19 Juni 2013, 08:16:09
Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar. Apakah anda lupa aktivasi email FaceBook Login -->
Board khusus buat pasutri "Board Pasutri"

myQuran - Komunitas Muslim Indonesia


myQ Selasar, sekilas info: Menghitung Hari Menuju SILAKBARNAS (Silaturrahim Akbar Nasional) - Pantai Depok, Jogja, 29-30 Juni | Selamat datang di myQuran, komunitas muslim indonesia..


Dari Abbas bin Malik r.a, Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya berjihad untuk agama Allah pada waktu pagi atau petang hari lebih baik dari dunia dan seisinya." (Sahih Bukhari)

img_iklan_board/352783160.jpg

Penulis Topik: NAhwu sHorof  (Dibaca 18275 kali)

Offline Fidinillah

  • myQ Newbie
  • *
  • Tulisan: 38
  • Jenis kelamin: Pria
  • Bismillahi Tawakaltu alallah
    • Lihat Profil
NAhwu sHorof
« pada: 20 April 2006, 14:32:25 »
Assalamualaikum

Tentang Nahwu Shorof sebagai langkah awal mempelajari bahasa arab, sebelum mempelajari tentang kosa kata dan lain sebagainya, kita diskusikan disini yap...:) Ada yang bersedia untuk memulai, setelah penjelasan awal tentang definisi Nahwu Shorof...:)
---Jangan pernah menjadi orang lain, Jadilah dirimu sendiri yang selalu berusaha untuk menjadi lebih baik---

space dicadangkan (0)

Offline nawwarah

  • myQ Junior
  • *
  • Tulisan: 184
    • Lihat Profil
Re: NAhwu sHorof
« Jawab #1 pada: 20 April 2006, 14:38:55 »
Saya lagi belajar nih. Ga tahu apa definisinya...Kenapa ga TS ajah...Belajar di mana sih di Jak??
Kenalilah kebenaran dengan ilmu
BUKAN dengan menangnya perdebatan

Offline AQie2 (^_^)

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tulisan: 1.254
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re: NAhwu sHorof
« Jawab #2 pada: 20 April 2006, 15:09:08 »
Sebaiknyah Nahwu dan Shorof dipisahkan sajah......
Tapi dlm pembelajarannyah harus di barengkan...... atau minimal shorof dulu didahulukan.
Spy terstruktur dan nyambung.....

Klo nanti disatukan, takutnyah ada kebingungan.... yg mana yg nahwu dan yg mana yg shorof??



Untuk pembukan dari Aqie2, akan memulai dari nahwu ituh sndiri:
Ilmu Nahwu (grammar)

Pengertian nahwu menurut istilah adalah ilmu yang mempunyai kaedah-kaedah untuk mengetahui kata-kata Arab ketika dirangkai dalam susunan kalimat sehingga dapat diketahui maknanya. Peletak dasar ilmu nahwu adalah Abul Aswad Ad Du'ali pada abad pertama hijriyah. Di dalam ilmu nahwu inilah terletak pemahaman terhadap Al-Qur'an dan Sunnah yang merupakan dua sumber hukum Islam. Oleh karena itu menuntut ilmu ini merupakan suatu kewajiban bagi orang yang ingin mengetahui dan memahami Al-Qur'an dan Sunnah secara benar.

Manfa'at ilmu ini adalah untuk mengetahui bahasa Arab yang merupakan bahasa Al-Qur'an yang diturunkan untuk semua umat manusia dan Sunnah Rasulullah SAW yang diutus kepada bangsa jin dan manusia.


(semuahnyah disadur abis dari postingan Fattahillahe.... krn memang mungkin sdh benar dan ga lama2 ngetik lagih) ;)




eh iyah, thread inih adalah thread khusus Nahwu sajah. Krn Nahwu tanpa sorof, dijamin ga jalan. Jadi judul thread nyah ga salah2 amat, malah lbih tepat. Gimana stujukan?
Klo thread shorof, liat sajah di thread khusus sorof.....

yuk dimulaaaaai...... O0
Belajar

Offline ALFiHaFizHadi

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tulisan: 1.268
  • Jenis kelamin: Pria
  • BIG GRIN EVERYDAY
    • Lihat Profil
Re: NAhwu sHorof
« Jawab #3 pada: 20 April 2006, 15:40:00 »
pindahan dari thread "bahasa arab"
mau nanya nih.... :D

soal:

yaftahil baaba fis sabaahi bi miftaahil khaadimu......

kalo ngga salah artinya gini....

pembantu membuka pintu dengan konci pada pagi hari.....
(btw, bner gak sih??  :p)

pertanyaannya :
1. Apakah artinya benar begitu?
2. Apakah harakahnya sudah benar?
3. tergolong kalimat apakah itu? pasif/aktif?
4. Tolong jabarkan, mana yang fiil, isim, huruf berikut keterangannya....

syukron....
Ingat!!! Allah selalu mengawasi kita

Offline Fidinillah

  • myQ Newbie
  • *
  • Tulisan: 38
  • Jenis kelamin: Pria
  • Bismillahi Tawakaltu alallah
    • Lihat Profil
Re: NAhwu sHorof
« Jawab #4 pada: 20 April 2006, 15:50:19 »
Assalamualaikum.
 
    @AQie2
    Kalau bisa buat dong akh contoh kalimatnya juga, kemudian kaidah untuk memaknai kalimat itu bagaimana.? Ana masih butuh banyak bantuannya nih.:).

   Dan buat yang lainnya juga minta tolong ya bantuannya dalam memahami ini, Insya Allah akan bermanfaat di Dunia dan Akhirat.

  ---Fidinillah---
---Jangan pernah menjadi orang lain, Jadilah dirimu sendiri yang selalu berusaha untuk menjadi lebih baik---

Offline AQie2 (^_^)

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tulisan: 1.254
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re: NAhwu sHorof
« Jawab #5 pada: 20 April 2006, 16:24:41 »
pindahan dari thread "bahasa arab"
mau nanya nih.... :D

soal:

yaftahil baaba fis sabaahi bi miftaahil khaadimu......

kalo ngga salah artinya gini....

pembantu membuka pintu dengan konci pada pagi hari.....
(btw, bner gak sih??  :p)

pertanyaannya :
1. Apakah artinya benar begitu?
2. Apakah harakahnya sudah benar?
3. tergolong kalimat apakah itu? pasif/aktif?
4. Tolong jabarkan, mana yang fiil, isim, huruf berikut keterangannya....

syukron....


Dah dijawap ko diforum "bahasa arap"nyah....
Belajar

Offline AQie2 (^_^)

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tulisan: 1.254
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re: NAhwu sHorof
« Jawab #6 pada: 20 April 2006, 16:48:12 »
Assalamualaikum.
 
    @AQie2
    Kalau bisa buat dong akh contoh kalimatnya juga, kemudian kaidah untuk memaknai kalimat itu bagaimana.? Ana masih butuh banyak bantuannya nih.:).

   Dan buat yang lainnya juga minta tolong ya bantuannya dalam memahami ini, Insya Allah akan bermanfaat di Dunia dan Akhirat.

  ---Fidinillah---

contoh kalimat yah?
ah...jgn yg susah-susah ah.....

inih ajah: Qoola zaedun 'amron qoulan kariiman

kaidah nyah yah?..... waduh gimana yah?... gini ajah deh.....:
1.Lihat apakah ituh bntuk kalimat kerja atau kalimat berita.
  Kalimat diatas adalah kalimat kerja, soalnyah ada fi'il nyah. Fi'ilnyah adalah Qoola, fi'il nyah (dlm shorof ) domir hua (pasti fa'il/pelakunyah adalah laki2 satu orang)
2. Lanjut ke ilmu nahwu nyah. Setelah fi'il harus di ikuti fa'il(pelaku) klo memang berbentuk aktif dan transitif. Fa'il harus i'rab fara'. Lalu klo memang aktif dan transitif brarti harus pula ada objek (maf'ul). Dan Maf'ul harus i'rab nasab.
3. Makanyah pelaku(zaid), di beri dommah pd akhir kata (salah satu ciri rafa') menjadi "zaidun"
4. Objek ('amr), diberi tanda fathah pd akhir kata (salah satu ciri nasab) menjadi "'amron".

setelah ada fi'il, fa'il, dan maf'ul....maka kalimat sudah lengkap. Yg lainnyah sebagai keterangan.
5. Qoulan, adalah mashdar (penegasan). Dari mana tau "Qoulan' ituh mashdar? dari ilmu nahwu. Qoulan adalah asal kata dari "Qoola". Yg artinyah Qoulan itu= berbicara bener2/serius.
6. Kariiiman, adalah isim keterangan tambahan. Karena brfungsi sbg keterangan tambahan, maka i'rabnyah mngikuti yg diterangkannyah (dlm bahasa nahwu disebut mudof ilaih). Krn yg diterangkannyah adalah "Qoulan" maka "kariim" harus ikut ber-i'rab nasab, sehingga jadi "kariiiman"
7. Sudah deh ketemu artinyah secara lengkap.

Artinyah: Sudah berbicara Zaid kepada Amar dgn sebuah perkataan yg sungguh baik.


Untuk bisa mngerti gimana cara nyah bisa dapet inih, yaaa blajar atuh....insyaAllah nanti juga bisa...... gampang ko'..

Yuk, kita blajar sajah yuuuuk...... O0
Aqie juga dah lama sama skali ga mnggunakan ilmu2 nahwu dan shorof, jd lumayan lupa2 inget. Namanyah juga Aqie2........ heuheuheu....
« Edit Terakhir: 20 April 2006, 16:51:58 oleh AQie2 (^_^) »
Belajar

Offline Fidinillah

  • myQ Newbie
  • *
  • Tulisan: 38
  • Jenis kelamin: Pria
  • Bismillahi Tawakaltu alallah
    • Lihat Profil
Re: NAhwu sHorof
« Jawab #7 pada: 20 April 2006, 17:26:05 »
Assalamualaikum.

   Alhamdulillah dari penjelasan aQie2, sudah mulai ada sedikit "cahaya" yang terang pada saya utnuk memahami tentang nahwu shorof, walau memang cahaya ini masih sangat keci dan remang, tapi Insya Allah kita lanjuutt..:)

   "Qoola Zaedun 'amron qoulan kariman"
  1.Kalau seandainya kalilmat berita cirinya apa saja akh.?
  2.Fi'il itu artinya kata kerja ya.?
  3.Fi'il Dhomir hua, apakah ada pembagian lagi dalam Fi'il?
  4.Apakah setelah Fi'il pasti diikuti Fa'il (pelaku)?
  5.Untuk mengetahui Fi'il nya aktif dan pasif bagaimana ya akh?
  6.Maf'ul itu.?
  7.Qoulan itu masdar, Maksud dari kalimat itu bagaimana akh.?
  8.isim itu kata sifat ya? hanya menebak:)

 Afwan ya akh banyak yang ditanyakan,Semoga tidak memberatkan untuk dijawab. Dan untuk yang juga memiliki kemampuan berbahasa arab, mohon bambingannya yap..

  eh iya, tadi kepikiran juga, mungkin biar lebih mudahnya. Bahasa arab yang diterangin di contohkan (dianalogikan) kalau didalam bahasa Indonesianya (atau Inggrisnya) seperti apa, Biar yang belajar cepat memahaminya..
   
   Jazakumullah Khoiran (Hanya bisa ini doang bahasa arabnya..p)

  --Fidinillah--
---Jangan pernah menjadi orang lain, Jadilah dirimu sendiri yang selalu berusaha untuk menjadi lebih baik---

Offline fattahillahe

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tulisan: 3.169
  • Jenis kelamin: Pria
  • Sepiro gedene sengsoro yen tinompo amung dadi cobo
    • Lihat Profil
    • Jasa Exspedisi
الكلام
« Jawab #8 pada: 20 April 2006, 18:58:16 »
الكلام

Definisi Kalam

Kalam الكلام pada dasarnya dalam penggunaan Bahasa Arab mencakup setiap sesuatu yang mengandung makna yang berfungsi dalam komunikasi. Jadi secara bahasa, kata kalam sangat sesuai dengan perluasan istilah modern dalam Linguistik sehingga termasuk tanda-tanda dan isyarat. Misalnya ketika ada seseorang berkata, “Apakah sudah kamu tuangkan air untukku?” Kemudian kamu menjawabnya dengan anggukan kepala sehingga dia mengerti jawabanmu adalah “Ya.” Maka anggukan ini termasuk sebagai kalam dari sudut bahasa secara umum. Karena itu, makna sederhana bagi Kalam adalah ungkapan.

Sedangkan dalam istilah Nahwu, Kalam adalah kalimat lengkap yang terdiri dari rangkaian kata yang memberi makna dengan menggunakan Bahasa Arab. Jadi, suatu kalimat disebut sebagai Kalam apabila terhimpun 4 syarat padanya, yaitu: (1) terdiri dari kata, (2) tersusun, (3) mengandung makna, dan (4) dalam Bahasa Arab.

1. Terdiri Dari Kata

Kata adalah sekumpulan bunyi yang terdiri dari sebagian bunyi-bunyi yang disimbolkan dalam huruf-huruf Hijaiyah dari Alif ا hingga Ya ي. Misalnya, كِتاب artinya “buku”, سعادة artinya “kebahagiaan”, نجح artinya “berhasil”. Semuanya adalah kata karena mengandung sebagian dari bunyi-bunyi Hijaiyah. Dan dengan ini, isyarat dalam contoh di atas
misalnya tidak termasuk Kalam dalam istilah Nahwu.

2. Tersusun

Setiap kata pada bagian pertama merupakan kata pada bentuknya sendiri, dan tidak disebut Kalam selama tidak berbentuk dalam rangkaian kalimat sehingga bisa diketahui kedudukan setiap kata tersebut. Dan Kalam adalah kata-kata yang minimal tersusun dari dua kata atau lebih. Misalnya, َنَجَحَ الطالِب artinya “Siswa itu lulus”, dan lebih dari dua; جاء الطالب الي المدرسة artinya “Siswa itu datang ke sekolah.” Semua ini adalah Kalam karena terdiri kata yang tersusun dari dua kata atau lebih.

3. Mengandung Makna

Bukan maksudnya setiap kata harus mengandung makna, karena setiap kata memang mesti mengandung maknanya sendiri, tetapi yang dimaksud adalah rangkaian kata tersebut mengandung suatu makna yang lengkap; tidak menggantung. Misalnya, جاء الأستاذ الي المدرسة artinya “Guru itu datang ke sekolah.” Berbeda dengan إذا جاء المدرِّس artinya “Apabila pengajar itu datang,” maka ini tidak disebut Kalam karena tidak mengandung makna lengkap, tetapi menggantung, meskipun tersusun lebih dari dua kata.

4. Dalam Bahasa Arab

Setiap kata yang terdapat dalam rangkaian kalimat tersebut merupakan kata-kata dari Bahasa Arab, yaitu sekumpulan bunyi dari sebagian huruf Hijaiyah yang dipergunakan dalam Bahasa Arab untuk menunjukkan suatu kandungan atau sesuatu. Dan ini tentunya sudah sangat jelas.

 :) ;)

n.b.
mohon dilihat kelanjutan postingan saya ini pada pembagian kalam dibawah ini  :)
« Edit Terakhir: 22 Juni 2006, 14:27:11 oleh fattahillahe »
Dahar Ketupat Kuahipun Santen - Menawi Lepat Nyuwun Pengapunten
http://hastransport.blogspot.com/

Offline Fidinillah

  • myQ Newbie
  • *
  • Tulisan: 38
  • Jenis kelamin: Pria
  • Bismillahi Tawakaltu alallah
    • Lihat Profil
Re: NAhwu sHorof
« Jawab #9 pada: 20 April 2006, 19:09:20 »
Assalamualaikum.

   Subhanallah, ternyata pinter2 yah pada.:)

  ---Fidinillah---
---Jangan pernah menjadi orang lain, Jadilah dirimu sendiri yang selalu berusaha untuk menjadi lebih baik---

Offline fauzan

  • myQ Junior
  • *
  • Tulisan: 50
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • Persib Dot Net
Re: NAhwu sHorof
« Jawab #10 pada: 20 April 2006, 19:13:46 »
Assalamu AlaikumWr. Wb.

Saya coba jawab ya ... mudah2an bisa dimengerti, soalnya sama lagi belajar.


   "Qoola Zaedun 'amron qoulan kariman"
  1.Kalau seandainya kalilmat berita cirinya apa saja akh.?

kalimat berita itu berpola S+P+O(+K) misal : Zaid berbicara kepada Amar dengan perkataan yang mulya. Atau bisa yang negatif S+(tidak)+P+O(+K) misal : Zaid tidak berbicara kepada Amar dengan perkataan yang mulya. 
Adapun yang bukan merupakan klmt berita adalah :
a. Istifham (pertanyan) misal : Siapa yang berbicara kepada Amar ?
b. Amar (suruhan) : Katakan kepada Amar !
c. NAhyi (larangan) : Jangan berbicara kepada Amar !
d. Nida (panggilan) : Hai Zaed
e. Tamanni (lamunan/angan2) : Seandainya saya ...
 
  2.Fi'il itu artinya kata kerja ya.?
 
Yup.

 
3.Fi'il Dhomir hua, apakah ada pembagian lagi dalam Fi'il?

kata hua itu termasuk isim dhomir. KAta hua di atas dipakai karena fa'il (pelaku/subjek) adalah laki-laki satu orang (zaed). Karena di belakangnya ada zaed, maka hua itu boleh dibuang.
 
4.Apakah setelah Fi'il pasti diikuti Fa'il (pelaku)?

Yup untuk fi'il madhi (past tense) dan mudhari (present atau future). tetapi tidak untuk fi'il amar (suruhan) dan nahyi (larangan).

  5.Untuk mengetahui Fi'il nya aktif dan pasif bagaimana ya akh?

Kalau ini saya masih kurang mengerti.

6.Maf'ul itu.?

Objek.
 
7.Qoulan itu masdar, Maksud dari kalimat itu bagaimana akh.?

mashdar digunakan hanya sebagai penekan saja. biasanya digunakan jika lawan bicara kita masih ragu ttg apa yang terjadi. seperti kalimat di atas, kita akan tahu bahwa zaed benar2 telah berbicara, tdk diragukan lagi.

  8.isim itu kata sifat ya? hanya menebak:)
 

Terbalik atuh, sifat itu adalah isim (kata benda)
Jika kita melihat kata karimaan di atas, itu memang sifat (dari qoulan).

Semoga bermanfaat. Mohon koreksinya.
Wassalam



Offline AQie2 (^_^)

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tulisan: 1.254
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re: NAhwu sHorof
« Jawab #11 pada: 20 April 2006, 23:13:03 »
Sebetulnyah, diri Aqie pribadi mah kurang suka klo g bertanya nyah ituh yg sudah mngerti. Klo yg sudah mngerti, sebaiknyah langsung sajah memberitahukan ilmu nyah. Jd ga usah memberikan pertanyaan, buatlah sebuah tulisan mngenai hal ituh. Baru nanti yg tdk mngerti, bisa bertanya..... itu baru namanyah mngamalkan dan mnambah ilmu.

Okeh sodara?
heuheuheu........

Tapi krn trlanjur basah, ya sudah ngompol sajah skalian..... lagian, memang tujuan fattahillahe untuk melanjutkan pembahasan nahwu, cuman bliau ingin Aqie2 yg mnyampaikan (kaya nyah sih....). Spy saling kerja sama. Heuheuheu.....
okeh ajah dah....

--> apasih dhomir itu ?

Dhomir ituh adalah kata ganti/ciri.
Untuk lbih jelasnyah lihat postingan Aqie2 sajah di sinih: http://myquran.org/forum/index.php?topic=527.15

---> apasih maksudnya aktif & tansitif itu ?

Maksudnyah Fi'il aktif, ex: telah memukul.
Pasif: ex: dipukul.
Aktif transitif (butuh objek). ex: saya telah memukul kpd seseorang.
Pasif transitif, ex:saya telah dipukul. ==>> ini yg disebut maf'ul tdk butuh fa'il
aktif intransitif, ex: saya sedang menangis.
pasif intransitif, ex: saya ditangisi.

---> memangnya ciri2 rafak apa saja sich ?

ciri i'rab rafa' ada 4. yaitu: dommah, waawu, alif, nuun.

---> memangnya ciri2 nasab apa saja sich ?

ciri nasab ada 5. Yaitu: fathah, alif, kasroh, Iyya, membuang Nuun

---> bukannya masdar itu dari ilmu sorof asal dari kata qoola (fi'il madhi) -> yaquulu (fiil mudhori') --> qoulan (masdar) ? kalo saya yg salah tafadhol untuk dikoreksi  ;)

Sama sajah, mau dalam nahwu mau dalam sorof, ada sajah. Klo dlm nahwu ada di bab isim2 yg harus selalu nasob.

6. Kariiiman, adalah isim keterangan tambahan. Karena brfungsi sbg keterangan tambahan, maka i'rabnyah mngikuti yg diterangkannyah (dlm bahasa nahwu disebut mudof ilaih). Krn yg diterangkannyah adalah "Qoulan" maka "kariim" harus ikut ber-i'rab nasab, sehingga jadi "kariiiman"

--> bukankah kariiman disitu menjadi na'at ? (sesuatu kata yg ikrobnya (perubahan akhirnya) mengikuti man'ut (kata yg diikuti) karena menjadi sifat ?

Bukan naat. Klo naat ituh adalah bagian dari bagian lagih. Memang klo na'at ituh harus mngikuti i'rab kalam yg terkait. Tp na'at biasa nya dicirikan dgn adanyah huruf "wa". ex: Arrojulu wal gulaamu (seorang laki2 dan binatang2 peliharaannyah). Itulah na'at.

Klo spt contoh Aqie diatas adalah contoh Mudof ilaih. biasanyah mnunjukkan sifat. ex: Allahu huarrohmanurrohiimu. Artinyah Allah adalah yg Maha pengasih yg Maha Penyayang. Atau Alhajarul aswadu (batu yg item). Qoulan kariiman= berarti perkataan yg baik.

Qoola zaedun 'amron qoulan kariiman
Artinyah: Sudah berbicara Zaid kepada Amar dgn sebuah perkataan yg sungguh baik.
--> kalo saya susunannya gini dech :

bahasa arabnya :
hadatsa Zaidun 'imron biqoulin toyyibin

1. klo mau pake hadatsa....ya pake lagi hadatsa, jgn pake masdar Qoola
2. Qoulan ituh mashdar, yg harus nasab. Tdk bisa berarti ditambah "bi" jadinyah Qoulin. Ga bisa kaya bgituh.
scr arti pun mnggunakan "bi" atau tidak, akan sama sajah. Bisa mnimbulkan makna "dengan" krn ituh adalah Mashdar (mrp penekanan). Klo udah ada Mashdar, knpah harus pake lagih huruf "bi"?
E-Tanya kEnapah?? (Bukkaaaaaan...bassa bassiiiiih) ===>> iklan dilarang merokok. Heuheuheu.....


Okeh Fattahillahe?
okeh dah beybeh.....;)
« Edit Terakhir: 21 April 2006, 00:08:43 oleh AQie2 (^_^) »
Belajar

Offline AQie2 (^_^)

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tulisan: 1.254
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re: NAhwu sHorof
« Jawab #12 pada: 20 April 2006, 23:44:31 »
Jazakallah akh Paujan, Aqie hanya ingin mnambahkan sajah...

4.Apakah setelah Fi'il pasti diikuti Fa'il (pelaku)?
[/b][/color]
Yup untuk fi'il madhi (past tense) dan mudhari (present atau future). tetapi tidak untuk fi'il amar (suruhan) dan nahyi (larangan).
Tidak semuah Fi'il harus diikuti fa'il. Bila fa'ilnyah disamarkan(taqdirkan), maka failnyah akan membentuk domir juga. MIsal: Dorobtu zaidan (fa'ilnyah berdomir "ana", sdngkan maf'ulnyah adalah Zaid). Atau juga pada fi'il yg tdk butuh fa'il/kalimat pasif. Misalnyah: Yudrobu zaidun (zaid inih berfungsi sebagai maf'ul yg tdk punya fa'il), artinyah sudah dipukul Zaid oleh seseorang(seseorangnyah didomirkan dari Yudrobu).

  5.Untuk mengetahui Fi'il nya aktif dan pasif bagaimana ya akh?
[/b][/color]
Kalau ini saya masih kurang mengerti.
ciri nyah pasif: pada fi'il madi , huruf awalnyah di dommah, dan huruf sebelum yg terakhirnyah di kasroh. ex: Duriba. Sedangkan pd Fi'il mudori': huruf awal di dommah, huruf sebelum yg terakhir di fathah. ex: Yudrobu

sudah segituh sajah....
Skali lagih, Trimakasih pada Paujan... :)


Supaya nyambung dgn postingan di bawah ku (tntang i'rab). Brikut adalah hal2 yg harus difahami sebelum hal2 i'rab:
Kutip
Kalam

Kalam ialah lafazh yang tersusun dan bermakna lengkap. Maksudnya, kalam menurut istilah ahli ilmu Nahwu ialah harus memenuhi empat syarat, yaitu :

1. Lafazh, yaitu : Ucapan yang mengadung sebagian hurruf hijaiyah. Contoh: (kitab), (majelis atau tempat pertemuan), (pena), (masjid), dan sebagainya. Jadi suara ayam, bedug, kaleng, petir, mesin dan sebagainya tidak termasuk lafazh.

2. Murakkab (tersusun), yaitu : Ucapan yang tersusun atas dua kalimah atau lebih. Contoh : (Zaid berdiri), (Allah Mahabesar), (Mahasuci Allah). Jadi, kalau satu kalimah saja, bukan temasuk murakkab. Yang dimaksud dengan "kalimah" disini ialah sepatah kata.

3. Mufid (bermakna), yaitu : Ungkapan berfaedah yang dapat memberikan pemahaman sehingga pendengarnya merasa puas. Contoh : (Zaid berdiri) atau (berdiri) saja, sebagai jawaban dari pertanyaan dari pertanyaan : (bagaimanakah keadaaan Zaid), (sakit), sebagai jawaban dari pertanyaan : (bagaimana Zaid). Jadi, perkataan yang janggal didengar karena tidak dapat dipahaminya, tidak termasuk mufid, misalnya : (apabila Zaid berdiri). (apabila ayahku datang). Tanpa dilengkapi kalimat lainnya. Kalau perkataan itu ingin sempurna, maka harus ada tambahannya, seperti : = Apabila Zaid berdiri , aku pun berdiri. = Apabila ayahku datang, maka akan kuhormati dia.

4. Wadha', yaitu : Menjadikan lafazh agar menunjukkan suatu makna (pengertian). Dan pembicaraannya disengaja serta dengan menggunakan bahasa Arab, sebab ilmu Nahwu ini membahas kaidah bahasa Arab. Jadi, pembicaraan orang yang mengigau walaupun berbahasa Arab atau bukan, tidak termasuk wadha' menurut ahli Nahwu.

Kalam menurut ahli Nahwu ialah suatu lafazh yang digunakan untuk menunjukkan makna yang bersifat musnad (susunan). Sedangkan kalimah adalah suatu lafazh yang di gunakan untuk menunjukkan makna yang bersifat mufrad (tunggal).

sehingga dengan demikian pembagian Kalam terbagi menjadi tiga, yaitu : isim, fi'il dan huruf yang memiliki makna.

   1. Isim, yaitu Kalimah (kata) yang menunjukkan makna mandiri dan tidak disertai dengan pengertian zaman. (Dengan kala lain, isim kata benda).

Contoh : = Zaid (nama orang); = kitab atau buku; = saya atau aku; = kita atau kami Dan seterusnya.

2. Fi'il, ialah : Kalimah (kata)yang menunjukkan makna mandiri dan disertai dengan pengertian zaman. (Dengan kata lain, fi'il ialah kata kerja).

Contoh : = sudah menulis; = dia akan atau sedang menulis; = tulislah! = dia akan atau sedang makan; = sudah makan; Dan sebagainya.

        Masa itu terbagi menjadi tiga bagian, yaitu :

         1. Masa yang telah lalu (madhi);
         2. Masa sekarang atau yang sedang belangsung (ha);
         3. Masa yang akan datang (mustagbal).

3. Huruf, ialah : Kalimah (kata) yang menunjukkan makna apabila di gabungkan dengan kalimah lainnya. Maksudnya: kalimah (kata) yang dapat menunjukkan makna apabila dirangkaikan dengan kalimah yang lainnya, tidak dapat berdiri sendiri. Dengan kata lain huruf adalah kata depan.

Contoh: = dari; = ke; = bagaimana? = tidak; dan seterusnya. Semua itu mempunyai makna yang pasti bial dirangkaikan dengan kalimah lainnya, seperti dalam contoh : = saya telah pergi dari pondok ke masjid = apakah engkau sudah salat ? = di mana rumahmu? Dan sebagainya.

Kata para ahli nahwu Kalimah itu terbagi menjadi isim, fi'il dan huruf; ketiga-tiganya ini disebut kalim.


Tanda-tanda Isim
1. Isim itu dapat diketahui dengan melalui khafadh (huruf akhirnya di-jar-kan),
2. tanwin,
3. bisa kemasukan alif-lam dan huruf khafadh.

Huruf khafadh Huruf khafadh ialah : min (dari);ilaa (ke); 'an (dari); 'alaa (kepada); fii (pada/dalam); rubba (sedikit sekali atau banyak sekali); ba (dengan); kaf (seperti); lam (untuk); dan huruf qasam atau sumpah (wawu, ba' dan ta')

Tanda-tanda Fi'il
Fi'il itu dapat diketahui dengan melalui huruf qad, sin, saufa dan ta ta-nits yang di-sukun-kan.

Tanda Huruf
Huruf itu ialah lafazh yang tidak layak disertai tanda isim atau tanda fi'il.

Maksudnya : huruf itu ialah lafazh yang tidak disisipi tanda isim atau tanda fi'il. Contohnya ialah seperti huruf khafadh, yaitu min, ilaa, 'an, 'alaa, dan sebagainya. Juga seperti huruf istifham : dan . Lafazh-lafazh itu disebut huruf, sebab selalu tidak di-tanwin-i atau disisipi alif-lam, qad, ta ta-nits yang di-sukun-kan dan sebagainya.

wassalamu'alaikum & semoga bermanfaat
Disadur dari postingannyah Fattahillahe pada forum lain.   

« Edit Terakhir: 21 April 2006, 10:33:19 oleh AQie2 (^_^) »
Belajar

Offline fattahillahe

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tulisan: 3.169
  • Jenis kelamin: Pria
  • Sepiro gedene sengsoro yen tinompo amung dadi cobo
    • Lihat Profil
    • Jasa Exspedisi
أقسام الكلام
« Jawab #13 pada: 21 April 2006, 09:19:14 »
berikut ini adaah kelanjutan postingan saya tentang الكلا
Pembagian Kalam

A. Isim الاسم
Isim secara bahasa adalah nama, yaitu sebutan yang menunjukkan suatu yang dinamakan, apakah sebutan itu pada jenis atau pada unsurnya. Manusia ناس atau رَجُل adalah nama untuk suatu jenis yang dinamakan manusia atau laki-laki, dan Ahmad أحْمد adalah nama untuk individu yang dinamakan Ahmad. Semua kata ini adalah Isim. Dalam pengertian yang paling sederhana merujuk padanan dalam bahasa Indonesia, maka Isim adalah nominal.

Sedangkan dalam istilah Nahwu, Isim adalah suatu kata yang menunjukkan makna sendiri dan tidak terikat dengan waktu. Dalam bahasa Arabnya disebut:
    كلمة دلت علي معني في نفسها ولم تقترن بزمان

Maka, محمد = Muhammad (nama orang), نَهْر = sungai, تُفاحة = apel, عَصا = tongkat, حَجَر = batu, طَعام = makanan, أَكْل = hal memakan (pengungkapan terhadap sebutan kerja makan), رَأْس = kepala, رِجْل = kaki, يَد = tangan, dan فَم = mulut, semuanya adalah Isim; mengandung makna sendiri dan tidak terikat dengan waktu.

Tanda-Tanda Isim علامات الاسم

Ada beberapa tanda yang terletak pada suatu kata yang menunjukkan bahwa jenis kata tersebut adalah Isim. Tanda-tanda Isim yang paling utama adalah:

1. Tanwin التنوين

yaitu bunyi nun sukun pada akhir kalimat yang ditandai dengan harakat double ــًـ ــٍـ ــٌـ. Contohnya, قام رَجُلٌ = seorang laki-laki berdiri, رأيْتُ رَجُلاً = aku melihat seorang laki-laki, مرَرْتُ بِرَجُلٍ = aku melewati seorang laki-laki. Maka kata رَجُل dalam semua contoh ini adalah Isim. Sedangkan perubahan pada akhir katanya akan kita pelajari nanti pada bagian I’rab الإعراب.
   
2. Alif dan Lam,

dan biasa disingkat dengan AL أل pada awal kata. Setiap kata yang didahului oleh AL atau boleh menerima AL, maka kata tersebut adalah Isim.

Contohnya, الرَجُل = laki-laki, المدرسة = sekolahan,الكِتاب = buku, الطالب = siswa. Semua kata ini adalah Isim ditandai dengan adanya AL di awal kata.

3. Khafadh atau Jarrالخفض.

Ini adalah status suatu kata dalam struktur kalimat. Penjelasan lebih jauh tentang status kata dan tanda-tandanya yang sesuai dengan bentuk dari setiap kata akan diterangkan dalam bab I’rab.

Secara sederhana, suatu kata berstatus Khafadh adalah masuknya huruf Khafadh sebelum kata dan mempengaruhi kata tersebut.

Contohnya, سافرْتُ الي القاهرة = saya berangkat ke Cairo, رأيتُ في منام = saya bermimpi. Kata القاهرة dan منام adalah Isim karena statusnya Khafadh yang ditandai dengan masuknya huruf Jarr sebelumnya. Dan pada kata yang pertama, juga ditandai dengan AL pada awal kata.

Huruf-huruf Jarr adalah مِن = dari (permulaan), إلي = ke, kepada, عَن = dari (lepas, meninggalkan), علي = atas, في = di, di dalam, رُبَّ = barangkali, kadang-kadang [;sedikit atau banyak], الباء = dengan, الكاف = seperti [penyerupaan], اللام = untuk.

Dan termasuk juga huruf-huruf sumpah حروف القسم, yaitu; الواو hanya untuk Isim Zhahir,[2] الباء untuk Isim Zhahir dan Dhamir, dan التاء khusus dengan kata الله. Contohnya; واللهِ, بِاللهِِ, تَاللهِ, semuanya bermakna Demi Allah.

B. Fi’il الفِعل

Jenis kata yang kedua adalah Fi’il. Fi’il secara bahasa berarti kejadian atau pekerjaan. Dan padanannya dalam bahasa Indonesia adalah kata kerja atau verbal. Sedangkan dalam istilah Nahwu, Fi’il adalah kata yang menunjukkan suatu makna sendiri dan terikat dengan salah satu dari tiga bentuk waktu; masa lampau, masa sekarang, dan masa akan datang. Dalam bahasa Arabnya,

    كلمة دلت علي معني في نفسها واقترنت باحد الأزمنة الثلاثة التي هي الماضي والحال والمستقبل

Contohnya كَتَبَ adalah kata yang menunjukkan makna penulisan dan terikat dengan masa yang telah lalu, يَكْتُبُ adalah kata yang memnunjukkan makna penulisan dan terikat dengan masa sekarang, dan أكتُبْ juga adalah kata yang menunjukkan makna penulisan dan terikat dengan masa yang akan datang.

Demikian juga contoh-contoh lain seperti نَصَرَ ينصُر انصُر = menolong, عَلِم يعلَم اعْلَمْ = mengetahui, جلَس يجلِس اجلِسْ = duduk, ضرَب يضرِب اضرِبْ = memukul, فهِم يفهَم افهَم = mengerti, memahami.

Dalam Ilmu Nahwu, unsur utama yang diperhatikan adalah kedudukan kata tersebut dalam struktur kalimat. Meskipun setiap kata dasar dalam bahasa Arab banyak mempunyai varian bentuk kata sesuai dengan kegunaan dan maknanya masing-masing, yang paling penting dalam Ilmu Nahwu adalah jenis-jenis semua kata tersebut dikelompokkan dalam tiga jenis saja, yaitu; Isim, Fi’il, dan Huruf.

Demikian juga, pembagian fi’il dalam Ilmu Nahwu terbatas pada tiga macam saja, yaitu kata kerja yang menunjukkan kejadian di masa lalu, kata kerja masa sekarang, dan kata kerja perintah. Dengan demikian, jenis-jenis Fi’il adalah:

1. Fi’il Madhi الفعل الماضي

yaitu kata kerja yang menunjukkan suatu pekerjaan atau kejadian yang berlangsung pada masa sebelum waktu penuturan. Ketika seseorang berkata, كتب الطالب = siswa itu menulis, maka peristiwa penulisan dalam kata كتب yang dilakukan oleh siswa itu sudah berlangsung sebelum seseorang itu menuturkannya.

2. Fi’il Mudhari’ الفعل المضارع

yaitu kata kerja yang menunjukkan pekerjaan atau peristiwa yang terjadi pada saat dituturkan (sekarang) atau sesudahnya (akan datang). Misalnya seseorang berkata, يسمع الطالب = siswa itu mendengarkan. Siswa tersebut sedang melakukan pekerjaan mendengarkan saat kalimat tersebut diucapkan.

3. Fi’il Amar فعل الأمر

yaitu kata yang menunjukkan tuntutan tercapainya pekerjaan tersebut setelah masa pengungkapan. Contohnya, seorang ayah memerintahkan kepada anaknya untuk belajar, dia mengatakan اُدْرُسْ يا ولدي = Belajarlah, Anakku!

Tanda-Tanda Fi’il علامات الفعل

Ada beberapa tanda pada suatu kata yang bisa kita gunakan untuk mengenali bahwa suatu kata itu adalah Fi’il. Tanda-tanda Fi’il yang paling utama ketika berada dalam struktur kalimat adalah:

1. Kata tersebut didahului oleh قَدْ.

Kata قَدْ ini bisa masuk ke Fi’il Madhi dan bisa masuk ke Fi’il Mudhari’. Apabila قَدْ masuk ke dalam Fi’il Madhi, maka menghasilkan salah satu dari dua makna, yaitu التحقيق dan التقريب.

Maksud التحقيق adalah menunjukkan kepastian. Jika seseorang berkata, قد جاء المدرس = Pengajar itu telah datang. Artinya Pengajar itu benar-benar sudah datang dan berada di tempat yang dimaksud.

Maksud التقريب adalah menunjukkan dekatnya suatu peristiwa yang terkandung dalam kata kerja itu. Jika seseorang berkata, قد جاء المدرس, dan maksudnya adalah التقريب maka artinya Pengajar itu hampir datang, misalnya sudah kelihatan melangkah masuk gerbang. Makna ini yang terdapat dalam lafazh Iqamah Shalat, قد قامت الصلاة yaitu Shalat sudah hampir dilaksanakan.

Begitu juga ketika seseorang berkata, قد غربت الشمس = Matahari itu terbenam. Apabila dia mengatakannya ketika Matahari itu bergerak menuju terbenam, maka makna yang dimaksud adalah التقريب. Dan jika dia mengatakannya pada saat Matahari sudah benar-benar terbenam, maka maknanya adalah التحقيق.

Apabila kata قد ini masuk ke Fi’il Mudhari’, maka juga menghasilkan salah satu dari dua makna, yaitu التقليل dan التكثير.

Maksud التقليل adalah menunjukkan makna sedikit atau jarang. Contohnya, قد يصدق الكذوب = Jarang orang pendusta itu berlaku jujur.

Maksud التكثير adalah menunjukkan makna banyak atau sering. Contohnya, kamu mengatakan قد ينجح المجتهد = (Kebanyakan) Orang yang bersungguh-sungguh itu berhasil.

Poin kita di sini adalah semua kata yang didahului oleh kata قد tersebut adalah Fi’il.

2. Tanda Fi’il yang kedua adalah suatu kata itu didahului Hurufسين atau Huruf سَوْفَ.

Kedua Huruf ini hanya masuk ke Fi’il Mudhari’ saja dan mengubah kandungan waktu pada Fi’il Mudhari’ dari masa sekarang menjadi masa akan datang. Perbedaannya, Huruf سين menunjukkan jarak waktu akan datang yang lebih dekat daripada jarak waktu yang dikandung Huruf سوف.

Contohnya, saya mengatakan سَأكْتُبُ الكتابَ = Saya akan menulis buku, dan سوف أكتب الكتاب = Saya akan menulis buku. Rentang waktu pada kalimat pertama lebih dekat dengan masa pengucapan daripada rentang waktu pada kalimat kedua.

3. Tanda Fi’il ketiga adalah Ta Ta’nis Sakinah تاء التأنيث الساكنة yaitu huruf Ta sukun yang masuk pada akhir kata.

Tanda ini hanya untuk Fi’il Madhi saja dan fungsinya adalah untuk menunjukkan bahwa Isim yang terpaut dengan Predikat ini berbentuk feminin (muannas). Contohnya, نامتْ زينب = Zainab telah tidur.

Dan yang dimaksud dengan sukun bahwa huruf Ta ini pada aslinya sukun. Karena itu, harakat yang diberikan disebabkan pertemuan dua huruf mati tidak berpengaruh pada keasliannya yang sukun. Contohnya, قالتِ الْمدرِّسة = Ibuguru berkata. Huruf Ta pada contoh ini berharakat kasrah (baris bawah) karena bertemu dengan alif AL yang sukun, statusnya tetap sebagai Ta Ta’nis Sakinah. Dan huruf itu pada kata tersebut adalah tanda bahwa kata tersebut adalah Fi’il.

4. Tanda Fi’il keempat adalah suatu kata yang menunjukkan makna tuntutan dan kata tersebut bisa menerima Ya Mukhathabah atau Nun Taukid.

Tanda ini akan lebih diketahui dengan memperlajari Ilmu Sharaf; (lihat postingan saya di kamar sebelah yah  :) ) terdapat bentuk khusus dari Fi’il yang menunjukkan makna tuntutan yaitu Fi’il Amar. Dalam struktur kata dari segi Nahwu, kata ini bisa dilihat dari tandanya yaitu bisa menerima Ya Mukhathabah dan Nun Taukid. Maka, apabila suatu kata dimasuki oleh Ya atau Nun tersebut, maka kata itu adalah Fi’il.

Ya Mukhathabah adalah huruf Ya sukun di akhir kalimat sebagai kata ganti orang kedua perempuan; yang berfungsi untuk menunjukkan bahwa tuntutan ditujukan kepada perempuan. Contohnya, قُوْمي = (Kamu perempuan), Bangunlah!, dari asal katanya untuk laki-laki قُمْ, dan اُكْتُبي = (Kamu perempuan), Menulislah!, dari asal kata perintahnya untuk laki-laki اكتب. Kedua kata aslinya yang untuk laki-laki adalah Fi’il karena menunjukkan tuntutan dan bisa menerima Ya Mukhathabah. Dan dua kata yang untuk perempuan adalah Fi’il dengan ditandai dengan masuknya Ya Mukhathabah dan menunjukkan makna tuntutan.

Sedangkan Nun Taukid adalah huruf Nun pada akhir kata yang berfungsi untuk menunjukkan kesungguhan dan ketegasan tuntutan. Nun Taukid ada dua macam yaitu Khafifah (ringan) dan Tsaqilah (berat). Perbedaan keduanya dari segi bentuk adalah Nun Taukid Khafifah berbaris sukun ـنْ, sedangkan Nun Taukid Tsaqilah bertasydid dan berharakat fathahـنَّ.

Perbedaan keduanya dari segi makna adalah kata kerja dengan Nun Taukid Khafifah mengandung ketegasan yang kurang keras daripada ketegasan yang dikandung Nun Taukid Tsaqilah. Atau dalam bahasa gaulnya; kata kerja biasa berarti menuntut, dengan Nun Taukid Khafifah berarti maksa, dan dengan Nun Taukid Tsaqilah berarti maksa banget. Contohnya kita ambil dari dua kata di atas, قومَنْ، قومنَّ dan اُكْتُبَنْ، اُكْتُبَنَّ.

C. Huruf الحرف

Huruf adalah jenis kata yang berfungsi sebagai kata bantu, yaitu kata yang mengandung makna yang tidak berdiri sendiri. Maknanya hanya bisa diketahui dengan bersandingan dengan kata lain, baik Isim atau Fi’il. Definisinya dalam bahasa Arab adalah:

    كلمة دَلَّتْ علي مَعْنًي في غيرها

Tanda Huruf adalah tidak menerima tanda-tanda Isim atau tanda-tanda Fi’il, atau dengan ungkapan lain, Huruf adalah tanpa tanda pengenal. Kata yang termasuk dalam jenis Huruf ini terbagi bermacam-macam sesuai dengan fungsinya yang mempengaruhi status kata yang dimasukinya, sesuai dengan fungsi maknanya,

1. Harap diperhatikan penggunaan istilah Huruf ini; berbeda dengan Huruf dalam makna bahasa yang berarti suatu huruf yang menjadi unsur kata. Sebenarnya Huruf ini adalah bentuk plural, dan yang benar adalah Harf. Namun saya gunakan untuk memudahkan ingatan dan penyesuain dengan bahasa Indonesia. Huruf dalam istilah Nahwu ini bisa dilihat penjelasannya.
2. bukan Isim Dhamir yaitu kata ganti
3. Harap diingat bahwa yang dimaksud di sini bukan huruf Hija’iyah, tetapi adalah jenis kata yang kita kenal dengan sebutan Huruf.
 :)
« Edit Terakhir: 22 Juni 2006, 11:38:40 oleh fattahillahe »
Dahar Ketupat Kuahipun Santen - Menawi Lepat Nyuwun Pengapunten
http://hastransport.blogspot.com/

Offline ALFiHaFizHadi

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tulisan: 1.268
  • Jenis kelamin: Pria
  • BIG GRIN EVERYDAY
    • Lihat Profil
Re: NAhwu sHorof
« Jawab #14 pada: 21 April 2006, 09:38:00 »
 :D :D :D

puciing neH.......?

pelan2 atuh....... :D
Ingat!!! Allah selalu mengawasi kita

 

myAgenda!
myQomunitas!
mySholat!
Jadwal Sholat
Jadikan juga info seperti jadwal sholat ini pada websites mu :
myPromo-Deal!
Pernak-Pernik
  • myQripik produk baru!
  • Jaket
  • Kaos
  • Kalender
  • Stiker

SatNet
IMODE | myQ wiki | Quran Flash | Android | ChitCh@t | Plug-in | Radio | FB myQ Group
(c) 1999-2013, myQuran
Refresh Your Life!
Powered by SMF 2.0.4 | SMF © 2006–2010, Simple Machines LLC
XHTML | RSS | WAP2 | Mobile
Halaman dibuat dalam 2.141 detik dengan 20 queri.