Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Jadwal Sholat untuk wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Senin, 21 Mei 2012/29 Jumadil Akhir 1433 H : Imsak 4:26:49 - Shubuh 4:33:13 - Terbit 5:55:03 - Dzuhur 11:49:33 - Ashar 15:11:32 - Maghrib 17:44:04 - Isya' 18:57:25 WIB

Penulis Topik: Manajemen Masjid sebagai Pusat Dakwah dan Aktivitas Umat  (Dibaca 2982 kali)


Offline ihsan

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.391
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • http://sibin2007.multiply.com
« Jawab #15 pada: 14 Februari 2008, 23:10:24 »
Memakmurkan Masjid
 :iyes:

 :woroworo:Lewat masjid, Rasulullah membangun kultur masyarakat baru yang lebih dinamis, progresif.

Tulisan ini, hanya sebagai pengingat bagi kita, Umat Islam, untuk merekonstruksi paradigma terhadap masjid, yang menurut saya, sekarang pandangan sebagian Umat Islam dalam melihat masjid tidak sesuai dengan khittahnya.

Saat ini sebagian Masjid ditelantarkan (dalam arti sebenarnya) oleh sebagian Umat Islam. Selama saya tinggal di Banjarbaru, kondisi sebagian masjid saat ini saya lihat sangat menyedihkan. Baik dari fisik bangunan, program kegiatannya maupun SDM pengelolanya. Bahkan yang membuat saya lebih miris, di antara masjid di Banjarbaru dan Pelaihari, jarang sekali anak muda yang shalat berjamaah.

"Barang siapa yang membangun rumah Allah (masjid) di dunia, maka Allah akan membangunkannya rumah di surga." (HR Muslim). Hadits itu jelas sekali maksudnya. Tapi karena kita memahaminya hanya secara harfiah, tanpa mengkaji lagi asbabul wurud (sebab hadits itu diturunkan) sehingga kita mungkin beranggapan: cukup menjadi panitia pembangunannya, Allah sudah membangunkan kita rumah di surga. Apalagi jika kita melakukan aktivitas shalat jamaah di masjid, memakmurkan masjid. Tentu hal yang luar biasa.

Padahal paradigma seperti itu keliru. Bayangkanlah, jika pikiran kita seluruhnya sama seperti itu, maka siapa yang akan merawat rumah Allah tersebut. Siapa yang akan memakmurkan masjid tersebut? Padahal, memakmurkan masjid jauh lebih baik dan mempunyai nilai sangat strategis bagi Umat Islam. Di antaranya, ukhuwwah islamiyah Umat Islam dapat terjaga. Di masjid, tidak memandang status sosial. Tidak memandang pangkat, jabatan, kekuasaan, dll, seperti ketika kita berada di kantor, di pasar misalnya. Di sini, di rumah Allah yang mulia, sangat terasa persaudaraan itu.

Jika kita ada pada zaman Rasulullah, mungkin rumah kita dibakar oleh Rasulullah karena kita tidak menjalankan shalat jamaah di masjid. Renungkanlah percakapan antara umi maktum, sahabat Rasulullah yang buta. "Ya Rasulullah adakah rukshah (keringanan) bagi saya untuk tidak melakukan shalat jamaah di masjid." Rasul menjawab: "Apakah engkau masih mendengar azan?" Umi Maktum menjawab: "Masih." "Maka wajib bagimu untuk mendatangi masjid itu," jawab Nabi. Hadits meriwayatkan, hampir-hampir akan dibakar rumah orang yang tidak mau ke masjid untuk shalat jamaah, jika tidak terjadi fitnah.

Pusat Revolusi Peradaban

Masjid di zaman Rasulullah mempunyai banyak fungsi, selain tempat ibadah. Itu sebabnya, Rasulullah membangun masjid terlebih dahulu.

Untuk mengumpulkan pengikut Rasulullah, tempat yang tepat adalah masjid karena bebas nilai. Hanya nilai kebaikan dalam rangka mengesakan Allah, yang ada di masjid. Madinah dijadikan Rasulullah sebagai prototipe masyarakat berperadaban Islam. Lewat masjid, Rasulullah membangun kultur masyarakat baru yang lebih dinamis, progresif. Intinya dari masjid awal cahaya Islam menyebar ke seluruh cakrawala dunia.

Bagaimana kondisi masjid sekarang? :hmmm: Selain seperti yang saya jelaskan di atas, ada hal yang umumnya terjadi di sebagian masjid kita. Masjid fungsinya dibatasi, hanya sebagai tempat ibadah. Salah? Tidak. kemudian ada lagi permasalahan yang sering saya jumpai di masjid, yaitu ketika ada yang ingin melakukan kegiatan atas nama parpol tertentu, izinnya dipersulit. Bahkan pengurus juga tidak jarang mengatakan: "Masjid bukan tempat orang untuk bicara politik." Padahal di zaman Rasulullah, justru politik dibicarakan di masjid.

Ada juga persoalan yang sering terjadi jika ada ormas mau mengadakan kegiatan, tetapi mazhabnya berbeda dengan pengurus masjid, maka ormas itu tidak boleh memakai masjidnya.

Tips memakmurkan masjid:
Dari sisi SDM yaitu:
-Adakan pelatihan manajemen masjid dengan mengundang ahlinya sehingga diharapkan pengelolanya bisa maksimal mengurus masjid;
-Adakan pembinaan terhadap pemuda di sekitar masjid. Diharapkan mereka sebagai suplai SDM nantinya, jika orang tua sudah tidak ada.

Dari sisi program kerja:
Buat program kerja yang inovatif. Misalnya, selama satu tahun kepengurusan si Fulan yang ada di masjid hanya acara Shalat Tasbih, yasinan, maulid, kajian kitab kuning. Maka, tambahlah dengan bedah buku, mabit, ESQ, Talk Show, dll.

Back to Masjid :iyes:

Kiranya tidak berlebihan, jika hal itu membawa dampak positif yang signifikan bagi kemakmuran masjid maupun masyarakat sekitar. Apalagi baru saja kita melewati Ramadhan. Kenapa tidak kita teruskan ibadah berjamaahnya? Apalagi sekarang Muharam, bulan ini dijadikan sebagai momentum hijrah bagi muslim. Mari kita shalat berjamaah di masjid, jika tidak mau, berarti ada yang salah dalam diri kita. :hmmm:

Kemudian Shalat Subuh bersama forum RT/RW, sehingga terlihat kedekatan pejabat dengan rakyatnya. Dampaknya luar biasa. Bukan hanya masjid yang hidup, tempat kita tinggal akan mendapat berkah dari langit. Apalagi jika gaya memimpin bupati/walikota seperti Umar bin Abdul Aziz. Subhanallah.

Kini saatnya kita kembali ke masjid. khususnya melakukan Shalat Subuh jamaah. Seorang Yahudi berkata: "Bangsa kami, Yahudi, baru akan takut jika Umat Islam telah melaksanakan Shalat Subuh seperti melakukan Shalat Jumat."

Tidak ada kata terlambat untuk memulai sebuah kebaikan. Mari mulai sekarang juga, kita makmurkan masjid di kompleks perumahan kita, di tempat kerja maupun di pusat perbelanjaan (jika memungkinkan). Hilangkan perbedaan yang tidak syar’i, kecurigaan terhadap sesama umat.

Sumber:
http://www.banjarmasinpost.co.id/content/view/15274/180/



Sukseskan Gerakan Back To Masjid ... :iyes: :iyes:

http://www.google.co.id/search?q=%22Back+to+Masjid%22&btnG=Telusuri&hl=id

http://www.google.co.id/search?q=%22Back+to+Masjid%22&hl=id&start=10&sa=N

Yahoogroup : remajamasjid
http://groups.yahoo.com/group/remajamasjid/

Back To Masjid !
http://azzam.wordpress.com/2007/07/02/back-to-masjid/

Membangun Peradaban Umat Melalui Pemakmuran Masjid
http://ntacaholic.blogspot.com/2008/02/membangun-peradaban-umat-melalui.html



:yakyik:
Re: Manajemen Masjid sebagai Pusat Dakwah dan Aktivitas Umat
http://myquran.org/forum/index.php/topic,11068.0.html

« Edit Terakhir: 14 Februari 2008, 23:19:10 oleh ihsan »
Al-Qur'an Online+Tafsir+Asb-Nuzul
http://c.1asphost.com/sibin

KUPAS FENOMENA ALAM GHOIB
http://d.1asphost.com/assalamghoib/

Waspadai Ajaran Sesat & Antek2nya
http://myquran.org/forum/index.php/topic,28703.0

Offline ihsan

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.391
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • http://sibin2007.multiply.com
« Jawab #16 pada: 14 Februari 2008, 23:31:44 »
Fungsi dan Peran Masjid
 :koran:

Masjid berarti tempat untuk bersujud. Secara terminologis diartikan sebagai tempat beribadah umat Islam, khususnya dalam menegakkan shalat. Masjid sering disebut Baitullah (rumah Allah), yaitu bangunan yang didirikan sebagai sarana mengabdi kepada Allah.

Pada waktu hijrah dari Mekah ke Madinah ditemani shahabat beliau, Abu Bakar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati daerah Quba di sana beliau mendirikan Masjid pertama sejak masa kenabiannya, yaitu Masjid Quba (QS 9:108, At Taubah). Setelah di Madinah Rasulullah juga mendirikan Masjid, tempat umat Islam melaksanakan shalat berjama’ah dan melaksanakan aktivitas sosial lainnya. Pada perkembangannya disebut dengan Masjid Nabawi.

Fungsi Masjid paling utama adalah sebagai tempat melaksanakan ibadah shalat berjama’ah. Kalau kita perhatikan, shalat berjama’ah adalah merupakan salah satu ajaran Islam yang pokok, sunnah Nabi dalam pengertian muhaditsin, bukan fuqaha, yang bermakna perbuatan yang selalu dikerjakan beliau. Ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang shalat berjama’ah merupakan perintah yang benar-benar ditekankan kepada kaum muslimin.

Abdullah Ibn Mas’ud r.a. berkata: “Saya melihat semua kami (para shahabat) menghadiri jama’ah. Tiada yang ketinggalan menghadiri jama’ah, selain dari orang-orang munafiq yang telah nyata kemunafiqannya, dan sungguhlah sekarang di bawa ke Masjid dipegang lengannya oleh dua orang, seorang sebelah kanan, seorang sebelah kiri, sehingga didirikannya ke dalam shaff.” (HR: Al Jamaah selain Bukhory dan Turmudzy).

Ibnu Umar r.a. berkata: “Bersabdalah Rasulullah s.a.w.: “Shalat berjama’ah melebihi shalat sendiri dengan dua puluh tujuh derajad.” (HR: Bukhory dan Muslim).

Sebenarnya, inti dari memakmurkan Masjid adalah menegakkan shalat berjama’ah, yang merupakan salah satu syi’ar Islam terbesar. Sementara yang lain adalah pengembangannya. Shalat berjama’ah merupakan indikator utama keberhasilan kita dalam memakmurkan Masjid. Jadi keberhasilan dan kekurang-berhasilan kita dalam memakmurkan Masjid dapat diukur dengan seberapa jauh antusias umat dalam menegakkan shalat berjama’ah.
Meskipun fungsi utamanya sebagai tempat menegakkan shalat, namun Masjid bukanlah hanya tempat untuk melaksanakan shalat saja.

Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, selain dipergunakan untuk shalat, berdzikir dan beri'tikaf, Masjid bisa dipergunakan untuk kepentingan sosial. Misalnya, sebagai tempat belajar dan mengajarkan kebajikan (menuntut ilmu), merawat orang sakit, menyelesaikan hukum li'an dan lain sebagainya.
Dalam perjalanan sejarahnya, Masjid telah mengalami perkembangan yang pesat, baik dalam bentuk bangunan maupun fungsi dan perannya. Hampir dapat dikatakan, dimana ada komunitas muslim di situ ada Masjid. Memang umat Islam tidak bisa terlepas dari Masjid. Disamping menjadi tempat beribadah, Masjid telah menjadi sarana berkumpul, menuntut ilmu, bertukar pengalaman, pusat da’wah dan lain sebagainya.

Banyak Masjid didirikan umat Islam, baik Masjid umum, Masjid Sekolah, Masjid Kantor, Masjid Kampus maupun yang lainnya. Masjid didirikan untuk memenuhi hajat umat, khususnya kebutuhan spiritual, guna mendekatkan diri kepada Pencipta-nya. Tunduk dan patuh mengabdi kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Masjid menjadi tambatan hati, pelabuhan pengembaraan hidup dan energi kehidupan umat.

Utsman Ibn ‘Affan r.a. berkata: “Rasul s.a.w. bersabda: Barangsiapa mendirikan karena Allah suatu Masjid, niscaya Allah mendirikan untuknya seperti yang ia telah dirikan itu di Syurga.” (HR: Bukhori & Muslim).

Masjid memiliki fungsi dan peran yang dominan dalam kehidupan umat Islam, beberapa di antaranya adalah:

1. Sebagai tempat beribadah.

Sesuai dengan namanya Masjid adalah tempat sujud, maka fungsi utamanya adalah sebagai tempat ibadah shalat. Sebagaimana diketahui bahwa makna ibadah di dalam Islam adalah luas menyangkut segala aktivitas kehidupan yang ditujukan untuk memperoleh ridla Allah, maka fungsi Masjid disamping sebagai tempat shalat juga sebagai tempat beribadah secara luas sesuai dengan ajaran Islam.

2. Sebagai tempat menuntut ilmu.

Masjid berfungsi sebagai tempat untuk belajar mengajar, khususnya ilmu agama yang merupakan fardlu ‘ain bagi umat Islam. Disamping itu juga ilmu-ilmu lain, baik ilmu alam, sosial, humaniora, keterampilan dan lain sebagainya dapat diajarkan di Masjid.

3. Sebagai tempat pembinaan jama’ah.

Dengan adanya umat Islam di sekitarnya, Masjid berperan dalam mengkoordinir mereka guna menyatukan potensi dan kepemimpinan umat. Selanjutnya umat yang terkoordinir secara rapi dalam organisasi Ta’mir Masjid dibina keimanan, ketaqwaan, ukhuwah imaniyah dan da’wah islamiyahnya. Sehingga Masjid menjadi basis umat Islam yang kokoh.

4. Sebagai pusat da’wah dan kebudayaan Islam.

Masjid merupakan jantung kehidupan umat Islam yang selalu berdenyut untuk menyebarluaskan da’wah islamiyah dan budaya islami. Di Masjid pula direncanakan, diorganisasi, dikaji, dilaksanakan dan dikembangkan da’wah dan kebudayaan Islam yang menyahuti kebutuhan masyarakat. Karena itu Masjid, berperan sebagai sentra aktivitas da’wah dan kebudayaan.

5. Sebagai pusat kaderisasi umat.

Sebagai tempat pembinaan jama’ah dan kepemimpinan umat, Masjid memerlukan aktivis yang berjuang menegakkan Islam secara istiqamah dan berkesinambungan. Patah tumbuh hilang berganti. Karena itu pembinaan kader perlu dipersiapkan dan dipusatkan di Masjid sejak mereka masih kecil sampai dewasa. Di antaranya dengan Taman Pendidikan Al Quraan (TPA), Remaja Masjid maupun Ta’mir Masjid beserta kegiatannya.

6. Sebagai basis Kebangkitan Umat Islam.

Abad ke-lima belas Hijriyah ini telah dicanangkan umat Islam sebagai abad kebangkitan Islam. Umat Islam yang sekian lama tertidur dan tertinggal dalam percaturan peradaban dunia berusaha untuk bangkit dengan berlandaskan nilai-nilai agamanya. Islam dikaji dan ditelaah dari berbagai aspek, baik ideologi, hukum, ekonomi, politik, budaya, sosial dan lain sebagainya. Setelah itu dicoba untuk diaplikasikan dan dikembangkan dalam kehidupan riil umat. Menafasi kehidupan dunia ini dengan nilai-nilai Islam. Proses islamisasi dalam segala aspek kehidupan secara arif bijaksana digulirkan.

Umat Islam berusaha untuk bangkit. Kebangkitan ini memerlukan peran Masjid sebagai basis perjuangan. Kebangkitan berawal dari Masjid menuju masyarakat secara luas. Karena itu upaya aktualisasi fungsi dan peran Masjid pada abad lima belas Hijriyah adalah sangat mendesak (urgent) dilakukan umat Islam. Back to basic, Back to Masjid.


AKTUALISASI FUNGSI DAN PERAN MASJID

Secara umum pengelolaan Masjid kita masih memprihatinkan. Apa kiranya solusi yang bisa dicoba untuk ditawarkan dalam meng-aktualkan fungsi dan peran Masjid di era modern. Hal ini selayaknya perlu kita pikirkan bersama agar Masjid dapat menjadi sentra aktivitas kehidupan umat kembali sebagaimana telah ditauladankan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabatnya.

Kita perlu melakukan pemberdayaan Masjid dahulu sebelum mengoptimalkan fungsi dan perannya. Dalam pemberdayaan ini kita bisa menggunakan metode Continuous Consolidation and Improvement for Mosque (CCIM) atau Penguatan dan Perbaikan Berkelanjutan untuk Masjid .

CCIM adalah metode pemberdayaan Masjid dengan menata kembali organisasi Ta’mir Masjid melalui pemanfaatan segenap potensi yang dimiliki diikuti dengan perbaikan yang dilakukan secara terus menerus. Dalam metode ini kita dapat memanfaatkan metode-metode yang sudah dikenal dalam dunia management maupun mutu, seperti misalnya: Siklus PDCA, QC Tools, SAMIE, MMT, ISO 9000, Lima-R dan lain sebagainya.
Penguatan atau dalam istilah umum organisasi disebut konsolidasi (concolidation), adalah merupakan upaya menata sumber daya yang ada secara sistimatis dan terarah. Yang perlu dilakukan adalah meliputi:
a. Konsolidasi pemahaman Islam.
b. Konsolidasi lembaga organisasi.
c. Konsolidasi program.
d. Konsolidasi jama’ah.

Perbaikan (improvement) diperlukan untuk meningkatkan kinerja dalam memberikan pelayanan kepada jama’ah. Beberapa cara yang cukup efektif dalam upaya perbaikan dapat diseleksi dan disesuaikan dengan kebutuhan, agar upaya perbaikan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan (continuous improvement).

Sambil melakukan konsolidasi dan perbaikan, aktivitas memakmurkan Masjid dan jama’ahnya dilaksanakan sesuai dengan fungsi dan peran yang telah disebutkan di depan. Aktivitas disusun dengan melakukan perencanaan Program Kerja secara periodik dan diterjemahkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Pengelolaan (RKAP) setiap tahunnya.

Rencana yang telah ditetapkan selanjutnya ditindak lanjuti dengan melakukan koordinasi segenap sumber daya yang dimiliki dan dilaksanakan secara profesional. Aktivitas yang diselenggarakan dilaporkan, dievaluasi, distandardisasi dan dikaji untuk ditingkatkan kualitas maupun kuantitasnya.

Pada masa sekarang Masjid semakin perlu untuk difungsikan, diperluas jangkauan aktivitas dan pelayanannya serta ditangani dengan organisasi dan management yang baik. Tegasnya, perlu tindakan meng-aktualkan fungsi dan peran Masjid dengan memberi warna dan nafas modern. Lokakarya idarah Masjid yang diselenggarakan di Jakarta oleh KODI DKI pada tanggal 9-10 November 1974 telah merumuskan pengertian istilah Masjid sebagai berikut: "Masjid ialah tempat untuk beribadah kepada Allah semata dan sebagai pusat kebudayaan Islam". Pemahaman tersebut menunjukkan bahwa Masjid harus bebas dari aktivitas syirik dan harus dibersihkan dari semua kegiatan-kegiatan yang cenderung kepada kemusyrikan. Disamping itu kegiatan-kegiatan sosial yang dijiwai dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam dapat diselenggarakan di dalamnya.

Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. (QS 72:18, Al Jin).
http://ccc.1asphost.com/assalamtafsir/Alquran_Tafsir.asp?SuratKe=72&No=18#18

Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS 9:18, At Taubah).
http://ccc.1asphost.com/assalamtafsir/Alquran_Tafsir.asp?SuratKe=9&No=18#18

Pengertian Masjid sebagi tempat ibadah dan pusat kebudayaan Islam telah memberi warna tersendiri bagi umat Islam modern. Tidaklah mengherankan bila suatu saat, insya Allah, kita jumpai Masjid yang telah dikelola dengan baik, terawat kebersihan, kesehatan dan keindahannya. Terorganisir dengan management yang baik serta memiliki tempat-tempat pelayanan sosial seperti, poliklinik, Taman Pendidikan Al Quraan, sekolah, madrasah diniyah, majelis ta'lim dan lain sebagainya.

Sumber:

Fungsi dan Peran Masjid
http://www.immasjid.com/?pilih=lihat&id=149
 :yihaa:





Sukseskan Gerakan "Back To Masjid ..."
http://myquran.org/forum/index.php?topic=34850.0

 :yihaa:
« Edit Terakhir: 19 Februari 2008, 21:54:08 oleh ihsan »
Al-Qur'an Online+Tafsir+Asb-Nuzul
http://c.1asphost.com/sibin

KUPAS FENOMENA ALAM GHOIB
http://d.1asphost.com/assalamghoib/

Waspadai Ajaran Sesat & Antek2nya
http://myquran.org/forum/index.php/topic,28703.0

Offline ihsan

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.391
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • http://sibin2007.multiply.com
« Jawab #17 pada: 24 Februari 2008, 10:27:44 »
Download file.doc 70kb
Sukseskan Gerakan "Back To Masjid"
O0
http://c.1asphost.com/sibin/Sukseskan_Gerakan_Back_To_Masjid.doc
Kalau berkenan...%peace%
PRINT DAN TEMPELKAN DIMASJID...
 %peace%
Al-Qur'an Online+Tafsir+Asb-Nuzul
http://c.1asphost.com/sibin

KUPAS FENOMENA ALAM GHOIB
http://d.1asphost.com/assalamghoib/

Waspadai Ajaran Sesat & Antek2nya
http://myquran.org/forum/index.php/topic,28703.0

Offline ihsan

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.391
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • http://sibin2007.multiply.com
« Jawab #18 pada: 02 Maret 2008, 20:36:30 »
MISTERI SHOLAT SUBUH O0
Disajikan dalam format persentasi, silahkan download file dibawah ini, selamat menikmati, semoga bermanfaat :
500kb
misteri_sholat_subuh.pps

atau
http://buletinakhlak.multiply.com/journal/item/21/MISTERI_SHOLAT_SUBUH

atau:
http://assalambook.as.funpic.org/EBOOKS/misteri_sholat_subuh.pps
« Edit Terakhir: 29 Juli 2009, 19:26:03 oleh ihsan »
Al-Qur'an Online+Tafsir+Asb-Nuzul
http://c.1asphost.com/sibin

KUPAS FENOMENA ALAM GHOIB
http://d.1asphost.com/assalamghoib/

Waspadai Ajaran Sesat & Antek2nya
http://myquran.org/forum/index.php/topic,28703.0

Offline ihsan

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.391
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • http://sibin2007.multiply.com
« Jawab #19 pada: 05 Oktober 2008, 18:43:28 »
Masalah lurus & rapatkan SHAF patut mendapatkan perhatian serius dari pengurus masjid...
http://myquran.org/forum/index.php/topic,43810.0/
« Edit Terakhir: 07 Oktober 2008, 14:36:01 oleh ihsan »
Al-Qur'an Online+Tafsir+Asb-Nuzul
http://c.1asphost.com/sibin

KUPAS FENOMENA ALAM GHOIB
http://d.1asphost.com/assalamghoib/

Waspadai Ajaran Sesat & Antek2nya
http://myquran.org/forum/index.php/topic,28703.0

Offline bu edi

  • myQ Aktivis
  • *
  • Tgl Gabung: Nov 2008
  • Tulisan: 1.249
  • Lokasi: bekasi
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
« Jawab #20 pada: 19 November 2008, 13:41:18 »
Selain membangun fisik masjid gak kalah penting juga membangun ruhnya masjid.

Banyak sekarang fisik masjid sangat indah, megah dan "wah", tetapi karena ruhnya tidak dibangun, maka masjid ibarat menjadi sebuah "pajangan" yang hanya untuk dipandang dan difoto saja.

Tetapi sebaliknya fisik masjid sangat sederhana tapi ruhnya sangat kuat maka waktu demi waktu fisik itu akan berubah dengan sendirinya.

setuju dng yg diatas....

saya salut dng panitia pembangunan & para pengurus DKM mushola di komplek kami.
beliau2 itu gigih & pantang menyerah. mulai dr nol, mulai dr sebidang tanah yg disediakan pihak developer skr sudah berdiri tiang2 kokoh dan sudah dikasih atap.
dua tahun yg lalu pembangunan mushola kami dimulai, perlahan-lahan & tertatih-tatih.
setelah berdiri tiang & dikasih atap, meskipun belum ada dinding & kramik mushola kami dah banyak jamaahnya.
kegiatan keagamaan, misalnya peringatan2 jg dah terlaksana. jd gak nunggu masjid hrs rapi dl

Rhamadan kmaren jg dah bs dipakai buat safari ramadhan
Bapak2 dilingkunan kami ghirohnya jg tinggi
pengurus DKM nya kreatif & top bgt, bs membumi & bs diterima dimasyarakat komplek kami

salah satu kreatifitas bapak2 DKM yaitu dengan membuat celengan akherat (tabungan).
celengan itu dibuat dr kaleng susu (yg 800 gr) bekas, dicat ulang dng diberi sticker, subhanalloh jd indah lho.
tdnya celengan ini hanya buat bapak2 yg sering kemasjid, tp krn tetanga banyak yg liat jd permintaan celengan akherat ini cukup buanyak bahkan smp kehabisan stok & skr masih banyak waiting list nya lho

celengan ini ditaruh ditiap2 rmh jd masing2 bs menyisihkan uang hariannya utk berinfaq
nanti akhir bulan bapak pengurus DKM akan keliling ngambil uangnya
hasilnya.....subhanalloh..... luar biasa

dananya utk kegiatan DKM &  buat dana pembangunan masjid jg, krn smp skr masih jauh dr rapi

skr ada lg program dr DKM yaitu belajar baca tulis Al Qur'an bagi bapak2

smg ghiroh warga komplek kami tetap terjaga sehingga mushola kami selalu rame jamaahnya

hanya ingin lebih baik dari sebelumnya
tapi kenapa ada saja rintangannya

Offline Utom

  • myQ Newbie
  • *
  • Tgl Gabung: Des 2008
  • Tulisan: 17
  • Lokasi: Bogor
  • Jenis kelamin: Pria
  • Isy Kariman au Mut Syahidan
    • Lihat Profil
    • belajar sepanjang hayat
« Jawab #21 pada: 15 Desember 2008, 15:50:47 »
masjid di sekolah saya sampai saat ini belum rampung. padahal kemarin janjinya pengen direnovasi. taunya, eh malah dipugar ulang. waktu saya liat perincian dananya... wah besar sekali!!! sampai ada yang nyeletuk; mau buat Istiqlal ya? banyak banget yang dirugikan dari pembangunan ini. terutama siswa. apalagi sekarang kondisi dakwahnya sedang down. kalo diitung, mungkin mesjid saya bakal 5 tahun lagi. atau mungkin lebih. ini bisa membuat dakwah pakem, bahkan bubar. saya sama temen2 lagi kelimpungan cari solusi. padahal saya sekarang sudah kelas 3. konsentrasi sudah terpecah lebih banyak untuk ujian. ada yang bisa ngasih solusi aplikatif gak sekedar teori supaya dakwah n ibadah di sekolah saya tetap lancar??
Bersama Ridho Allah Kita Melangkah

Offline ihsan

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.391
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • http://sibin2007.multiply.com
« Jawab #22 pada: 28 Juli 2009, 16:07:52 »
Muslimah Mesir Berlomba Aktif di Masjid
By Republika

KAIRO-- Aktivitas keislaman di masjid-masjid yang tersebar di Mesir tak lagi didominasi kaum Adam. Muslimah di negeri Piramida itu kini mulai ambil bagian dalam berbagai aktivitas keumatan yang diselenggarakan di masjid, mulai ibadah hingga kegiatan sosial. Fenomena itu dinilai sebagai bangkitnya kesadaran keagamaan.

''Ketika saya masih muda, kami tak pernah pergi ke masjid, meski untuk shalat sekalipun,'' papar Amira Khairy, seorang guru. Menurut dia, selama ini masjid bagi kaum Muslimah Mesir hanya sebagai tempat untuk wisata di hari libur. ''Ibaratnya seperti pengunjung,'' imbuh Khairy.

Kini, seiring meningkatnya ketaatan beribadah, kaum Muslimah Mesir mulai berlomba untuk terlibat dalam berbagai aktivitas di masjid. Muslimah Mesir mengisi waktu mereka dengan menambah pengetahuan Islam dan menjadi relawan berbagai kegiatan sosial serta keagamaan di masjid.

Kalangan Muslimah Mesir sudah mampu menyeimbangkan perannya di rumah dan luar rumah. Muslimah Mesir yang aktif dalam berbagai kegiatan masjid bukanlah para feminis bergaya Barat. Mereka adalah Muslimah yang ingin mewujudkan masjid sebagai tempat yang ramah terhadap kaum Hawa.

Hingga kini, belum ada statistik yang menunjukkan kenaikan jumlah Muslimah Mesir yang menunaikan ibadah shalat di masjid. Namun, sejumlah ulama Mesir mengakui adanya kenaikan kehadiran Muslimah Mesir dalam berbagai aktivitas di masjid. ''Muslimah tengah memainkan peranan keagamaan yang sangat besar,'' ungkap seorang ulama seperti dikutip kantor berita AP.

Salah satu masjid yang ramai dikunjungi kaum Muslimah adalah Masjid Al-Sedeeq yang terletak di dekat bandara internasional Kairo. Setiap dua pekan sekali, di masjid itu tak kurang dari seribu Muslimah mempelajari Alquran. Yang mengajarnya pun Muslimah. Di saat-saat tertentu, para Muslimah juga mengorganisasi pengumpulan pakaian, memasak makanan untuk orang miskin, serta mengajar kaum wanita lainnya membaca.

Sekitar 10 tahun lalu, kaum Muslimah melakukan pengajian di rumah-rumah. Sekarang, mereka menggunakan masjid sebagai tempat belajar dan beribadah. Mesir kini menjadi salah satu negara di Timur Tengah yang sangat progresif dalam isu kehadiran wanita di Masjid.

Prof Abdel-Moeti Bayoumi, seorang guru besar ilmu agama di Universitas  Al-Azhar, menyatakan, kaum Adam harus mulai menyadari bahwa zaman telah berubah. ''Tak diperbolehkan dalam Islam mencegah seorang wanita untuk shalat di masjid,'' katanya menegaskan.

http://www.republika.co.id/berita/29919/Muslimah_Mesir_Berlomba_Aktif_di_Masjid



Posting Digabung: 28 Juli 2009, 16:23:31


Ketua MUI: Hampir Semua Masjid Mubadzir
By Republika

MALANG – Ketua Majelis Ulama Islam (MUI) KH Kholil Ridwan menilai hampir semua masjid yang ada di Indonesia mubadzir. Penilaian tersebut disampaikan KH Kholil Ridwan ketika Peresmian Masjid Baitur Rohman dan Silaturahmi dengan Para Mualaf Bromo, Muslim Lereng Gunung Semeru, Kawi-Bromo serta minuritas Muslim Pinewen, Kabupaten Malang, yang digelar Yayasan Mujahidin di Desa Donowarih, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malangm, Jawa Timur Ahad (16/11).

''Kita harus menyadari bahwa banyak masjid di Indonesia yang mubadzir. Padahal, orang yang senang  terhadap barang-barang  mubadzir itu berarti temannya setan,'' jelas KH Kholil Ridwan kepada Republika. Lantas dia menjelaskan indikator masjid-masjid yang dinilai mubadzir. Menurut dia, masjid yang mubadzir itu sepi kegiatan. Terutama, ketika melaksanakan sholat lima waktu. Selama ini, kata dia, masjid yang dipakai untuk melaksanakan ibadah sholat lima waktu itu ratarata hanya berisi dua shof saja.

Sementara pada waktu-waktu selain pelaksanaan ibadah sholat lima waktu sepi. Hanya pada saat hari Jum'at, ketika orang muslim menunaikan ibadah sholat jum'at saja masjid terisi penuh. ''Selebihnya, kan tidak. Itu berarti mubadzir,'' jelasnya. Kondisi masjid yang semacam itu, kata dia,  dialami hampir seluruh masjid yang ada di Indonesia. Menurut dia, tidak hanya di desa, tapi kota juga banyak yang sepi kegiatan. Bahkan, saat pelaksanaan ibadah sholat lima waktu, hanya  terisi rata-rata dua shof.

Menurut dia, ketika jaman Nabi Muhammad SAW, jika ada masjid yang mubadzir karena tidak termanfaatkan secara optimal, langsung dibakar. Bahkan, Nabi Muhammad sendiri yang memimpin untuk melakukan pembakaran terhadap masjid yang dinilai mubadzir itu. Makanya, kata dia menceritakan ketika jaman Nabi Muhammad, tidak ada masjid yang mubadzir. Hampir semua masjid terisi penuh, terutama ketika masuk waktu sholat. Selain it, masjid juga dijadikan sebagai pusat dakwah, pusat kegiatan termasuk ekonomi. Sehingga, masjid itu juga dijadikan sebagai pusat bisnis atau pasar.

Agar masjid di Indonesia yang jumlahnya jutaan tidak mubadzir, terang dia,  harus diisi dengan berbagai kegiatan. Dia contohan, seperti mernjadikan masjid sebagai pusat kegiatan islam (Islamic Center). Sehingga, tidak menjadi temannya iblis.

''Mari kita kembali ke masjid. Jadikan masjid sebagai islamic center. Tinggalkan itu Senayan. Sebab, kalau tidak kembali ke Masjid, tunggulah kehancurannya. Kalau perlu, bangun pasar, rumah sakit  dan lain sebagainya di dekat masjid. Sehingga, masjid benar-benar menjadi pusat kegiatan umat Islam,'' jelasnya sembari menambahkan bila MUI akan menggalakkan sosialisa untuk kembali ke masjid.

Hal senada juga diungkapkan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Ustad Ir Andri Kurniawan Mag. Menurut Ketua Yayasan Mujahidin ini, selama ini memang banyak masjid yang mubadzir. Alasannya, masjid tidak lagi dijadikan sebagai pusat kegiatan dakwah.

Makanya, dia berjanji akan memakmurkan masjid Baitur Rohman yang dibangun di Desa Donowarih, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang itu. ''Masjid ini nantinya akan menjadi markas dakwah meskipun lokasinya tidak dekat dengan pemukiman warga,'' katanya. Dia optimistis, masjid yang dibangun di atas lahan seluas 650 meter per segi untuk membentengi umat dari program agama lain ini bakal makmur. Alasannya, setelah dijadikan markas dakwah, banyak agenda kerja yang bakal digarap melalui masjid tersebut.

Di antara proyek dakwah itu dia sebutkan seperti pembinaan panti asuhan dan pembinaan muslim minoritas di Pinewen, pembinaan mini islamic snter di Kalipare, lereng gunung Semeru, Kawi dan Bromo. Selain itu, menjadi pusat pemibinaan Ponpes Mahasiswa sebagai pembina di Jalan Sigura-gura Malang, selain panti asuhan Arrohmah. Menurut dia, kalau markas dakwah itu sukses, ''Insyaa Allah Taman umat islam akan terbentengi dari berbagai upaya pemurtadan. Cita-cita kami  umat islam menjadi umat yang  madani, mawaddah wa rahmah lewat masjid. Amin,'' jelasnya.

http://www.republika.co.id/berita/29924/Ketua_MUI_Hampir_Semua_Masjid_Mubadzir

Peran Masjid dalam Peradaban Islam

"Di era kejayaan Islam, masjid tak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah saja, namun juga sebagai pusat kegiatan intelektualitas," ungkap J Pedersen dalam bukunya berjudul Arabic Book. Sejak awal perkembangannya, masjid terbukti memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan pendidikan di dunia Islam.

Sejarawan asal Palestina, AL Tibawi, menyatakan bahwa sepanjang sejarahnya, masjid dan pendidikan Islam adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Di dunia Islam, sekolah dan masjid menjadi satu kesatuan. "Sejak pertama kali berdiri, masjid telah menjadi pusat kegiatan keislaman, tempat menunaikan shalat, berdakwah, mendiskusikan politik, dan sekolah," cetus Jacques Wardenburg.

Di manapun ajaran Islam berkembang, di situlah bangunan masjid menjulang. Peran masjid kemudian berkembang sebagai tempat menimba ilmu. Sekolah-masjid di era kejayaan Islam mampu menampung murid dalam jumlah ratusan hingga ribuan siswa. Sebagai pusat intelektualitas, masjid-masjid di era kekhalifahan telah dilengkapi dengan perpustakaan. Koleksi bukunya begitu melimpah, karena banyak ilmuwan dan ulama yang mewakafkan bukunya di perpustakaan masjid.

Sejarah peradaban Islam mencatat, aktivitas pendidikan berupa sekolah pertama kali hadir di masjid pada tahun 653 M di kota Madinah. Pada era kekuasaan Dinasti Umayyah, sekolah di Masjid pun mulai muncul di Damaskus pada tahun 744 M. Sejak tahun 900 M, hampir setiap masjid memiliki sekolah dasar yang berfungsi untuk mendidik anak-anak Muslim yang tersebar di dunia Islam.

Pada zaman keemasan Islam, anak-anak mulai disarankan untuk menimba ilmu sejak menginjak usia lima tahun. Pada tahap awal, mereka diajarkan cara untuk menulis 99 nama Allah yang indah atau asmaul husna. Selain itu, anak-anak Muslim di masa kekhalifahan pun mulai diperkenalkan dengan tulisan ayat-ayat Alquran yang sederhana.

Setelah mahir membaca dan lincah menulis, anak-anak yang belajar di masjid dijarkan Alquran ditambah pelajaran berhitung atau aritmatika. Para siswa juga bisa mempelajari ilmu-ilmu lainnya. Masjid-masjid besar, biasanya juga menawarkan pendidikan ilmu yang lebih luas lagi. Di masjid-masjid besar itu, para pelajar di zaman kekhalifahan pun bisa mempelajari beragam ilmu seperti tata bahasa Arab, logika, aljabar, biologi, sejarah, hukum, dan teologi.

Pada perkembangannya, para pelajar juga tak hanya menimba ilmu di masjid saja. Untuk mempraktikan kemampuannya dalam bidang kedokteran, para siswa juga belajar di rumah sakit. Yang tertarik astronomi juga belajar langsung di observatorium. Tempat belajar juga bisa dilakukan di madrasah - umumnya tempatnya berdampingan dengan masjid. Selain itu bisa juga di rumah-rumah para guru.

Di wilayah Spanyol Muslim, aktivitas pendidikan pada umumnya bertempat di masjid. Masjid menjadi pusat aktivitas belajar-mengajar di mulai di daerah kekuasaan Dinasti Umayyah itu sejak berdirnya Masjid Cordoba pada abad ke-8 M. Kegiatan belajar-mengajar di masjid memang terbilang unik dan sangat khas.

Format dasar pendidikan di masjid adalah belajar dengan melingkar. Format seperti ini dikenal sebagai Halaqat al-ilm atau halaqah. Dalam ensiklopedia Islam, Halaqah berari "kumpulan orang-orang yang duduk melingkar" atau "kumpulan para pelajar di sekitar seorang guru". Kerap kali, masjid-masjid yang menyelenggarakan halaqah kedatangan ilmuwan tamu.

Secara khusus, ilmuwan atau ulama tamu itu akan dipersilakan duduk di samping guru sebagai bentuk penghormatan. Terkadang, ulama atau ilmuwan tamu itu juga diberikan waktu untuk mengajar. Penjelajah Muslim terkemuka dari Maroko, Ibnu Batutta, dalah catatan perjalannya mengambarkan lebih dari 500 pelajar menghadiri halaqah di Masjid Agung Umayyah, Damaskus.

Geografer dan penjelajah Muslim lainnya, Al-Muqaddasi, juga menceritakan di Masjid Amr dekat Kairo, Mesir terdapat lebih dari 50 halaqah pada satu tempat. Sedangkan di masjid utama Kairo, tak kurang terdapat 120 halaqah. Menurut Ruth Stellhorn Mackensen dalam bukunya Background of The History of Moslem Libarries, mengajar dan belajar di masjid-masjid besar di era kekhalifahan menjadi profesi yang benar-benar membanggakan.

Aktivitas keilmuan di masjid bahkan bisa melahirkan sebuah pendidikan tinggi atau universitas. Sejarah mencatat, hingga kini terdapat universitas terkemuka di dunia Islam yang lahir dan berasal dari aktivitas intelektual di masjid antara lain; Universitas Al-Qayrawwan dan Al-Zaituna di Tunisia, Al-Azhar di Mesir, Al-Qarawiyyin di kota Fez Maroko, dan Sankore di Timbuktu.

Masjid-masjid besar yang menyelenggarakan aktivitas pendidikan mampu menarik perhatian para ilmuwan dan pelajar dari berbagai belahan di dunia Islam. Pada abad ke-12 M, misalnya, aktivitas keilmuwan yang digelar di Masjid Sankore Timbuktu, Mali Afrika Barat mampu mendatangkan 25 ribu siswa dari berbagai negara. Pendidikan yang diselenggarakan di masjid pada masa kejayaan Islam mampu melahirkan sederet tokoh Muslim terkemuka.

Pendidikan Masjid Cordoba Spanyol mampu melahirkan seorang ilmuwa besar bernama Ibnu Rushdi dan Ibnu Bajja. Sebuah masjid di Basrah, Irak juga mampu melahirkan seorang ahli tata bahasa Arab terkemuka sepanjang masa bernama Sibawaih. Ia merupakan murid Al-Khalil Ibnu Ahmad yang mengajarnya di masjid.

Sekolah yang digelar di Masjid Al-Qarawiyyin Fez, Maroko pun mampu melahirkan ulama dan ilmuwan hebat seperti; Ibnu Khaldun, Ibnu Al-Khatib, Al-Bitruji, Ibnu Harazim, Ibnu Maimoun, serta Ibnu Wazzan (Leo Africanus). Bahkan di Masjid Al-Qarawiyyin pula Paus Sylvester II menimba ilmu matematika dan lalu menyebarkannya di gereja-gereja Eropa. Pamor Masjid Al-Azhar, Mesir pun mampu menarik perhatian ilmuwan seperti Ibnu Al-Haitham, Ibnu Khaldun, dan Al-Baghdadi.

Pendidikan yang digelar di masjid pada zaman kejayaan Islam ternyata mampu memberi pengaruh terhadap pendidikan di Eropa. Menurut George Makdisi, guru besar Studi Islam di Universitas Pennsylvania, pendidikan masjid yang diselenggarakan di era kekhalifahan telah memberi pengaruh kepada peradaban Eropa melalui sistem pendidikan, universalitas, metode pengajaran, dan gelar kesarjanaan yang diberikan.

"Islam juga memberi pengaruh kepada Barat dalam penyelenggaraan pendidikan universitas yakni dalam kebebasan akademik profesor dan mahasiswa, dalam tesis dokteral serta yang lainnya," cetus Makdisi. Begitulah peran masjid dalam mengembangkan pendidikan di dunia Islam pada era keemasan Islam. Lalu bagaimanakah peran masjid saat ini?


Posting Digabung: 28 Juli 2009, 21:14:23


Tarmizi Taher, 'Masjid Pusat Pembinaan Ekonomi Umat'
By Republika Newsroom
Jumat, 26 Desember 2008

Selama tiga hari, Jumat-Ahad, 25-27 Agustus 2006, Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (DMI) menggelar Muktamar V di Hotel Grand Cempaka Cempaka Putih Jakarta Pusat. Selain merancang program baru serta melaporkan kegitan pengurus lama, Muktamar V DMI juga berhasil memilih ketua umum DMI yang baru untuk masa periode 206-2011. Mantan Menteri Agama di era Presiden HM Soeharto yang juga dikenal sebagai pendiri Center for Moderate Muslim (CMM), Dr Tarmizi Taher, akhirnya terpilih untuk memimpin DMI periode ini.

Kepada Damanhuri Zuhri dari Republika, Tarmizi melontarkan ide dan gagasan tentang kemana gerbong DMI akan dibawa. ''Di masjid itu kita jadikan sentral dari pembinaan agama, pembinaan iman, pembinaan ibadah, pembinaan ekonomi, dan pendidikan,'' ujarnya memberi bocoran program kerjanya. Berikut ini petikan wawancaranya:

Apa peran masjid ke depan menurut Anda?

Kita akan membawa masjid berfungsi sebagaimana seharusnya berfungsi. Masjid itu sentral dari pembinaan agama, pembinaan iman, pembenahan idadah, pembinaan ekonomi, dan pendidikan. Masjid bukan hanya untuk ibadah saja.
Masjid itu di dalam hadis adalah baitut taqwa (rumah untuk mencetak diri agar bertakwa). Banyak jaminan Tuhan kepada orang yang hatinya terpaut ke masjid. Tapi, untuk melaksanakan agar orang hatinya tergantung ke masjid, jelas tidak gampang pada zaman globalisasi ini. Makanya kita sebagai pengurus, pembimbing, dan pemimpin umat Islam mesti yakin bahwa ayat-ayat langit ini masih sangat kita gunakan. Kita masih cinta kepada agama, kita cinta kepada Nabi kita menyembah hanya kepada Allah.

Bentuk kongkrit kegiatan yang dilakukan agar masjid benar-benar menjadi sentral pembinaan ekonomi umat seperti apa?

Ya misalnya dengan membuka BMT (baitul maal wat tamwil) di masjid-masjid, sehingga peredaran uang termasuk dari dana infak dan shadaqah setiap Jumat maupun dana zakat lainnya bisa digerakkan di BMT. Dengan adanya kegiatan BMT yang lebih besar lagi, para pedagang kecil yang ada di sekitar masjid bisa digerakkan. Kalau semangat ini sudah berjalan, bukan tidak mungkin ekonomi masyarakat akan bergerak. Dan, dampaknya kepada masjid sendiri. Ekonomi masyarakat yang bergerak akan mendorong mereka untuk berinfak atau berzakat ke masjid. Yang tidak kalah pentingnya, dalam manajemen modern, pengurus masjid seharusnya tidak memegang uang cash melainkan menyimpannya di bank-bank maupun lembaga keuangan lainnya. Begitu memerlukan dana, mereka tinggal mengambilnya melalui cek. Jadi, manajemennya sangat teratur.

Dalam pengamatan Anda, apakah peran masjid selama ini sudah optimal terutama di bidang ekonomi?

Masjid itu kan mestinya kita rencanakan programnya selama 52 minggu. Kalau kita bikin lima tahun, 260 kali. Kita mesti bagi-bagi. Di mana porsinya iman? Di mana porsinya ibadah? Selain itu, mana fungsinya shalat, mana fungsinya puasa, fungsinya zakat, fungsinya ibadah haji? Yang tidak boleh kita lupakan, doa kita kan mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat. Apa yang dunia? kaadal faqru an-yakuuna kufran (kemiskinan itu hampir menyebabkan kekafiran).
Oleh karena itu, manajemen masjid juga harus membahas masalah ekonomi. Masjid harus membuat ketrampilan sehingga ekonomi umat Islam terutama yang berada di sekitar masjid akan meningkat. Menjaga umat agar tak menjadi kafir dengan menghindarkan mereka dari kemiskinan, merupakan peran penting yang harus diambil para pengurus masjid.
Rasulullah SAW tidak hanya melakukan ibadah shalat di dalam masjid bahkan menerima diplomat pun di dalam masjid. Nabi menerima diplomat di masjid. Nabi menasehati orang di masjid. Jadi segala macam hal yang kita anggap dunia katakanlah ekonomi, dilakukan di dalam masjid. Bagaimana kita mau naik haji, kalau kita tidak punya duit? Ekonomi terkait dengan ibadah, bagaimana kita akan berpakaian dengan baik, kalau ekonomi kita tidak baik? Sudah tidak jamannya lagi umat Islam terus meminta-minta. Duit masjid harus disimpan di bank. Kalau mau digunakan pakai cek. Ini soal manajemen.

Ke depan menurut Anda, apa problem yang paling besar yang harus dibereskan dari masjid?

Manajemennya. Manajemen masjid secara modern. Bahwa di negara Barat, manajemen gereja diatur oleh mereka secara modern dengan beralatkan komputer, punya website, e-mail. Kita gunakan itu sebagai alat dakwah. Sehingga orang-orang yang menjelek-jelekan Islam kita bisa hadapi dengan sarana modern ini.

Jadi, kita membuat network antara masjid ini akrab. Dukung-mendukung, kita sebarkan khotbah-khotbah melalui e-mail, web site, perkembangan Islam teratur melalui teknologi modern. Kita gunakan juga masjid untuk mempersiapkan anak-anak kita menghadapi ujian akhir.

Ada kemungkinan ke depan DMI dibawa ke tingkat internasional?

Tentu saja. Justru pro aktif kita yang mendatangi mereka. Paling tidak kita akan menjalin dengan negeri jiran seperti Malaysia, Singapura, bahkan dengan Australia, Selandia Baru, dengan mengirim dai.

Tidak repot mengelola 700 ribu masjid?

Kita akan mengadakan otonomi daerah kepada masjid-masjid itu.

Bentuk konkritnya?

Kita di Indonesia ini semuanya terlampau tersentral, semua ada di pusat. Kasihan presiden. Semua peserta demonstrasi minta ketemu presiden. Jadi, negara ini pemimpinnya hanya presiden. Berarti menteri-menteri yang lain kerja apa? Jadi, seharusnya di daerah-daerah kepala daerahnya yang bertanggung jawab. Pengelolaan masjid juga begitu. Kita akan galakkan back to mosque (mari kita kembali ke masjid). Kita akan membina umat menjadi manusia yang bertakwa di masjid. Kita akan membina umat menjadi manusia yang berdaya secara ekonomi juga di masjid.

http://www.republika.co.id/berita/22760/Tarmizi_Taher_Masjid_Pusat_Pembinaan_Ekonomi_Umat





Posting Digabung: 28 Juli 2009, 21:20:54


Kreativitas Takmir Masjid Perlu Ditingkatkan

Responden sangat mendambakan masjid yang semarak oleh kegiatan-kegiatan non keagamaan.

Pada masa kenabian dulu, masjid menjalankan multi-fungsi. Masjid merupakan pusat kegiatan umat, termasuk sebagai pusat pemerintahan. Di masjid strategi perang dibicarakan, begitu juga simulasi ketangkasan prajurit sebelum maju ke medan perang.

Masjid menjadi tempat pelantikan para duta Islam. Masjid memiliki baitul maal , lembaga pengelola keuangan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya kaum dhuafa.

Masjid juga merupakan pusat kajian keagamaan dan berbagai masalah non keagamaan. Pendek kata, segala urusan sosial kemasyarakatan dikendalikan dari masjid.

Pada konteks kekinian, masjid masih banyak didirikan. Di Indonesia, dari data Departemen Agama tahun 2004, jumlah masjid sebanyak 643.834 buah, meningkat dari data tahun 1977 yang sebanyak 392.044 buah. Diperkirakan, jumlah masjid dan mushala di Indonesia saat ini antara 700 hingga 800 ribu buah.

Meski begitu, ada kecenderungan masjid masa kini justru jauh dari fungsi sejatinya. Melihat persoalan ini, survei yang diselenggarakan Litbang Republika secara khusus juga ingin mengetahui kegiatan apa saja yang ramai terselenggara di masjid, kesadaran umat terhadap fungsi masjid, dan penilaian atas arti penting peran takmir masjid.

Sebanyak 83,5 persen responden tidak sependapat jika masjid hanya digunakan sebagai tempat ibadah  makhdhoh saja. Bahkan sebanyak 84,2 persen memandang perlu dan bahkan sangat perlu masjid digunakan sebagai tempat kegiatan non-keagamaan (yang tentu saja berdimensi keagamaan).

Data ini memperkuat kebutuhan masjid untuk digunakan sebagai pusat pembinaan umat yang selama ini tampaknya masih jauh dari optimal. Dengan kata lain, masjid masih belum banyak dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan kegiatan non keagaamaan.

Juga tersirat dari sini, bahwa masjid sangat kurang memerhatikan kondisi sosial masyarakat sekitarnya serta segala kebutuhan material-spiritual mereka.

Dalam survei ini tidak terbukti jika tidak optimalnya fungsi masjid disebabkan kurangnya sarana yang dimiliki masjid. Sarana masjid memadai diakui sebanyak 62,4 persen responden, hanya 18,5 persen responden berpendapat fasilitas masjid kurang layak.

Ini berarti fasilitas masjid masih banyak yang sia-sia. Kendati masjid memiliki sarana memadai, aktivitas masjid kurang menarik dinyatakan sebanyak 81,4 persen responden. Ini mengindikasikan lemahnya manajemen takmir masjid dalam mengelola kegiatan.

Mengenai kemampuan dan kreativitas takmir masjid, sebanyak 53,2 persen responden mengakui takmir masjid memilikinya, namun sebanyak 46,8 persen berpendapat sebaliknya. Artinya adalah masih cukup banyak takmir masjid yang belum memiliki kemampuan dan kreativitas dalam hal ketakmiran.

Boleh jadi ini yang menjadi sebab masjid kurang menarik di mata jamaahnya. Bahkan takmir yang punya kemampuan dan kreativitas pun masih belum optimal menunjukkan kinerja ketakmiran yang baik, sebagaimana ditunjukkan dalam perbandingan kemampuan dan kreativitas takmir yang tak berbanding lurus dengan kegiatan masjid yang menarik (53,2 persen : 81,4 persen).

Dari sini, dapat disimpulkan bahwa pada umumnya masjid telah digunakan sebagai tempat ibadah  mahdhoh (shalat fardhu berjamaah dan shalat Jumat). Ini jelas masih jauh dari fungsi masjid yang sesungguhnya. Dan responden mengidamkan masjid yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah belaka, melainkan juga pusat kegiatan non keagamaan.

Jadi, fungsi masjid perlu dioptimalkan utamanya dalam menyelenggarakan kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan. Maka itu, takmir masjid perlu memiliki kemampuan manajemen ketakmiran, termasuk memiliki data jamaahnya dengan segala kebutuhan dan harapan mereka terhadap masjid.

Kurang optimumnya fungsi masjid dan rendahnya kinerja takmir masjid bukan disebabkan masjid tidak memiliki sarana/fasilitas yang layak dan memadai, melainkan lebih oleh rendahnya kemampuan dan kreativitas takmir dalam mengelola kegiatan.

Untuk itu, takmir masjid perlu memiliki kemampuan dan kreativitas yang mumpuni untuk diorientasikan bagi kemakmuan masjid dan kesejahteraan masyarakat sekitarnya. Ini menjadi tantangan bagi para takmir masjid untuk unjuk kreativitas dalam menampilkan agenda dan program kerjanya.

sumber:
http://www.republika.co.id/berita/59972/Kreativitas_Takmir_Masjid_Perlu_Ditingkatkan
« Edit Terakhir: 28 Juli 2009, 21:20:54 oleh ihsan »
Al-Qur'an Online+Tafsir+Asb-Nuzul
http://c.1asphost.com/sibin

KUPAS FENOMENA ALAM GHOIB
http://d.1asphost.com/assalamghoib/

Waspadai Ajaran Sesat & Antek2nya
http://myquran.org/forum/index.php/topic,28703.0

Offline ihsan

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.391
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • http://sibin2007.multiply.com
« Jawab #23 pada: 02 Agustus 2009, 16:34:32 »
Al-Qur'an Online+Tafsir+Asb-Nuzul
http://c.1asphost.com/sibin

KUPAS FENOMENA ALAM GHOIB
http://d.1asphost.com/assalamghoib/

Waspadai Ajaran Sesat & Antek2nya
http://myquran.org/forum/index.php/topic,28703.0

Offline ihsan

  • myQ Pejuang
  • *
  • Tgl Gabung: Apr 2006
  • Tulisan: 3.391
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • http://sibin2007.multiply.com
« Jawab #24 pada: 06 Agustus 2009, 23:41:37 »
Assalamu'alaikum
SEKEDAR INFO
Dewan Masjid Indonesia (DMI) - Bogor Barat
yang baru dibentuk sabtu kemaren tgl 01-Agustus 2009
di masjid At-Taqwa Cilendek bogor, dan blog baru dibuat

Alamat Blog:
http://dmibogorbarat.getforum.org/blog/

wordpress
http://dmibogorbarat.wordpress.com/

multiply
http://dmibogorbarat.multiply.com

Forum:
http://dmibogorbarat.getforum.org/board/

Mohon doa dan dukungannya semoga dapat menjalankan amanah untuk melaksanakan visi & misi DMI
terutama jamaah dari bogor barat ya  :dada:

Wassalam
« Edit Terakhir: 09 Agustus 2009, 11:07:11 oleh ihsan »
Al-Qur'an Online+Tafsir+Asb-Nuzul
http://c.1asphost.com/sibin

KUPAS FENOMENA ALAM GHOIB
http://d.1asphost.com/assalamghoib/

Waspadai Ajaran Sesat & Antek2nya
http://myquran.org/forum/index.php/topic,28703.0