan antum yang sepertinya nggak suka dengan salafi. Toh antum juga tak tahu siapa ane, dan begitu mudahnya mengatakan ane juga jelek. Its OK, Allah yang lebih tahu siapa yang jelek.

Perihal masalah mana yang diprioritaskan, ada suatu kasus yang menarik ketika seseorang mengatakan bahwa urusan yang namanya Isbal dikatakan yang tidak prioritas. Maka apa yang akan terjadi?
Ingat sebuah hadits, bahwa yang isbal maka tempatnya di neraka dan bahkan Allah tidak akan melihatnya di hari akhir kalau dibarengi dengan sombong. Dan juga ketika Ibnu Umar berjalan dan rasululloh melihat sarungnya menutupi mata kaki. Rasululloh memerintah supaya diangkat sampai setengah betis. Ini bukti masalah isbal juga adalah masalah yang prioritas. Karena rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam tidak pernah membeda-bedakan semua masalah.
Kemudian orang-orang sibuk untuk membahas masalah yang lain, akhirnya apa? Hukum tentang isbal disepelekan hingga kemudian tak faham apapun tentang isbal. Padahal masalah ini juga penting.
Masalah yang lainnya misalnya makan dengan tangan kanan. Nah, siapa bilang ini masalah yang tidak diprioritaskan? Ini justru masalah prioritas. Kenapa karena yang tidak makan dengan tangan kanan berarti setan. Makan dengan tangan kiri haram. Dan rasululloh melarangnya. Juga minum dengan tangan kiri haram. Tapi coba lihat, apakah kita berani menasehati seseorang yang makan dengan tangan kiri? Sedikit yang berani. Siapa bilang masalah ini kecil? Makan dengan tangan kiri adalah cara setan, apakah cara setan ini harus ditiru? Tidak ini masalah prioritas juga.
Kemudian juga masalah berdo'a. Ini juga penting. Juga masalah menundukkan pandangan. Ini juga prioritas. Jadi di dalam Islam semuanya prioritas. Jangan karena ada hal yang kelihatannya besar, lalu dianggap prioritas. Ini salah.
Lalu apakah saya sanggup untuk mengikuti atau menyelesaikan masalah-masalah ini? Tentunya tidak. Sesungguhnya Allah adalah penolong dan saya menyelesaikannya semampu saya. Adapun yang tidak saya mampu, maka saya serahkan kepada Allah. Bukan begitu?

OK back to music. Ada tanggapan lain?
http://alatsari.wordpress.com/
http://www.abuaisyah.org/
join blogger malang di blogger-ngalam@googlegroups. com

Offline musthafa

  • myQ Pro-Aktif
  • *
  • Tgl Gabung: Sep 2006
  • Tulisan: 595
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
« Jawab #29 pada: 12 Desember 2006, 18:09:19 »
@musthafa
Alhamdulillah, Allah masih memberikan ane kekuatan untuk berdakwah. Dan perlu antum ketahui ane bukanlah temen antum yang antum ceritakan. Boleh dibilang ana sama sekali tak pernah berbicara seperti itu.
Ana hanya akan menjawab seperlunya saja karena ini adalah topik MUSIK, jadi jawaban ane. JIHAD DITERIMA ATAU TIDAK ITU URUSAN ALLAH. Kalau antum katakan ini pendapat salafi silakan saja. Yang penting itu jawaban ane. Ya saya tahu antum sewot dengan salafi atau paling tidak seluruh salafi. Mulai dari generasi awal sampai sekarang. Ya saya tahu, itu dilihat dari tulisan-tulisan antum yang sepertinya nggak suka dengan salafi. Toh antum juga tak tahu siapa ane, dan begitu mudahnya mengatakan ane juga jelek. Its OK, Allah yang lebih tahu siapa yang jelek.

Perihal masalah mana yang diprioritaskan, ada suatu kasus yang menarik ketika seseorang mengatakan bahwa urusan yang namanya Isbal dikatakan yang tidak prioritas. Maka apa yang akan terjadi?
Ingat sebuah hadits, bahwa yang isbal maka tempatnya di neraka dan bahkan Allah tidak akan melihatnya di hari akhir kalau dibarengi dengan sombong. Dan juga ketika Ibnu Umar berjalan dan rasululloh melihat sarungnya menutupi mata kaki. Rasululloh memerintah supaya diangkat sampai setengah betis. Ini bukti masalah isbal juga adalah masalah yang prioritas. Karena rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam tidak pernah membeda-bedakan semua masalah.
Kemudian orang-orang sibuk untuk membahas masalah yang lain, akhirnya apa? Hukum tentang isbal disepelekan hingga kemudian tak faham apapun tentang isbal. Padahal masalah ini juga penting.
Masalah yang lainnya misalnya makan dengan tangan kanan. Nah, siapa bilang ini masalah yang tidak diprioritaskan? Ini justru masalah prioritas. Kenapa karena yang tidak makan dengan tangan kanan berarti setan. Makan dengan tangan kiri haram. Dan rasululloh melarangnya. Juga minum dengan tangan kiri haram. Tapi coba lihat, apakah kita berani menasehati seseorang yang makan dengan tangan kiri? Sedikit yang berani. Siapa bilang masalah ini kecil? Makan dengan tangan kiri adalah cara setan, apakah cara setan ini harus ditiru? Tidak ini masalah prioritas juga.
Kemudian juga masalah berdo'a. Ini juga penting. Juga masalah menundukkan pandangan. Ini juga prioritas. Jadi di dalam Islam semuanya prioritas. Jangan karena ada hal yang kelihatannya besar, lalu dianggap prioritas. Ini salah.
Lalu apakah saya sanggup untuk mengikuti atau menyelesaikan masalah-masalah ini? Tentunya tidak. Sesungguhnya Allah adalah penolong dan saya menyelesaikannya semampu saya. Adapun yang tidak saya mampu, maka saya serahkan kepada Allah. Bukan begitu?

OK back to music. Ada tanggapan lain?

Ya Allah

saya sudah tau siapa yang isbal berar\da dineraka...
tapi apakahanda tau hadits yang lain?????
disitu ada prkataan "khuyalaa'/jika sombong".. ngerti....?
lihatlah fathulbari....... sangat jelas disana..

isbal itu masih ikhtilaf.... kenapa dipeributkan????????
memangbukan anda yang mengatakannya... tapi bukankah merupakan suatu yang wajar jika sya bicara kepada ente karena anda dan dia sama-sama mengaku "salafy"?