Abdulllah bin Mas'ud berkata: "Demi Allah maksudnya adalah nyanyian". (Silakan lihat Sunanul Kubra karangan Al Baihaqi (X/223) dan Tafsir Al Qurthubi (VIII/5134)).
Diriwayatkan juga oleh Imam At Tirmidzi rahilmullah dan imam lainnya sebuah hadits yang menyebutkan bahwa ayat itu turun berkenaan dengan para biduanita dan penegasan bahwa uang hasil penjualan mereka haram hukumnya (tidak halal). Sekiranya kita sebutkan hadits-hadits dan atsar-atsar yang diriwayatkan dalam masalah ini tentu buku ini tidak akan dapat menampungnya. Kami telah menulis buku tersebdiri berkenaan dengan buku ini. (Saya belum menemukan buku Ibnu Katsir yang membahas tentang musik ini, bisa dari ikhwan sekalian yang mau membantu saya?).
Adapun menjadikannya sebagai alat mendekatkan diri kepada Allah dan sebagai ajaran agama yang dijalankan untuk meraih pahala, maka itu adalah bid'ah yang sangat keji, tidak ada seorang nabipun yang mengatakan demikian. Dan tidak pernah sama sekali diturunkan dalam kitab-kitab suci dari langit. Bahkan hal itu sangat mirip dengan orang-orang yang diceritakan Allah Subhanahu wa ta'alaa yang artinya:
Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau. (Q.S Al An'am ayat 70).
Dan Allah Subhanahu wa ta'aala berfirman yang artinya:
Ibadah mereka disekitar Baitullah itu lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu. (Q.S Al Anfaal ayat 35).
Yaitu tepuk tangan dan siulan. Jelas saja rebana dan seruling lebih dhasyat lagi. Dalam sebuah hadits shahih riwayat Muslim dalam shahihnya disebutkan bahwa rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:
Lonceng itu adalah seruling setan (HR. Muslim no 2114, dengan lafal: "Lonceng itu merupakan seruling bagi setan". Abu Daud dalam sunannya no. 2556, Ahmad dalam Musnadnya (II/336), Lihat juga Shahih Jami' Ash Shaghir (III/83)).
Jika lonceng saja sudah dikatakan demikian bagaimana pula dengan rebana yang berkerincing dan seruling yang berbagai macam bentuk dan bunyi. Oleh sebab itu Abu Bakar Ash Shiddiw radhiyallahu'anhu membentak 2 putri kecil yang menabuh rebana di dekat 'Aisyah radhiyallahu'anha pada hari 'Ied. Ia berkata: "Layakkah mazmur (nyanyian) (Mazmur artinya nyanyian, adapun mizmar artinya suara lirih. Az Zamir artinya suara merdu. Istilah ini digunakan juga untuk ghina' (nyanyian). Lihat Ighatsatul Lahfan karangan Ibnul Qayyim (hal. 199)) setan ada dalam rumah rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam? Rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam berkata kepadanya:
"Biarkanlah mereka wahai Abu Bakar, sebab bagi setiap umat ada hari besarnya, dan hari ini adalah hari besar bagi kita.". (HR. Bukhari dalam kitab Ash Shahih no 949 dan 952, Muslim dalam shahihnya no. 892)
Beliau menyetujui ucapan Abu Bakar bahwa tabuhan rebana itu adalah nyanyian setan, namun beliau shallallahu'alaihi wa sallam mengecualikannya pada hari 'Ied bagi anak-anak gadis tersebut untuk menunjukkan kegembiraan dan keceriaan pada hari itu. Sebagaimana beliau juga menyetujui kaum Habasyah yang bermain tombak di dalam masjid pada hari 'Ied. Tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa bila hal itu mereka lakukan setiap waktu rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam pasti menyetujuinya.
Maksudnya, menjadikan nyanyian dan musik yang diharamkan itu sebgai ketaatan merupakan kemungkaran yang sagat keji dan bid'ah yang sangat besar. Oleh sebab itulah, ketika sebagian ahli tasawuf setelah kurun ketiga Hijriyah melakukannya, lalu mereka mendapatkan al wajd dan cita rasa yang tinggi saat mendengarka nyanyian tersebut dan tidak mengetahui kerusakan yang ditimbulkannya dan akibat jelek yang dihasilkannya, maka para ulama mengingkari mereka dengan keras. Sampai-sampai Imam Asy Syafi'ie berkata: "Di Iraq saya mendapati sesuai yang disebut dengan taghbir yang diciptakan oleh kaum zindiq, yang dilakukan untuk menghalangi orang dari Al Qur'an".
Itulah pandangan mereka tentang taghbir. Taghbir itu sendiri adalah tabuhan dengan menggunakan tongkat atau stik pada kulit yang telah dikeringkan (gendang) dan menyenandungkan syair-syair religi yang menyentuh hati dan menggerakkan perasaan. Namun demikian para ulama itu tetap menyebut mereka kaum zindiq. Bagaimana pula bila para ulama melihat bid'ah-bid'ah yang dilakukan oleh orang-orang zaman sekarang, seperti mendengarkan nyanyian, menari dengan iringan rebana dan seruling dihadiri pula oleh para amrad dan kaum wanita. Lalu mereka menganggap bahwa dengan keadaan seperti itu mereka telah mencapai hakikat ilahiyah dan ma'rifat ruhaniyah. Di antara mereka ada yang berkata: "Barangsiapa turut menari maka akan diampuni dosanya", atau perkataan senada dengan itu. Ditambah lagi percampurbauran dengan kaum wanita dan amrad, disertai dengan jeritan dan rintihan serta atraksi memunculan daun udzun dan burung dan sejenisnya, yang pada umumnya hal itu hanyalah sulapan dan tipuan belaka. Dan hal itu mereka jadikan sebagai alat untuk mengambil harta manusia dengan cara yang batil. Disamping itu juga mengklaim bahwa mereka adalah wali-wali Allah, para perantara kepada Allah. Karena itulah mereka tergolong orang yang paling jauh dari kebenaran dan paling sesat dari jalan hidayah.
Para ulama tidaklah mengingkari adanya karamah para wali. Bahwasannya hal itu memang ada dan akan tetap ada. Jumlah nya tidaklah dapat dibatasi dan tidak bisa pula dihitung saking banyaknya. Namun karamah itu hanyalah diberikan kepda orang yang berjalan di atas shirahtal mustaqim dan di atas sunnah. Dan karamah itu hanya muncul pada diri seorang wali yang arif, alim tentang agama dan dibutuhkan oleh kaum muslimin, sebagaimana karamah-karamah yang diriwayatkan dari para Salafus Sholih ridwanu'alaihi. Bleh jadi terjadi hal-hal spektakuler dan menakjubkan atas seseorang yang tidak mengikuti Al QUr'an dan As Sunnah, namun hal itu justru akan menjadi musibah dan bumerang bagi dirinya. Seperti halnya seorang alim yang tidak mendapatkan faidah apapun dari ilmunya. Yunus bin Abdul A'laa Ash Shadafi (beliau adalah Yunus bin Abdul A'laa Ash Shadafi Abu Musa Al Mishri, seorang tsiqah. Silakan lihat Tahdzib At-Tahdzib (XI/440), Al Jarh wat Ta'dil (IX/243), Wafayaatil A'yan (VII/249) dan Al Ansab(VIII/288)) berkata: "Saya pernah berkata kepada Imam Asy Syafi'ie : 'Shahabat kami yakni Al Laits bin Sa'ad (beliau adalah Al Lits bin Sa'ad bin Abdurrahman Al Fahmi Abul Harits Al Mishri, seorang tsiqah, faqih dan imam yang sangat terkenal. Silakan lihat Tarikh karangan Ibnu Ma'in(II/501) dan Siyar A'lamun Nubala (VIII/122)), pernah berkata: "Jika kalian melihat seorang lelaki berjalan di atas air janganlah terperdaya dengannya hingga kalian cocokkan keadaannya dengan Al Qur'an dan As Sunnah". Imam Asy Syafi'ie berkata, "Tidak itu saja--semoga Allah merahmati beliau--bahkan jika kalian melihat seorang lelaki berjalan di atas bara api atau melayang di udara maka janganlah terperdaya dengannya sehingga kalian cocokkan keadaannya dengan Al Qur'an dan As Sunnah.""
Itulah pernyataan para ulama rahimulloh berkenaan dengan masalah ini. Allah Subhanahu wa ta'alaa berfirman yang artinya:
Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui (Q.S An Nahl ayat 43).
Inti seluruh persoalan ini adalah mengikuti syari'at nabi dalam perkataan, perbuatan dan niat. Apabila shahih bahwa beliau shallallahu'alaihi wa sallam telah menguncapkannya, atau melakukannya maka itulah kebenaran yang tidak boleh menyimpang darinya dan tidak ada kebenaran selainnya. Dan apa saja yang tidak beliau ucapkan atau tidak beliau lakukan (dalam masalah agama) maka itulah bid'ah yang dikatakan oleh rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam.
"Hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa Ar Rasyidin yang telah mendapat petunjuk setelahku. Peganglah ia erat-erat. Jauhilah segala perkara yang diada-adakan, sebab setiap perkara yang diada-adakan adalah bid'ah, dan setiap bid'ah pasti sesat." (HR. Abu Daud (4607), At Tirmidzi dalam jami'nya (2676) ia berkata "Hasan Shahih", Ahmad dalam musnadnya (IV/126-127), Ibnu Majah dalam Sunannya (42) dan telah dinyatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Jami' At Tirmidzi dan Shahih Sunan Ibnu Majah).
Dalam lafal lain beliau shallallahu'alaihi wa sallam menyatakan
Setiap kesesatan tempatnya di neraka.
Dalam sebuah hadits ahahih rasululloh shallallahu'alaihi wa sllam bersabda:
Setiap amalan (dalam urusan agama) yang tidak ada keterangan dari kami kama amalan itu tertolak (HR. Bukhari no. 2697, Muslim no. 1718 dengan lafal yang berbeda).
Diriwayatkan juga bahwa beliau shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:
Tidak aku tinggalkan satupun perkara yang mendekatkan kalian ke surga kecuali aku telah memerintahkan kalian untuk mengerjakannya. Dan tidak aku tingalkan satupun perkara yang menjauhkan kalian dari Neraka kecuali aku telah menjelaskannya kepada kalian. (HR. Abdurrazzaq dalam mushannafnya (20100) dari Ma'mar dari Imran dan Ath Thabrani dalam Mu'jamul Kabir (II/155/1647) dari hadits Abu Dzar radhiyallahu'anhu, Al Haitsami berkatadalam Al Mujamma'. Perawi riwayat Ath Thabrani semuanya tsiqah dan dipakai dalam kitab Shahih kecuali Muhammad bin Abdullah bin Yazid Al Muqri' dia tsiqah tapi tidak dipakai dalam kitab Shahih. Lihat Al Mujamma' (VIII/264)).
Rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam juga bersabda:
Aku tinggalkan kalian di atas jalan yang putih bersih, malanya seterang siang tidak ada yang menyimpang darinya kecuali binasa (HR. Ibnu Majah dalam sunannya (43), dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah (42), dan diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Al Mustadrak(I/96) dan Ahmad dalam Musnadnya(IV/126)).
Allah Subhanahu wa ta'alaa juga berfirman:
Dan jka kamu ta'at kepadanya niscaya kamu menapat petunjuk. (Q.S An Nuur ayat 54).
Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahNya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih (Q.S An Nuur ayat 63)
Allah Azza wa Jalla juga berfirman:
Katakanlah: 'Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu (Q.S Ali Imran 31).
Ayat-ayat dan hadits-hadits berkenaan dengan masalah ini sangat banyak sekali. Maksudnya adalah penegasan bahwa rasululloh shallallahu'alaihi wa sallam dan juga shahabat-shahabat beliau radhiyallahu'anhum tidak pernah mendengarkan nyanyian-nyanyian bid'ah seperti itu. Akan tetapi mereka khusyu' menyimak Al Qur'an, mentadabburi ayat-ayatnya dan menyelami maknanya yang dalam, sebagaimana disebutkan Allah dalam kitab-Nya,yang artinya:
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal (Q.S Al Anfaal ayat 2)
Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang , gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.
(Q.S Az Zumar ayat 23).
Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. (Q.S Shaad ayat 29)
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (Q.S An Nisaa' ayat 82)
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?
Seorang shahabat nabi berkata: "Tidaklah seorang itu ditanya tentang dirinya kecuali sikapnya terhadap Al Qur'an. Jika ia mencintai Al Qur'an berarti ia mencintai Allah. Jika ia membenci AL Qur'an berarti ia membenci Allah". (shahabat nabi yang dimaksud adalah Abdullah bin Mas'ud radhiyallah'anhu silakan lihat Ihya'ulumuddin (I/273)).
Ucapan tersebut merupakan singgungan bagi orang yang menyadari dirinya. Barangsapa yang tergerak bilamana mendengar bait syair dan tidak merasa tergugah bilamana mendengarkan untaian ayat-ayat Al Qur'an meraung dan menangis bilamana mendengar suara yang merdu sementara tidak peduli tatkala mendengar janji Allah dan ancaman-Nya, jika ia memiliki karakter seperti itu berarti ia tidak berada di atas jalan yang benar. Bahkan jika tidak segera bertaubat ia tergolong orang yang dipanggil dengan hina pada Hari Kiamat nanti, wallahu'alam bishawab.
disalin dari tulisan:
Ismail bin Katsir Asy Syafi'ie