berikut ini adaah kelanjutan postingan saya tentang
الكلاPembagian Kalam
A. Isim الاسمIsim secara bahasa adalah nama, yaitu sebutan yang menunjukkan suatu yang dinamakan, apakah sebutan itu pada jenis atau pada unsurnya. Manusia
ناس atau
رَجُل adalah nama untuk suatu jenis yang dinamakan manusia atau laki-laki, dan Ahmad
أحْمد adalah nama untuk individu yang dinamakan Ahmad. Semua kata ini adalah Isim. Dalam pengertian yang paling sederhana merujuk padanan dalam bahasa Indonesia, maka Isim adalah nominal.
Sedangkan dalam istilah Nahwu, Isim adalah suatu kata yang menunjukkan makna sendiri dan tidak terikat dengan waktu. Dalam bahasa Arabnya disebut:
كلمة دلت علي معني في نفسها ولم تقترن بزمانMaka,
محمد = Muhammad (nama orang),
نَهْر = sungai,
تُفاحة = apel,
عَصا = tongkat,
حَجَر = batu,
طَعام = makanan,
أَكْل = hal memakan (pengungkapan terhadap sebutan kerja makan),
رَأْس = kepala,
رِجْل = kaki,
يَد = tangan, dan
فَم = mulut, semuanya adalah Isim; mengandung makna sendiri dan tidak terikat dengan waktu.
Tanda-Tanda Isim علامات الاسمAda beberapa tanda yang terletak pada suatu kata yang menunjukkan bahwa jenis kata tersebut adalah Isim. Tanda-tanda Isim yang paling utama adalah:
1. Tanwin
التنوين yaitu bunyi nun sukun pada akhir kalimat yang ditandai dengan harakat double
ــًـ ــٍـ ــٌـ. Contohnya,
قام رَجُلٌ = seorang laki-laki berdiri,
رأيْتُ رَجُلاً = aku melihat seorang laki-laki,
مرَرْتُ بِرَجُلٍ = aku melewati seorang laki-laki. Maka kata
رَجُل dalam semua contoh ini adalah Isim. Sedangkan perubahan pada akhir katanya akan kita pelajari nanti pada bagian I’rab
الإعراب.
2. Alif dan Lam, dan biasa disingkat dengan AL
أل pada awal kata. Setiap kata yang didahului oleh AL atau boleh menerima AL, maka kata tersebut adalah Isim.
Contohnya,
الرَجُل = laki-laki,
المدرسة = sekolahan,
الكِتاب = buku,
الطالب = siswa. Semua kata ini adalah Isim ditandai dengan adanya AL di awal kata.
3. Khafadh atau Jarrالخفض.Ini adalah status suatu kata dalam struktur kalimat. Penjelasan lebih jauh tentang status kata dan tanda-tandanya yang sesuai dengan bentuk dari setiap kata akan diterangkan dalam bab I’rab.
Secara sederhana, suatu kata berstatus Khafadh adalah masuknya huruf Khafadh sebelum kata dan mempengaruhi kata tersebut.
Contohnya,
سافرْتُ الي القاهرة = saya berangkat ke Cairo,
رأيتُ في منام = saya bermimpi. Kata
القاهرة dan
منام adalah Isim karena statusnya Khafadh yang ditandai dengan masuknya huruf Jarr sebelumnya. Dan pada kata yang pertama, juga ditandai dengan AL pada awal kata.
Huruf-huruf Jarr adalah
مِن = dari (permulaan),
إلي = ke, kepada,
عَن = dari (lepas, meninggalkan),
علي = atas,
في = di, di dalam,
رُبَّ = barangkali, kadang-kadang [;sedikit atau banyak],
الباء = dengan,
الكاف = seperti [penyerupaan],
اللام = untuk.
Dan termasuk juga huruf-huruf sumpah
حروف القسم, yaitu;
الواو hanya untuk Isim Zhahir,[2]
الباء untuk Isim Zhahir dan Dhamir, dan التاء khusus dengan kata
الله. Contohnya;
واللهِ, بِاللهِِ, تَاللهِ, semuanya bermakna Demi Allah.
B. Fi’il الفِعلJenis kata yang kedua adalah Fi’il. Fi’il secara bahasa berarti kejadian atau pekerjaan. Dan padanannya dalam bahasa Indonesia adalah kata kerja atau verbal. Sedangkan dalam istilah Nahwu, Fi’il adalah kata yang menunjukkan suatu makna sendiri dan terikat dengan salah satu dari tiga bentuk waktu; masa lampau, masa sekarang, dan masa akan datang. Dalam bahasa Arabnya,
كلمة دلت علي معني في نفسها واقترنت باحد الأزمنة الثلاثة التي هي الماضي والحال والمستقبلContohnya
كَتَبَ adalah kata yang menunjukkan makna penulisan dan terikat dengan masa yang telah lalu,
يَكْتُبُ adalah kata yang memnunjukkan makna penulisan dan terikat dengan masa sekarang, dan
أكتُبْ juga adalah kata yang menunjukkan makna penulisan dan terikat dengan masa yang akan datang.
Demikian juga contoh-contoh lain seperti
نَصَرَ ينصُر انصُر = menolong,
عَلِم يعلَم اعْلَمْ = mengetahui,
جلَس يجلِس اجلِسْ = duduk,
ضرَب يضرِب اضرِبْ = memukul,
فهِم يفهَم افهَم = mengerti, memahami.
Dalam Ilmu Nahwu, unsur utama yang diperhatikan adalah kedudukan kata tersebut dalam struktur kalimat. Meskipun setiap kata dasar dalam bahasa Arab banyak mempunyai varian bentuk kata sesuai dengan kegunaan dan maknanya masing-masing, yang paling penting dalam Ilmu Nahwu adalah jenis-jenis semua kata tersebut dikelompokkan dalam tiga jenis saja, yaitu; Isim, Fi’il, dan Huruf.
Demikian juga, pembagian fi’il dalam Ilmu Nahwu terbatas pada tiga macam saja, yaitu kata kerja yang menunjukkan kejadian di masa lalu, kata kerja masa sekarang, dan kata kerja perintah. Dengan demikian, jenis-jenis Fi’il adalah:
1. Fi’il Madhi الفعل الماضي yaitu kata kerja yang menunjukkan suatu pekerjaan atau kejadian yang berlangsung pada masa sebelum waktu penuturan. Ketika seseorang berkata,
كتب الطالب = siswa itu menulis, maka peristiwa penulisan dalam kata
كتب yang dilakukan oleh siswa itu sudah berlangsung sebelum seseorang itu menuturkannya.
2. Fi’il Mudhari’ الفعل المضارع yaitu kata kerja yang menunjukkan pekerjaan atau peristiwa yang terjadi pada saat dituturkan (sekarang) atau sesudahnya (akan datang). Misalnya seseorang berkata,
يسمع الطالب = siswa itu mendengarkan. Siswa tersebut sedang melakukan pekerjaan mendengarkan saat kalimat tersebut diucapkan.
3. Fi’il Amar فعل الأمر yaitu kata yang menunjukkan tuntutan tercapainya pekerjaan tersebut setelah masa pengungkapan. Contohnya, seorang ayah memerintahkan kepada anaknya untuk belajar, dia mengatakan
اُدْرُسْ يا ولدي = Belajarlah, Anakku!
Tanda-Tanda Fi’il علامات الفعلAda beberapa tanda pada suatu kata yang bisa kita gunakan untuk mengenali bahwa suatu kata itu adalah Fi’il. Tanda-tanda Fi’il yang paling utama ketika berada dalam struktur kalimat adalah:
1. Kata tersebut didahului oleh قَدْ.Kata
قَدْ ini bisa masuk ke Fi’il Madhi dan bisa masuk ke Fi’il Mudhari’. Apabila
قَدْ masuk ke dalam Fi’il Madhi, maka menghasilkan salah satu dari dua makna, yaitu
التحقيق dan
التقريب.Maksud
التحقيق adalah menunjukkan kepastian. Jika seseorang berkata,
قد جاء المدرس = Pengajar itu telah datang. Artinya Pengajar itu benar-benar sudah datang dan berada di tempat yang dimaksud.
Maksud
التقريب adalah menunjukkan dekatnya suatu peristiwa yang terkandung dalam kata kerja itu. Jika seseorang berkata,
قد جاء المدرس, dan maksudnya adalah
التقريب maka artinya Pengajar itu hampir datang, misalnya sudah kelihatan melangkah masuk gerbang. Makna ini yang terdapat dalam lafazh Iqamah Shalat,
قد قامت الصلاة yaitu Shalat sudah hampir dilaksanakan.
Begitu juga ketika seseorang berkata,
قد غربت الشمس = Matahari itu terbenam. Apabila dia mengatakannya ketika Matahari itu bergerak menuju terbenam, maka makna yang dimaksud adalah
التقريب. Dan jika dia mengatakannya pada saat Matahari sudah benar-benar terbenam, maka maknanya adalah
التحقيق.Apabila kata
قد ini masuk ke Fi’il Mudhari’, maka juga menghasilkan salah satu dari dua makna, yaitu
التقليل dan
التكثير.Maksud
التقليل adalah menunjukkan makna sedikit atau jarang. Contohnya,
قد يصدق الكذوب = Jarang orang pendusta itu berlaku jujur.
Maksud
التكثير adalah menunjukkan makna banyak atau sering. Contohnya, kamu mengatakan
قد ينجح المجتهد = (Kebanyakan) Orang yang bersungguh-sungguh itu berhasil.
Poin kita di sini adalah semua kata yang didahului oleh kata
قد tersebut adalah Fi’il.
2. Tanda Fi’il yang kedua adalah suatu kata itu didahului Huruf
سين atau Huruf
سَوْفَ.Kedua Huruf ini hanya masuk ke Fi’il Mudhari’ saja dan mengubah kandungan waktu pada Fi’il Mudhari’ dari masa sekarang menjadi masa akan datang. Perbedaannya, Huruf
سين menunjukkan jarak waktu akan datang yang lebih dekat daripada jarak waktu yang dikandung Huruf
سوف.Contohnya, saya mengatakan
سَأكْتُبُ الكتابَ = Saya akan menulis buku, dan
سوف أكتب الكتاب = Saya akan menulis buku. Rentang waktu pada kalimat pertama lebih dekat dengan masa pengucapan daripada rentang waktu pada kalimat kedua.
3. Tanda Fi’il ketiga adalah Ta Ta’nis Sakinah
تاء التأنيث الساكنة yaitu huruf Ta sukun yang masuk pada akhir kata.
Tanda ini hanya untuk Fi’il Madhi saja dan fungsinya adalah untuk menunjukkan bahwa Isim yang terpaut dengan Predikat ini berbentuk feminin (muannas). Contohnya,
نامتْ زينب = Zainab telah tidur.
Dan yang dimaksud dengan sukun bahwa huruf Ta ini pada aslinya sukun. Karena itu, harakat yang diberikan disebabkan pertemuan dua huruf mati tidak berpengaruh pada keasliannya yang sukun. Contohnya,
قالتِ الْمدرِّسة = Ibuguru berkata. Huruf Ta pada contoh ini berharakat kasrah (baris bawah) karena bertemu dengan alif AL yang sukun, statusnya tetap sebagai Ta Ta’nis Sakinah. Dan huruf itu pada kata tersebut adalah tanda bahwa kata tersebut adalah Fi’il.
4. Tanda Fi’il keempat adalah suatu kata yang menunjukkan makna tuntutan dan kata tersebut bisa menerima Ya Mukhathabah atau Nun Taukid.
Tanda ini akan lebih diketahui dengan memperlajari Ilmu Sharaf; (lihat postingan saya di kamar sebelah yah

) terdapat bentuk khusus dari Fi’il yang menunjukkan makna tuntutan yaitu Fi’il Amar. Dalam struktur kata dari segi Nahwu, kata ini bisa dilihat dari tandanya yaitu bisa menerima Ya Mukhathabah dan Nun Taukid. Maka, apabila suatu kata dimasuki oleh Ya atau Nun tersebut, maka kata itu adalah Fi’il.
Ya Mukhathabah adalah huruf Ya sukun di akhir kalimat sebagai kata ganti orang kedua perempuan; yang berfungsi untuk menunjukkan bahwa tuntutan ditujukan kepada perempuan. Contohnya,
قُوْمي = (Kamu perempuan), Bangunlah!, dari asal katanya untuk laki-laki
قُمْ, dan
اُكْتُبي = (Kamu perempuan), Menulislah!, dari asal kata perintahnya untuk laki-laki
اكتب. Kedua kata aslinya yang untuk laki-laki adalah Fi’il karena menunjukkan tuntutan dan bisa menerima Ya Mukhathabah. Dan dua kata yang untuk perempuan adalah Fi’il dengan ditandai dengan masuknya Ya Mukhathabah dan menunjukkan makna tuntutan.
Sedangkan Nun Taukid adalah huruf Nun pada akhir kata yang berfungsi untuk menunjukkan kesungguhan dan ketegasan tuntutan. Nun Taukid ada dua macam yaitu Khafifah (ringan) dan Tsaqilah (berat). Perbedaan keduanya dari segi bentuk adalah Nun Taukid Khafifah berbaris sukun
ـنْ, sedangkan Nun Taukid Tsaqilah bertasydid dan berharakat fathah
ـنَّ.Perbedaan keduanya dari segi makna adalah kata kerja dengan Nun Taukid Khafifah mengandung ketegasan yang kurang keras daripada ketegasan yang dikandung Nun Taukid Tsaqilah. Atau dalam bahasa gaulnya; kata kerja biasa berarti menuntut, dengan Nun Taukid Khafifah berarti maksa, dan dengan Nun Taukid Tsaqilah berarti maksa banget. Contohnya kita ambil dari dua kata di atas,
قومَنْ، قومنَّ dan
اُكْتُبَنْ، اُكْتُبَنَّ.C. Huruf الحرف
Huruf adalah jenis kata yang berfungsi sebagai kata bantu, yaitu kata yang mengandung makna yang tidak berdiri sendiri. Maknanya hanya bisa diketahui dengan bersandingan dengan kata lain, baik Isim atau Fi’il. Definisinya dalam bahasa Arab adalah:
كلمة دَلَّتْ علي مَعْنًي في غيرها
Tanda Huruf adalah tidak menerima tanda-tanda Isim atau tanda-tanda Fi’il, atau dengan ungkapan lain, Huruf adalah tanpa tanda pengenal. Kata yang termasuk dalam jenis Huruf ini terbagi bermacam-macam sesuai dengan fungsinya yang mempengaruhi status kata yang dimasukinya, sesuai dengan fungsi maknanya,
1. Harap diperhatikan penggunaan istilah Huruf ini; berbeda dengan Huruf dalam makna bahasa yang berarti suatu huruf yang menjadi unsur kata. Sebenarnya Huruf ini adalah bentuk plural, dan yang benar adalah Harf. Namun saya gunakan untuk memudahkan ingatan dan penyesuain dengan bahasa Indonesia. Huruf dalam istilah Nahwu ini bisa dilihat penjelasannya.
2. bukan Isim Dhamir yaitu kata ganti
3. Harap diingat bahwa yang dimaksud di sini bukan huruf Hija’iyah, tetapi adalah jenis kata yang kita kenal dengan sebutan Huruf.
